POJOKSATU.id - Kehadiran Fakultas Filsafat sebagai bagian dari Universitas Katolik Parahyangan memiliki latar belakang yang unik dibanding fakultas lain.

Awalnya, lembaga ini lahir dari kebutuhan Gereja Katolik akan tenaga imam atau pemimpin umat.

Dari situlah berdiri seminari tinggi Ordo Salib Suci (OSC) di Bandung, yang sejak awal memang diharapkan menjadi bagian dari UNPAR, meski prosesnya bertahap.

Pada 1 Januari 1969, berdirilah Institut Filsafat dan Teologi (IFT) di Kota Bandung.

Lembaga ini bertugas mengajarkan Filsafat dan Teologi pada taraf akademis.

Perkuliahan awal digelar di biara OSC, Jalan Pandu No. 4. Waktu studi yang semula enam tahun sempat diperpanjang menjadi tujuh tahun.

Baca Juga: Massa Geruduk Rumah Penipu Popok Rp5 Miliar, Ayah Pelaku Pasang Badan Lindungi Putrinya

Secara formal, institut ini dikukuhkan pada 20 Oktober 1971.

Tiga pihak memperkuat kehadiran IFT, yakni Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, dan Ordo Salib Suci.

Mahasiswa pun berdatangan bukan hanya dari Jawa Barat, tetapi juga dari Kalimantan, Sumatra, hingga Papua.

Karena keterbatasan ruang, sejak Januari 1974 IFT pindah ke Jalan Nias No. 2, menempati gedung bekas kantor PMI yang telah diperbarui.

Berganti Nama, Bergabung dengan UNPAR

Pada 19 Mei 1975, IFT ditetapkan sebagai sekolah tinggi swasta dengan nama STFT Suryagung Bumi.

Baca Juga: SPMB 2026 Dipastikan Tanpa Perubahan, Kemendikdasmen Umumkan 4 Jalur Ini, Aturan Kuota Tetap Berlaku

Statutanya disahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 23 November 1977.

Kerja sama dengan UNPAR makin erat sepanjang 1970-an.

Akhirnya pada 25 Desember 1982, disepakati penggabungan STFT dengan Universitas Katolik Parahyangan.

Mulai 1 Januari 1983, STFT resmi menjadi fakultas di lingkungan UNPAR dengan nama Fakultas Filsafat dan Teologi (FFT), yang kemudian disahkan sebagai Fakultas Filsafat (FF) pada 19 Oktober 1983.

Status akademiknya meningkat dari “Terdaftar” menjadi “Diakui” pada 1989.

Kebijakan pemerintah yang berubah pada 1999 menjadikan FF berstatus “Terakreditasi” dengan Program Studi Ilmu Filsafat – Filsafat Agama.

Akreditasi Unggul dan Pengembangan Program

Baca Juga: Perpres 116/2025 Resmi Terbit, Prabowo Tegaskan Posisi Sekolah Unggul Garuda, Siapkan Talenta Sains dan Teknologi

Sejak 2003 hingga 2020, Program Studi Ilmu Filsafat UNPAR meraih akreditasi A. Tahun 2021, berdasarkan keputusan BAN-PT, program sarjana memperoleh akreditasi “Unggul”.

Peringkat ini kembali ditegaskan pada 2024 dan berlaku hingga 31 Oktober 2029.

Perjalanan akademik pun terus berkembang.

Tahun 2000, masa studi dibagi menjadi dua: empat tahun untuk Program Studi Ilmu Filsafat (sarjana) dan dua tahun untuk Program Magister Ilmu Teologi.

Pada 2020, nama program sarjana berubah menjadi Program Studi Filsafat dengan dua konsentrasi, yakni Filsafat Keilahian dan Filsafat Budaya.

Program magister pun berganti nama menjadi Program Magister Filsafat Keilahian dengan konsentrasi Teologi Transformatif serta Filsafat Budaya dan Religi.

Baca Juga: Bolak Balik Absen, Agensi Umumkan Manon Hiatus dari Aktivitas Grup KATSEYE

Sejak Juli 2018, pengelolaannya sepenuhnya berada di bawah Fakultas Filsafat.

Pada 2023, program magister ini kembali meraih peringkat B yang berlaku hingga Agustus 2025.

Tahun 2020 juga menjadi awal peminatan Filsafat Seni Terpadu (Integrated Arts) dalam Program Studi Filsafat.

Lalu pada 2023, lahirlah Program Studi Studi Humanitas dengan peminatan Integrated Arts sebagai program tersendiri.

Kepemimpinan dan Ciri Khas

Perjalanan panjang ini dirajut oleh para pemimpin yang berdedikasi, mulai dari Dr. Theo Huijbers OSC (1969–1983) hingga dekan-dekan berikutnya, dan kini dipimpin Onesius Otenieli Daeli, OSC, S.S., M.Hum., Ph.D. (2025–sekarang).

Hingga kini, Fakultas Filsafat tetap menjadi tempat pendidikan bagi calon imam.

Baca Juga: Ramai Glucose Spike Saat Ramadan, Berbuka Manis Bikin Gula Darah Melonjak? Ini Penjelasan Ahli

Namun, fakultas ini juga membuka diri bagi generasi muda Indonesia yang ingin mendalami filsafat di bidang budaya dan seni.

Meski jumlah mahasiswanya relatif tidak banyak, justru suasana akademis yang tercipta menjadi lebih kondusif dan ideal.

Dari seminari sederhana hingga fakultas terakreditasi Unggul, perjalanan Fakultas Filsafat UNPAR menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar institusi, melainkan panggilan untuk merawat akal budi dan nilai kemanusiaan.

Di tengah dunia yang terus berubah, filsafat tetap relevan, mengajak kita berpikir lebih dalam, lebih bijak, dan lebih manusiawi.***