POJOKSATU.id — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menggagas pembelajaran melalui Kurikulum Cinta, sebuah konsep pendidikan yang dirancang untuk meningkatkan toleransi dan memperkuat solidaritas antarumat beragama.

Kurikulum ini diharapkan dapat diterapkan di lingkungan pendidikan guna menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis.

“Dalam kehidupan sosial, Kurikulum Cinta dapat diimplementasikan melalui berbagai gerakan dan program, seperti dialog lintas iman, kegiatan sosial bersama, dan kampanye perdamaian,” ujar Nasaruddin.

Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama telah memulai penyusunan kurikulum berbasis cinta ini.

Kurikulum tersebut dirancang untuk memperkuat praktik kerukunan umat beragama serta memperluas penerapannya dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Sosialisai Kurikulum Deep Learning Kemendikdasmen Sampaikan Bukan Kurikulum Baru!

Dimulai dari Bogor

Di Kota Bogor, penyusunan kurikulum ini melibatkan tokoh lintas agama, termasuk Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Selain itu, perwakilan dari berbagai Bimas di bawah Kementerian Agama, Badan Moderasi Beragama, serta akademisi dari Universitas Padjajaran dan Teras Kebhinekaan turut berpartisipasi dalam penyusunan kurikulum ini.

Kepala PKUB Adib Abdushomad menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan Menteri Agama yang menekankan pentingnya kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Menag juga menekankan pentingnya internasionalisasi praktik baik kerukunan umat beragama yang telah diterapkan di Indonesia,” kata Adib di Bogor, Selasa (25/2/2025).

Baca Juga: Benarkah Kurikulum Merdeka Gagal karena Terlalu Idealis dan Terburu-Buru? Bagaimana Kenyataannya di Sekolah?

Proses finalisasi Kurikulum Cinta dibahas dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari.

Selain merumuskan kurikulum, PKUB juga meluncurkan platform sindikasi media kerukunan yang bertujuan untuk mempromosikan praktik baik kerukunan umat beragama di tingkat internasional.

Pembahasan dalam kegiatan tersebut juga mencakup konsep ekoteologi, yang diwujudkan melalui aksi nyata seperti penanaman pohon di rumah ibadah sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan.

Baca Juga: Kumpulan SOAL LENGKAP PAI Kelas 6 SD Semua Kurikulum, DOWNLOAD File PDF Materi Lengkap, Insya Allah Ujian Lancar

Selain itu, strategi peningkatan indeks kerukunan umat beragama turut menjadi fokus utama pembahasan.

Menurut Adib Abdushomad, target utama PKUB pada tahun 2025 adalah meningkatkan indeks kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Hari ini kita meluncurkan platform sindikasi media kerukunan yang akan menjadi sarana informatif sekaligus upaya internasionalisasi praktik baik kerukunan umat beragama di Indonesia.

Dengan adanya platform ini, negara-negara lain dapat belajar dari Indonesia dan menjadikan kita sebagai pionir dalam membangun harmoni antarumat beragama, sebagaimana arahan Bapak Menteri Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA,” ujar Adib.

Mengenal Kurikulum Cinta

Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta merupakan seperangkat sistem dan landasan hidup bersama dalam keberagaman guna membangun kerukunan umat beragama.

Ia menegaskan bahwa cinta merupakan inti dari segala tindakan kebaikan.

“Kurikulum Cinta adalah konsep yang menekankan pendidikan berbasis kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai ini harus menjadi bagian utama dalam sistem pendidikan kita, baik di lembaga formal maupun lingkungan sosial dan keluarga, termasuk kehidupan di pondok pesantren (ponpes),” jelas Nasaruddin.

Baca Juga: Januari 2025, Sekolah Semua Jenjang Terapkan DEEP LEARNING, DOWNLOAD di Sini Petunjuk dan Paparan PEMBELAJARAN MENDALAM Kemendikdasmen

Ia menekankan bahwa pendidikan agama seharusnya tidak hanya bersifat ritual-formalistik, tetapi juga harus menanamkan jiwa moderasi dan penghormatan terhadap keberagaman.

“Sudah banyak sekolah berbasis agama, madrasah, dan pesantren yang mulai mengajarkan toleransi dan harmoni dalam kehidupan berbangsa. Ini adalah langkah maju yang harus terus kita dorong dan perkuat,” tambahnya.

Tujuan Kurikulum Cinta

Nasaruddin menyoroti pentingnya pendidikan agama yang tidak hanya mengajarkan keyakinan sendiri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi.

Ia mencontohkan bahwa ajaran yang menanamkan kebencian terhadap agama lain dapat menjadi sumber konflik di masa depan.

“Jadi ada teologi kebencian dengan agama lain. Bayangkan kalau anak-anak kecil semuanya dibekali pemahaman agama yang sama, penanaman kebencian satu sama lain. Bagaimana nasib Indonesia yang bhinneka (tunggal ika) ini?” ujar Nasaruddin.

Oleh karena itu, Kurikulum Cinta bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan toleransi sejak dini. Ia menekankan bahwa keberagaman tidak boleh menjadi alasan munculnya kebencian antaragama.

Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan DEEP LEARNING BUKAN KURIKULUM, Nasib Kurikulum Merdeka Ditentukan Juli 2025, Menag Juga Ingin BERUBAH

“Bagaimana mengajarkan agama, tapi tidak mengajarkan kebencian kepada orang beragama lain. Tapi juga, jangan sampai menyamakan semua agama, itu juga sama-sama salahnya. Tetaplah, agama mereka, ya agama mereka, agama kita, ya agama kita,” jelasnya.

Manfaat Kurikulum Cinta

Menurut Nasaruddin, Kurikulum Cinta diharapkan dapat membangun rasa cinta kepada sesama warga negara meskipun memiliki perbedaan keyakinan.

“Boleh kan kita berbeda agama, tapi tetap saling mencintai sesama warga negara. Nah, inilah yang akan kita perkenalkan dengan istilah Kurikulum Cinta, bukan kurikulum perbedaan atau konflik,” ujarnya.

Baca Juga: Perbedaan Deep Learning dengan Kurikulum Merdeka, Ada 3 Elemen Utama Mindfull, Meaningfull, dan Joyfull, Abdul Mu'ti: Tidak Perlu Dinamai Merdeka

Selain itu, Kurikulum Cinta juga bertujuan untuk mengikis relasi kuasa yang timpang dalam masyarakat, khususnya dalam konteks kesetaraan gender.

“Jadi sekarang, sekaligus kita menyusun kurikulum mana yang (tidak) akan memojokkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki, (karena) kita sama-sama khalifah.

Maka dari itu, perbedaan ini dalam Kurikulum Cinta harus dihilangkan, karena itu nanti akan melahirkan relasi kuasa yang timpang. Makin kuasa seorang laki-laki dalam masyarakat, maka gampang terjadi pelecehan terhadap perempuan,” tutup Nasaruddin. ***