POJOKSATU.ID - Gerakan kepanduan yang kita kenal sekarang berawal dari pemikiran seorang perwira militer Inggris, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, atau yang lebih dikenal sebagai BP.
Lahir pada 22 Februari 1857, pengalaman militernya di India dan Afrika menjadi dasar ide-idenya.
Pengalaman terpentingnya terjadi saat Perang Boer di Mafeking, Afrika Selatan.
Pengalaman bertahan hidup di medan perang ia tuangkan dalam buku "Aids to Scouting" yang awalnya ditujukan untuk tentara. Namun, buku ini justru menarik perhatian anak-anak muda.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bapak Pandu Indonesia, Tokoh Gerakan Pramuka
Untuk menguji bukunya, pada tahun 1907, Baden-Powell mengadakan perkemahan di Pulau Brownsea bersama 21 pemuda.
Dari perkemahan ini, lahirlah buku "Scouting for Boys" pada tahun 1908, yang menjadi panduan resmi gerakan kepanduan.
Gerakan ini terus berkembang. Organisasi Boy Scout berdiri untuk anak laki-laki, diikuti oleh Girl Guides untuk anak perempuan atas bantuan adik dan istrinya.
Baden-Powell juga membentuk kelompok untuk usia siaga (Cub) dan penegak (Rover Scout).
Baca Juga: Peringatan HUT Pramuka, Momentum Bentuk Generasi Tangguh Berkarakter
Pada Jambore Dunia pertama di London tahun 1920, Baden-Powell diangkat sebagai Chief Scout of The World atau Bapak Pandu Sedunia.
Gelar ini menjadi pengakuan atas dedikasinya yang tak kenal lelah dalam membentuk karakter pemuda di seluruh dunia melalui nilai-nilai kepanduan.
Kisah kepanduan dunia yang dirintis oleh Lord Baden-Powell ini menjadi inspirasi besar bagi Gerakan Pramuka di Indonesia.
Meskipun lahir dengan nama dan sejarah yang berbeda, semangat "Praja Muda Karana" yang menjadi filosofi Pramuka Indonesia memiliki akar yang sama dengan nilai-nilai yang ditanamkan Baden-Powell, seperti kemandirian, kedisiplinan, dan cinta alam.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:




