POJOKSATU.id - Universitas Negeri Manado (UNIMA) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri di Sulawesi Utara yang memiliki perjalanan sejarah panjang sebelum resmi berdiri sebagai universitas.

Sebelumnya, UNIMA dikenal sebagai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Manado.

Jejak awalnya bahkan dapat ditelusuri hingga berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Tondano pada tahun 1955.

PTPG Tondano merupakan salah satu dari empat PTPG pertama yang didirikan di Indonesia, bersama PTPG Batusangkar, PTPG Malang, dan PTPG Bandung.

Baca Juga: Universitas Tadulako di Palu resmi menjadi perguruan tinggi negeri pada 14 Agustus 1981 setelah melalui perjalanan panjang sejak 1963.

Pendirian lembaga tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 2450/KB/1955 tertanggal 22 September 1955.

Pada masa awal berdirinya, PTPG Tondano dipimpin oleh Prof. Mr. G. M. A. Inkiriwang yang menjabat sebagai dekan pertama pada periode 1955–1956.

Dalam perkembangannya, lembaga ini mengalami beberapa perubahan status dan nama. Pada tahun 1956, PTPG Tondano berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Hasanuddin Makassar.

Kepemimpinan masih dipegang oleh Prof. Mr. G. M. A. Inkiriwang hingga tahun 1958.

Baca Juga: Resep Bubur Candil Ubi Rambat yang Legit dan Hangat, Takjil Favorit Saat Berbuka Puasa

Selanjutnya pada periode 1958–1961, FKIP Unhas di Manado dipimpin oleh Prof. Drs. W. F. J. B. Tooy.

Pada masa kepemimpinannya, terjadi perubahan nama lembaga menjadi Universitas Sulawesi Utara dan Tengah (Unsuluteng) Manado pada tahun 1961.

Perubahan kembali terjadi pada tahun 1963 ketika lembaga tersebut menjadi IKIP Manado Cabang Yogyakarta.

Dalam masa ini, Prof. Drs. W. F. J. B. Tooy menjabat sebagai Dekan Koordinator IKIP Yogyakarta hingga tahun 1965.

Tahun 1965 menjadi momentum penting karena IKIP Manado mulai berdiri secara mandiri.

Baca Juga: Khutbah Jumat di Masjid Raya Darussalam Palangka Raya, HM Yusi Abdhian Ajak Umat Perbanyak Sedekah di Bulan Ramadan

Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 38 tanggal 8 Maret 1965 serta Keputusan Presiden Nomor 275 Tahun 1965 tertanggal 14 September 1965 yang menetapkan IKIP Manado berkedudukan di Manado.

Pada masa awal berdirinya, Brigadir Jenderal Soenandar Priyosoedarmo ditunjuk sebagai Ketua Konsorsium pada periode 1965–1966. Setelah itu, Prof. Drs. W. F. J. B. Tooy kembali dipercaya memimpin sebagai Rektor IKIP Manado hingga tahun 1970.

Periode berikutnya sempat dipimpin oleh pejabat sementara E. Hampp, MA pada 1970–1971 dan dilanjutkan oleh Prof. Mr. G. M. A. Inkiriwang pada 1971–1973.

Pada tahun 1973 hingga 1982, IKIP Manado dipimpin oleh Prof. Drs. E. A. Worang sebagai rektor.

Baca Juga: Sering Pusing Saat Bangun Tidur? Ternyata Ini 15 Penyebabnya, dari Dehidrasi hingga Gangguan Tidur

Pada masa ini, beberapa dosen mulai dikirim untuk melanjutkan studi doktor di IKIP Bandung dan IKIP Malang guna meningkatkan kualitas akademik.

Perkembangan penting lainnya terjadi pada tahun 1980 ketika IKIP Manado membuka cabang di Gorontalo.

Cabang tersebut kemudian berkembang menjadi IKIP Gorontalo yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Gorontalo.

Memasuki tahun 1983, IKIP Manado yang dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. A. E. Sinolungan pindah ke kampus baru di Tonsaru, Tondano dengan luas lahan sekitar 300 hektare.

Baca Juga: Jokowi Turun Langsung Bagikan Sembako dan Uang Tunai ke Ratusan Tukang Becak di Solo Jelang Lebaran

Kampus lama di Kleak kemudian diserahkan kepada Universitas Sam Ratulangi.

Pengembangan kampus di Tondano kemudian dilanjutkan oleh para rektor berikutnya, yakni Prof. Dr. Max Wullur dan Prof. Dr. J. Turang.

Perubahan besar terjadi pada 13 September 2000 ketika IKIP Manado resmi dikonversi menjadi Universitas Negeri Manado berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 127 Tahun 2000.

Peresmian UNIMA dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Yahya Muhaimin, pada 14 Oktober 2000.

Baca Juga: Masjid Pusaka Banua Lawas, Masjid Tertua di Tabalong yang Menjadi Jejak Awal Islam di Tanah Dayak Maanyan

Saat itu UNIMA memiliki enam fakultas dan memperoleh perluasan mandat untuk menyelenggarakan program kependidikan maupun nonkependidikan.

Sejak tahun 2008, UNIMA dipimpin oleh Prof. Dr. Ph. E. A. Tuerah sebagai rektor untuk dua periode, yakni 2008–2012 dan 2012–2016.

Pada masa ini, UNIMA melakukan berbagai modernisasi dengan membangun sistem berbasis teknologi informasi untuk mendukung pengembangan kampus.

Pada September 2016, kepemimpinan UNIMA beralih kepada Prof. Dr. Julyeta P. A. Runtuwene yang mengusung visi menjadikan UNIMA sebagai universitas yang berkarakter, inovatif, dan unggul kompetitif.

Baca Juga: Unhas dan BPOM Bangun Sinergi Hilirisasi Riset Kampus, Dorong Produk Kesehatan Berbasis Inovasi

Kemudian pada September 2020, kepemimpinan dilanjutkan oleh Prof. Dr. Deitje Adolfien Katuuk dengan visi “UNIMA Unggul dan Inovatif berdasarkan Mapalus”.

Memasuki tahun 2025, Universitas Negeri Manado yang telah berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dipimpin oleh Dr. Joseph Philip Kambey.

Ia mengusung visi menjadikan UNIMA sebagai universitas yang unggul, mandiri, kompetitif, dan entrepreneurial.

Baca Juga: Sejarah Universitas Nusa Cendana, Kampus Negeri di Kupang yang Lahir dari Cita-cita Besar Masyarakat NTT

Perjalanan panjang Universitas Negeri Manado menunjukkan bagaimana sebuah lembaga pendidikan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Dari PTPG Tondano hingga menjadi universitas negeri modern, UNIMA tetap memegang peran penting dalam mencetak generasi berpendidikan dan berdaya saing di Indonesia timur.***