POJOKSATU.id - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memiliki perjalanan panjang yang tidak terpisahkan dari sejarah pendidikan nasional di Indonesia.
Kampus ini lahir dari kebutuhan besar bangsa terhadap tenaga guru yang berkualitas.
Hingga kini, Unesa telah menghasilkan puluhan ribu lulusan.
Dengan pengalaman tersebut, kampus ini terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, mempersiapkan lulusan yang kompetitif, serta memiliki jiwa kewirausahaan.
Baca Juga: ASN Ngawi Siap-Siap! THR 2026 Rp48 Miliar OTW Cair! Tinggal Tunggu Juknis PP Nomor 9 Tahun 2026
Perjalanan Unesa sendiri berakar dari lembaga pendidikan guru yang berkembang sejak awal tahun 1950-an.
Pada masa itu, Surabaya menjadi salah satu pusat penyelenggaraan kursus B-I dan B-II yang bertujuan menyiapkan guru untuk tingkat sekolah menengah.
Kursus-kursus tersebut memanfaatkan fasilitas pendidikan peninggalan Belanda, seperti ruang kelas dan laboratorium milik Hoogere Burger School (HBS).
Berbagai bidang studi diajarkan dalam program tersebut, mulai dari kimia, ilmu pasti, bahasa Inggris, bahasa Jerman, teknik, pendidikan jasmani, hingga ekonomi dan perniagaan.
Baca Juga: Meski Keuangan Daerah Tertekan, Pemkab Siak Pastikan TPP dan THR ASN Tetap Dibayar
Pada tahun 1957, kursus B-I kemudian dibagi menjadi dua kelompok.
Pertama adalah kursus B-I umum yang mencakup bahasa Inggris dan bahasa Jerman.
Kedua adalah kursus B-I kejuruan yang meliputi berbagai bidang seperti kimia, teknik, ekonomi, hingga pendidikan jasmani.
Program kursus ini berjalan hingga tahun 1960. Namun pemerintah kemudian melakukan perubahan besar dalam sistem pendidikan guru untuk menghilangkan perbedaan antara lulusan kursus yang tidak bergelar dengan lulusan perguruan tinggi yang memiliki gelar akademik.
Melalui Ketetapan MPRS Nomor 11 Tahun 1960, kursus B-I dan B-II diintegrasikan ke dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Integrasi ini menjadikan FKIP sebagai lembaga yang bertanggung jawab mencetak guru sekolah lanjutan.
Selanjutnya pada tahun 1961, FKIP tersebut menjadi bagian dari Universitas Airlangga Cabang Malang dan dikenal sebagai FKIP Universitas Airlangga Cabang Surabaya.
Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1963 ketika pemerintah mendirikan Institut Pendidikan Guru (IPG).
Namun kehadiran IPG kembali memunculkan dualisme dalam sistem pendidikan guru.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1963 yang mengintegrasikan FKIP dan IPG menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
Dari kebijakan ini lahirlah IKIP Malang sebagai pusat, dengan beberapa cabang termasuk Surabaya.
FKIP Universitas Airlangga Cabang Surabaya kemudian berubah menjadi IKIP Malang Cabang Surabaya.
Baca Juga: Top Tools to See Who Someone Recently Followed on Instagram (2026 Guide)
Status tersebut berlangsung hingga akhir tahun 1964. Kemudian melalui Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 182 Tahun 1964, IKIP Surabaya resmi berdiri sebagai lembaga mandiri.
Peresmian IKIP Surabaya dilaksanakan pada 19 Desember 1964 di Jalan Kayoon Surabaya.
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari kelahiran atau dies natalis IKIP Surabaya.
Pada awal berdirinya, IKIP Surabaya memiliki lima fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan Sastra Seni, Fakultas Keguruan Ilmu Eksakta, dan Fakultas Keguruan Ilmu Teknik.
Perkembangan kampus terus berlanjut. Pada tahun 1977, Sekolah Tinggi Olahraga (STO) bergabung dengan IKIP Surabaya dan menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan.
Selanjutnya terjadi penyesuaian nama fakultas sesuai dengan perkembangan sistem pendidikan.
Beberapa di antaranya menjadi Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, serta Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan.
Perubahan besar terjadi pada 4 Agustus 1999 ketika IKIP Surabaya resmi bertransformasi menjadi Universitas Negeri Surabaya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 1999.
Baca Juga: Sosok Besbarini di Balik Perjalanan Vidi Aldiano, Ibu yang Setia Menguatkan hingga Akhir
Setelah menjadi universitas, Unesa tetap menjalankan misi ganda sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan program kependidikan dan nonkependidikan.
Kampus ini tetap berperan sebagai penghasil tenaga pendidik untuk berbagai jenjang pendidikan.
Seiring waktu, Unesa terus berkembang dengan membuka berbagai fakultas baru. Pada tahun 2006, misalnya, kampus ini menambah Fakultas Ekonomi.
Belakangan, Unesa juga membuka Fakultas Vokasi serta Fakultas Kedokteran.
Selain itu, Fakultas Ilmu Keolahragaan mengalami perubahan nama menjadi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan.
Saat ini Universitas Negeri Surabaya memiliki sembilan fakultas dengan berbagai program studi dari jenjang diploma, sarjana, hingga pascasarjana.
Perjalanan panjang dari kursus keguruan sederhana hingga menjadi universitas besar menunjukkan bagaimana Unesa terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Dengan semangat itu, kampus ini berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.***




