POJOKSATU.id - Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan fasilitas gedung dan jumlah tenaga pengajar untuk program Sekolah Rakyat terus bertambah.
Langkah ini dilakukan demi memperkuat kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera agar memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkelanjutan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa pemerintah saat ini masih memetakan kebutuhan tambahan guru di sejumlah daerah.
Proses tersebut dilakukan bersama Badan Kepegawaian Negara serta kementerian terkait.
“Kami masih membahas kebutuhan guru bersama BKN, karena di beberapa titik memang masih terdapat kekurangan tenaga pengajar,” ujar Saifullah saat menghadiri acara buka puasa bersama guru dan siswa Sekolah Rakyat di ICE BSD.
Baca Juga: Iran Serang Kompleks Pemerintahan Israel di Tel Aviv Pakai Rudal Balistik Kheibar
Rekrutmen Guru Lewat Seleksi Ketat
Gus Ipul menegaskan, seluruh guru Sekolah Rakyat direkrut melalui proses seleksi ketat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama BKN, dengan pendampingan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Para tenaga pendidik tersebut merupakan guru bersertifikat yang telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sebagian besar guru berusia di bawah 30 tahun dan dinilai memiliki kemampuan mengajar yang memadai.
“Rata-rata guru masih muda dan sudah menjalani masa adaptasi selama enam bulan terakhir,” jelasnya.
Baca Juga: Tarif Listrik Dinormalisasi, Jadi Penyebab Utama Inflasi 2026? Ini Penjelasannya
Bangun 104 Gedung Permanen
Dari sisi infrastruktur, pemerintah tengah membangun gedung permanen Sekolah Rakyat di 104 lokasi. Setiap lokasi dirancang mampu menampung hingga 1.000 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Selama masa rintisan, kegiatan belajar masih memanfaatkan fasilitas milik Kemensos, Kementerian Ketenagakerjaan, balai pendidikan, serta gedung pemerintah daerah.
Ke depan, setelah pembangunan rampung, siswa akan dipindahkan ke gedung baru yang dilengkapi asrama siswa dan guru, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, aula, hingga sarana penunjang kegiatan ekstrakurikuler.
Baca Juga: Cerita Nabi dan Rasul Pendek untuk Dongeng Sebelum Tidur di Bulan Puasa
Fokus untuk Anak dari Desil Satu dan Dua
Gus Ipul menjelaskan, peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil satu dan dua, yakni kelompok miskin dan miskin ekstrem.
Program ini menjadi bentuk intervensi negara untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto. Sekolah ini dirancang sebagai boarding school dengan pendekatan pendidikan akademik dan pelatihan karakter.
Baca Juga: Viral Ibu-ibu Tagih Utang Rp250 Juta di Rumah Duka, Sampai Minta Pemakaman Ditunda Sebelum Dibayar
Dalam proses penerimaan siswa, tidak diterapkan tes akademik. Seleksi dilakukan berdasarkan persyaratan administratif, mengingat sebagian peserta didik sebelumnya sempat putus sekolah.
Meski begitu, Mensos mengaku optimistis melihat perkembangan para siswa. “Saya gembira melihat anak-anak semakin percaya diri dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik,” tutupnya. ***




