POJOKSATU.id - Darmajaya dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi swasta terkemuka di Provinsi Lampung.
Berdiri pada 1995 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Alfian Husin, nama “DARMAJAYA” memiliki arti “Dharma Bhakti dan Jasa Yoenidar Alfian”, sebuah makna yang sarat nilai pengabdian.
Kampus terpadu Darmajaya dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam No. 93B, Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Sejak awal, fokus pengembangannya berada di bidang informatika dan bisnis melalui dua sekolah tinggi, yakni STMIK dan STIE Darmajaya.
Program studi yang diselenggarakan pun berkembang pesat. Di bawah STMIK terdapat Teknik Informatika (S1), Sistem Komputer (S1), Sistem Informasi (S1), Manajemen Informatika (D3), dan Teknik Komputer (D3).
Baca Juga: Main Perang Peluru Jelly Berujung Maut, Remaja 18 Tahun di Makassar Tewas Tertembak Perwira Polisi
Sementara STIE menaungi Manajemen (S1), Akuntansi (S1), dan Akuntansi (D3). Total ada delapan program studi yang menjadi fondasi awal pertumbuhan institusi ini.
Transformasi Menjadi IBI Darmajaya
Kepercayaan masyarakat dan dukungan pemerintah daerah maupun pusat menjadi faktor penting dalam perkembangan Darmajaya.
Sarana, prasarana, serta fasilitas pendidikan terus diperbarui demi menjaga kualitas dan reputasi institusi.
Tonggak penting terjadi pada 20 Agustus 2008. Melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 167/D/O/2008, status STMIK-STIE Darmajaya resmi berubah menjadi Informatics & Business Institute (IBI) Darmajaya.
Perubahan ini menjadi pengakuan atas keunggulan Darmajaya di bidang informatika dan bisnis sekaligus wujud kepercayaan pemerintah pusat.
Baca Juga: Viral! Tiga Murid SD Boncengan Motor dan Ngebut di Jalan Raya, Netizen Langsung Murka
Program Unggulan dan Kelas Internasional
IBI Darmajaya terus berinovasi dengan menghadirkan Kelas Eksekutif untuk jenjang Strata Satu (S1), yang ditujukan bagi para profesional muda.
Selain kelas reguler dan ekstensi, tersedia pula program Double Degree yang memungkinkan mahasiswa menempuh dua jurusan sekaligus dengan waktu relatif lebih singkat.
Tak berhenti di situ, Darmajaya juga merintis International Class.
Program ini memungkinkan mahasiswa belajar dengan kurikulum internasional untuk meraih gelar dari universitas luar negeri.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus.
Pada 11-12 Mei 2009, Darmajaya memperoleh sertifikat ISO 9001:2008/IWA 2 dari lembaga sertifikasi internasional URS (United Registrar of Systems) yang berpusat di Inggris.
Baca Juga: Sejarah UIII dan Islam Indonesia: Dari Demokrasi Terbesar Dunia Menuju Kampus Peradaban Global
Sertifikasi ini menegaskan penerapan standar internasional Quality Management System (QMS), termasuk pada area IT support, outsourcing, dan pengukuran kepuasan pelanggan.
Berawal dari Niat Mengabdi
Sejarah Darmajaya tak lepas dari sosok Hi. Alfian Husin, S.H., putra daerah Lampung yang ingin mengabdi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kampung halamannya.
Bersama dukungan keluarga, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Alfian Husin pada 5 Januari 1995.
Melalui yayasan tersebut, lahirlah Lembaga Pendidikan Tanjung Karang (LPTK) yang menyelenggarakan kursus komputer dan program pendidikan satu tahun.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, pada 5 Juni 1997 berdiri STMIK Darmajaya dengan status terdaftar untuk program Teknik Informatika (S1), Teknik Komputer (D3), dan Manajemen Informatika (D3), kemudian disusul Sistem Informasi (S1) dan Sistem Komputer (S1).
Pada 6 Juli 2000, berdiri pula STIE Darmajaya dengan program Manajemen (S1), Akuntansi (S1), dan Akuntansi (D3).
Baca Juga: Sejarah Universitas Nurtanio Bandung: Jejak TNI AU Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Perkembangan demi perkembangan ini akhirnya mengantarkan Darmajaya bertransformasi menjadi IBI Darmajaya pada 2008.
Perjalanan IBI Darmajaya adalah cerita tentang tekad, pengabdian, dan visi besar membangun generasi muda Lampung agar mampu bersaing di era global.
Dari kursus komputer sederhana hingga menjadi institut berstandar internasional, Darmajaya membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari niat tulus untuk mengabdi.
Dan di sanalah pendidikan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih gemilang.***




