POJOKSATU.id - Keinginan masyarakat Kota Solo untuk memiliki universitas negeri telah tumbuh sejak awal dekade 1950-an.

Pada masa itu, semangat membangun pendidikan tinggi negeri menjadi harapan banyak daerah di Indonesia.

Beberapa kota besar telah lebih dulu memiliki perguruan tinggi negeri. Sementara itu, Kota Solo masih menghadapi dampak pascaperang yang cukup berat.

Situasi politik nasional belum sepenuhnya stabil. Proses konsolidasi pemerintahan daerah juga masih berlangsung.

Baca Juga: Perpusnas Buka Pendaftaran Pelatihan Promosi Perpustakaan Berbasis Digital 2026

Kondisi ekonomi masyarakat belum pulih sepenuhnya. Hal ini membuat pendirian universitas negeri di Solo menghadapi tantangan besar.

Meski demikian, semangat masyarakat tidak pernah benar-benar padam. Upaya pertama mulai terlihat pada tahun 1953.

Saat itu dibentuk panitia pendirian universitas negeri di Kota Solo yang diketuai Wali Kota Solo kala itu, Mohammad Saleh.

Pembentukan panitia ini menjadi tonggak awal perjuangan pendidikan tinggi di Solo.

Baca Juga: Dari UNITA ke UNEJ: Jejak Panjang Universitas Jember, Inisiasi 3 Tokoh Lokal Jadi Kampus Pertanian Berkelas Dunia

Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil nyata. Keterbatasan pendanaan menjadi kendala utama.

Selain itu, muncul inisiatif pendirian universitas swasta secara terpisah. Dukungan dari beberapa pihak di Universitas Gadjah Mada juga belum optimal.

Situasi politik nasional yang belum kondusif turut memperberat langkah.

Upaya pendirian universitas negeri kembali muncul satu dekade kemudian.

Pada tahun 1963, berdirilah Universitas Kota Praja Surakarta atau UPKS yang dibentuk atas inisiatif pemerintah daerah.

Saat itu pemerintahan daerah dipimpin oleh Utomo Ramelan.

UPKS diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan pendidikan tinggi negeri. Namun, situasi politik nasional kembali memberi dampak besar.

Pada masa itu, pengaruh sosialisme berkembang cukup kuat. UPKS pun menjadi ruang berkembangnya ilmu-ilmu berhaluan sosialisme.

Baca Juga: Di Tengah Isu Makan Gratis Dari Dana Pendidikan, Benarkah Nasib Guru Benar-Benar Aman?

Peristiwa G30S menjadi titik balik penting. Setelah peristiwa tersebut, UPKS tidak dapat melanjutkan operasionalnya.

Akhirnya, universitas itu berhenti beroperasi. Harapan masyarakat Solo kembali tertunda.

Gagasan pendirian universitas negeri kembali mencuat pada periode 1966 hingga 1968.

Universitas Nasional Saraswati sempat mengajukan diri untuk dinegerikan.

Pengajuan tersebut bahkan sempat memperoleh persetujuan dari menteri terkait. Harapan kembali menguat di tengah masyarakat Solo.

Pada 11 Januari 1968, panitia pendirian universitas negeri kembali dibentuk.

Wali Kota Solo saat itu, R. Kusnandar, memimpin langsung upaya tersebut.

Namun, perjuangan ini kembali menemui jalan buntu. Pemerintah pusat belum mampu menyediakan pendanaan yang memadai.

Kondisi ekonomi daerah juga masih sangat terbatas. Upaya pendirian universitas negeri kembali harus ditunda.

Titik balik penting akhirnya terjadi pada 1 Juni 1975. Pada tanggal tersebut berdirilah Universitas Gabungan Surakarta atau UGS.

UGS merupakan hasil penggabungan delapan perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut berasal dari swasta maupun kedinasan.

Delapan institusi itu antara lain STO Negeri Surakarta dan PTPN Veteran Surakarta. Ada pula AAN Saraswati dan Universitas Cokroaminoto.

Universitas Nasional Saraswati juga bergabung dalam UGS. Selain itu terdapat Universitas Islam Indonesia Cabang Surakarta.

Universitas 17 Agustus 1945 Cabang Surakarta turut bergabung. Institut Jurnalistik Indonesia Surakarta melengkapi penggabungan tersebut.

Penggabungan ini menjadi langkah strategis dan realistis. UGS menjadi fondasi kuat bagi pendirian universitas negeri.

Pada Desember 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meninjau UGS. Dalam kunjungan itu dipastikan UGS akan dinegerikan.

Tanggal 11 Maret 1976 ditetapkan sebagai waktu peresmian. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari lahir UNS.

Peresmian ini dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia. Nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret resmi digunakan.

Dalam proses awalnya, UNS digabungkan dengan beberapa institusi lain. Penggabungan melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta.

Institusi tersebut antara lain IKIP Negeri dan Sekolah Tinggi Olahraga. Akademi Administrasi Niaga Negeri juga ikut bergabung.

Fakultas Kedokteran PTPN Veteran Cabang Surakarta turut disertakan.

Pada awal berdiri, UNS memiliki sembilan fakultas.

Fakultas tersebut mencakup Ilmu Pendidikan dan Keguruan. Ada pula Fakultas Sastra Budaya dan Fakultas Sosial Politik.

Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi turut dibentuk. Fakultas Kedokteran, Pertanian, dan Teknik melengkapi struktur awal.

Pengembangan kampus induk terpadu dimulai pada 18 Oktober 1976. Lahan seluas sekitar 60 hektare ditetapkan di kawasan Kentingan.

Kawasan tersebut berada di Kecamatan Jebres, Surakarta. Setahun kemudian, kampus Kentingan mulai difungsikan.

Kampus ini menjadi pusat kegiatan akademik UNS. Pada tahun 1982, terjadi penyederhanaan nama universitas.

Nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret disingkat melalui Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1982, nama UNS resmi digunakan.

UNS kemudian mengusung visi pengembangan ilmu pengetahuan. Teknologi dan seni menjadi fokus utama pengembangan.

Visi tersebut berlandaskan nilai luhur budaya nasional. UNS menargetkan keunggulan di tingkat internasional.

Visi diwujudkan melalui pendidikan berkualitas. Penelitian berbasis penemuan baru menjadi pilar penting.

Pengabdian masyarakat juga diarahkan pada pemberdayaan. Seiring waktu, UNS terus memperkuat kapasitas kelembagaan.

Pada 2009, UNS menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLU. Status ini memberi fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan.

Langkah besar berikutnya terjadi pada 6 Oktober 2020. UNS resmi berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum.

Status tersebut ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2020. Transformasi ini memperkuat otonomi dan daya saing universitas.

Budaya kerja UNS ACTIVE menjadi pilar tata kelola. Nilai ini mencakup orientasi prestasi dan kepuasan layanan.

Kerja tim dan integritas menjadi prinsip utama. Visi kewirausahaan juga terus dikembangkan.

Melalui semangat ini, UNS melangkah menuju World Class University. Perjalanan panjang ini menjadi bukti ketekunan dan kolaborasi.

Dari mimpi warga Solo hingga reputasi internasional, UNS memberi makna besar. Universitas Sebelas Maret menjadi simbol perjuangan pendidikan bangsa.***