POJOKSATU.id - Sejumlah guru mengaku terkejut setelah menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG).
Pasalnya, selisih pendapatan bersih antara golongan III dan golongan IV hanya sekitar Rp100 ribuan, jauh dari ekspektasi banyak guru yang mengira kenaikan golongan otomatis berdampak besar pada nominal tunjangan.
Fenomena ini memicu beragam reaksi, mulai dari kebingungan hingga penurunan motivasi.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kondisi tersebut memiliki penjelasan logis dan berlaku secara nasional.
Mengapa Kenaikan Golongan Tidak Selalu Naik Signifikan
Secara nominal, TPG yang diterima guru golongan IV memang lebih besar dibanding golongan III.
Namun, yang sering luput diperhatikan adalah jumlah bersih yang diterima setelah dipotong pajak.
Baca Juga: 50 Orang Masih Menunggu NIP, BKD Lobar Tetap Upayakan Pelantikan PPPK Paruh Waktu
Inilah titik krusial yang membuat selisih akhir terlihat sangat tipis.
Di lapangan, banyak guru melaporkan bahwa perbedaan take home pay TPG golongan III dan IV hanya berkisar Rp100 ribuan.
Angka ini memunculkan pertanyaan besar: ke mana selisih itu menghilang?
Fakta Selisih Pendapatan Bersih
Selisih tipis tersebut bukan kesalahan sistem maupun pemotongan sepihak.
TPG termasuk penghasilan kena pajak, sehingga setiap kenaikan golongan otomatis berpengaruh pada besaran pajak yang dikenakan.
Guru golongan IV masuk dalam lapisan pajak yang lebih tinggi dibanding golongan III.
Akibatnya, meski pendapatan kotor naik, potongan pajak juga meningkat, sehingga selisih bersih yang diterima tidak terlalu jauh.
Struktur Pajak Progresif yang Berlaku Nasional
Indonesia menerapkan sistem pajak progresif, di mana persentase pajak naik seiring bertambahnya penghasilan.
Dalam konteks TPG, guru golongan IV dapat dikenakan potongan hingga sekitar 16 persen, sementara golongan III berada di bawahnya.
Baca Juga: Menghadapi Sidang Skripsi, Ini Strategi agar Lulus dan Percaya Diri
Struktur ini berlaku nasional dan tidak ditentukan oleh daerah.
Artinya, guru di wilayah mana pun akan menghadapi skema potongan yang sama jika berada di golongan dan penghasilan yang setara.
Persepsi vs Realita Kenaikan Golongan
Banyak guru masih memandang kenaikan golongan semata-mata dari sisi nominal tunjangan.
Baca Juga: Menghadapi Sidang Skripsi, Ini Strategi agar Lulus dan Percaya Diri
Padahal, dalam realita keuangan, kenaikan penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan uang bersih yang diterima.
Persepsi inilah yang sering memicu kekecewaan.
Ketika realita tidak sesuai harapan, muncul anggapan bahwa naik golongan “tidak ada bedanya”, padahal manfaatnya tidak hanya berhenti pada TPG bulanan.
Dampak pada Motivasi Guru
Jika tidak dipahami dengan benar, selisih TPG yang tipis dapat memengaruhi motivasi.
Guru merasa usaha meningkatkan golongan tidak sepadan dengan hasil yang diterima secara langsung.
Namun, penting disadari bahwa golongan bukan hanya soal tunjangan saat ini.
Golongan berpengaruh pada jenjang karier, perhitungan pensiun, dan hak keuangan jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar dibanding selisih TPG bulanan.
Cara Memandang Golongan Secara Jangka Panjang
Guru perlu melihat kenaikan golongan sebagai investasi karier, bukan sekadar kenaikan tunjangan instan.
Dengan pemahaman ini, rasa kecewa dapat ditekan dan diganti dengan perspektif yang lebih rasional.
Baca Juga: Begini Prosedur Rujukan dari Puskesmas ke Psikolog agar Ditanggung BPJS
Mengelola ekspektasi, memahami struktur pajak, dan menyusun perencanaan keuangan menjadi kunci agar guru tetap tenang dan fokus pada profesionalisme.
Selisih TPG golongan III dan IV yang tipis bukan anomali, melainkan konsekuensi sistem pajak yang berlaku.
Dengan memahami mekanismenya, guru tidak perlu merasa dirugikan.
Kenaikan golongan tetap bernilai strategis dalam jangka panjang, meski dampaknya tidak selalu langsung terasa di slip TPG bulanan.***




