POJOKSATU.id – Bayangkan sebuah sekolah yang tidak meminta muridnya memakai seragam, tidak menuntut guru berdiri di depan kelas, dan tidak pernah mengumumkan jadwal mata pelajaran.
Di Nitiprayan, Yogyakarta, sekolah semacam itu nyata adanya. Namanya Sanggar Anak Alam, atau lebih akrab disebut SALAM.
Di sekolah ini, seorang anak bisa memilih meneliti tanaman herbal, kopi, atau bahkan tari salsa.
Seorang fasilitator hanya akan mendampingi, bukan mengatur.
Baca Juga: Tidak Perlu Kursus, Belajar Bahasa Asing Otodidak di Rumah juga Bisa kok, Ini Trik dan Kuncinya
Tidak ada perintah untuk membuka halaman tertentu atau menyalin catatan.
Semua pengetahuan lahir dari pilihan anak itu sendiri.
SALAM berdiri tahun 2000, diprakarsai Sri Wahyaningsih, yang akrab disapa Wahya.
Filosofi yang ia tanamkan sederhana tapi radikal, pendidikan seharusnya membuat anak merdeka, bukan menjadi mesin hafalan.
Baca Juga: Ubah Ponsel Android Lama Jadi CCTV Rumah, Begini Caranya
Karena itu, kurikulum di SALAM berbasis riset. Dari satu tema kecil, pengetahuan tumbuh bercabang.
Anak yang meneliti obat herbal, misalnya, akan belajar botani, kesehatan, bahkan ekonomi industri obat-obatan.
Dalam cara pandang Wahya, sekolah formal sering kali menjebak anak dalam kotak-kotak sempit.
Mata pelajaran diperlakukan seperti pagar yang membatasi insting eksplorasi.
Anak-anak dijejali materi yang kadang tidak relevan dengan usia dan pengalaman mereka.
“Anak SD belajar prosedur bikin KTP atau tugas MPR-DPR, itu untuk apa?” ujarnya dalam suatu kesempatan.
Pengalaman Wahya bersama Romo Mangun di bantaran Kali Code membuatnya sadar bahwa pendidikan harus berpijak pada kehidupan sehari-hari.
Anak tidak boleh tercerabut dari akarnya, dari sawah, dari hutan, dari lingkungan tempat ia hidup.
“Sekolah formal malah mencabut anak dari tanahnya sendiri,” kata Wahya.
Filosofi ini jadi napas SALAM, pengetahuan harus dekat dengan tubuh, dengan alam, dengan yang sehari-hari disentuh.
Sejak berdiri, SALAM berkembang perlahan, dari kelas remaja sore hari, lalu PAUD (2004), Taman Anak (2006), SD (2008), SMP (2011), hingga SMA (2017).
Status hukumnya sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) memang non-formal, tetapi itu tidak mengurangi substansi pendidikan yang mereka jalankan.
Untuk legalitas, siswa SALAM tetap ikut ujian paket, tetapi dengan cara khas mereka, mengevaluasi soal-soal ujian itu sendiri.
Baca Juga: LCU UNJ, Lembaga Bahasa dengan Kursus hingga Tes Sertifikasi Internasional
Di sini, guru digantikan oleh tiga fasilitator di tiap kelas. Mereka bukan penguasa, melainkan teman belajar.
Anak-anak belajar dengan tempo berbeda, dan tidak dihakimi lewat angka.
Evaluasi ditulis naratif, menyoroti perkembangan, bukan ranking.
Pengetahuan tidak diperlakukan sebagai kompetisi, melainkan perjalanan pribadi.
Ada empat pilar yang wajib hadir di SALAM yakni pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial-budaya.
Empat hal inilah yang menopang kehidupan sehari-hari.
Dengan berpegang pada pilar itu, riset anak-anak tidak kehilangan arah, meski berangkat dari minat pribadi.
Di luar itu, SALAM juga membuka ruang ekonomi kecil bagi siswanya.
Melalui Pasar Legi dan Pasar Ekspresi, mereka menjual produk hasil riset seperti shampo organik, makanan sehat, hingga kerajinan tangan.
Baca Juga: Workshop Keren The Creative Catalyst di PIDI 4.0: Asosiasi.AI Dorong Literasi Digital Lewat AI
Pengetahuan, dengan demikian, langsung berhubungan dengan kemandirian hidup.
Filosofi SALAM jelas menentang penyeragaman pendidikan. Wahya percaya, penyeragaman justru membunuh potensi anak.
“Pemerintah seharusnya hanya memberi blueprint, selebihnya biarkan sekolah menentukan jalan sesuai visinya,” tegasnya.
Kini, SALAM bukan satu-satunya. Sekolah-sekolah alternatif mulai bermunculan di Yogyakarta dan daerah lain.
Baca Juga: Ada Apa di Balik Sekolah Rakyat? Mensos Minta Pengawasan Ketat di Sumatera Utara!
Tahun 2016, para penggeraknya bahkan berkumpul untuk membentuk Jaringan Pendidikan Alternatif. Dari Yogyakarta, ide ini menular ke banyak tempat lain.
Mungkin SALAM hanyalah satu titik kecil di tengah sistem pendidikan nasional.
Tetapi titik kecil ini memberi peringatan penting: anak-anak bukan batu bata yang bisa dicetak seragam.
Mereka adalah individu dengan jalan masing-masing.
Dan jika sekolah mau jujur, tugas pendidik bukan mengekang, melainkan menyalakan rasa ingin tahu.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
SALAM menunjukkan bahwa pendidikan bisa lebih manusiawi, lebih membebaskan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bahwa sekolah bisa menjadi ruang untuk merayakan keberagaman cara belajar, bukan sekadar pabrik ijazah.
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Sanggar Anak Alam: pengetahuan sejati tumbuh dari kebebasan.***



