POJOKSATU.id - Berdirinya Politeknik Negeri Bandung atau Polban tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pendidikan teknik di Indonesia.

Jauh sebelum nama Polban dikenal seperti sekarang, pendidikan teknik sudah lebih dulu tumbuh sejak masa kolonial Belanda melalui Ambacht School, Middelbare Technische School (MTS), hingga Technische Hoge School yang melahirkan para insinyur.

Setelah Indonesia merdeka, sistem pendidikan teknik berkembang menjadi Sekolah Teknik Pertama, Sekolah Teknik Menengah, dan Perguruan Tinggi Teknik.

Namun situasi berubah drastis ketika terjadi eksodus besar-besaran insinyur Belanda pada tahun 1951.

Baca Juga: Jejak Universitas Kapuas, dari STIK hingga Menjadi Kampus Mandiri di Bumi Sintang

Indonesia pun mengalami kekurangan tenaga teknik tingkat tinggi, terutama di lapangan.

Kondisi ini memaksa Departemen Pekerjaan Umum saat itu mengandalkan lulusan MTS yang berpengalaman, tetapi dinilai belum cukup memadai.

Dari sinilah muncul gagasan untuk membentuk lembaga pendidikan teknik yang mampu mencetak lulusan dengan kemampuan mendekati insinyur, namun dengan masa studi yang lebih singkat.

Pada tahun 1951, berdirilah Lembaga Akademi Pendidikan Teknik (LAPT) di Bandung.

Lembaga ini kemudian berganti nama menjadi Akademi Teknik Pekerjaan Umum dan Tenaga (ATPUT) dengan masa studi tiga tahun.

Baca Juga: Viral! Dua Pekerja Proyek Nyaris Adu Jotos Akibat Bercanda Soal Nasi

ATPUT menjadi jawaban atas kebutuhan tenaga subprofesional yang mampu menjembatani kesenjangan antara lulusan STM dan insinyur perguruan tinggi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat kala itu justru memperlebar jarak antara lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah teknik.

Di sinilah peran ATPUT semakin relevan karena lulusannya dinilai mampu mengisi celah tersebut.

Namun, karena aturan yang tidak memperbolehkan sebuah departemen menyelenggarakan lembaga pendidikan, sejak tahun 1972 ATPUT dikelola oleh Institut Teknologi Bandung bekerja sama dengan PU.

Namanya pun berubah menjadi Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum – Institut Teknologi Bandung (LPPU-ITB).

Menariknya, LPPU-ITB menjadi lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang menggunakan istilah “Politeknik”.

Empat tahun berselang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendirikan Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB) yang fokus pada teknologi pekerjaan logam dan pengecoran.

Kurikulumnya disusun langsung sesuai kebutuhan industri. Keberhasilan PMS-ITB inilah yang kemudian dianggap sebagai cikal bakal pendidikan politeknik di Indonesia.

Melihat besarnya kebutuhan tenaga subprofesional, pemerintah akhirnya meresmikan pendidikan politeknik secara nasional pada tahun 1979.

Puncaknya, pada 4 Oktober 1985, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meresmikan enam politeknik negeri, salah satunya Politeknik ITB Bandung.

Politeknik ITB mulai beroperasi pada tahun akademik 1982/1983 dengan empat program studi dari tiga jurusan, yakni Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro.

Seiring meningkatnya kebutuhan industri, jurusan Tata Niaga dibuka pada 1986/1987, disusul pembukaan berbagai program studi baru di bidang teknik, bisnis, hingga komputer.

Transformasi besar terjadi pada tahun 1997 ketika Politeknik ITB resmi berpisah dari ITB dan berdiri mandiri sebagai Politeknik Negeri Bandung atau Polban.

Sejak saat itu, Polban terus berkembang pesat dengan membuka berbagai program diploma, sarjana terapan, hingga magister terapan.

Memasuki era globalisasi, Polban tak tinggal diam.

Program pendidikan disesuaikan agar mampu menghasilkan lulusan yang siap mengubah hasil riset menjadi produk nyata bagi masyarakat.

Program D-4 atau sarjana terapan pun mulai dikembangkan sejak tahun 2002 dan terus bertambah hingga kini.

Bahkan, Polban juga dipercaya menyelenggarakan program studi di luar domisili serta membuka program magister terapan sebagai amanat Undang-Undang Pendidikan Tinggi.

Hingga saat ini, Polban menyelenggarakan puluhan program studi dari jenjang D-3, D-4, hingga magister terapan.

Perjalanan panjang Politeknik Negeri Bandung adalah cermin dari upaya bangsa ini membangun pendidikan vokasi yang relevan, adaptif, dan berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat.

Dari krisis insinyur hingga menjadi institusi vokasi unggulan, Polban terus melangkah, membuktikan bahwa pendidikan terapan punya peran besar dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.***