POJOKSATU.id - Politeknik Manufaktur Bandung atau Polman Bandung dikenal sebagai salah satu pelopor pendidikan politeknik di Indonesia.

Kampus vokasi ini telah berdiri sejak 1973 dan awalnya dikenal dengan nama Politeknik Mekanik Swiss (PMS) yang lahir dari kerja sama bilateral antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Konfederasi Swiss.

Kerja sama tersebut ditandatangani pada 6 Desember 1973.

Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri saat itu Adam Malik, sementara Pemerintah Swiss diwakili oleh Duta Besar Konfederasi Swiss Dr Max Feller.

Baca Juga: Cara Cek NISN Siswa Online 2026 dari HP, Lengkap Arti, Jumlah Digit, hingga Solusi Jika Data Tidak Ditemukan

Tujuan utama pendirian politeknik ini adalah untuk mendukung perkembangan teknologi industri di Indonesia melalui pendidikan teknik yang kuat pada bidang manufaktur.

Pendidikan di politeknik ini sejak awal difokuskan pada pembuatan perkakas presisi, perawatan mesin produksi, serta perancangan mekanik.

Pembangunan kampus dimulai pada 1975 di kawasan Kanayakan No 21, Jalan Ir H Juanda Dago, Kota Bandung.

Saat itu Politeknik Mekanik Swiss menjadi politeknik pertama di Indonesia dan bahkan menjadi model pengembangan bagi berdirinya politeknik lain di berbagai daerah.

Baca Juga: Libur Lebaran 2026, Dinas Kesehatan Kota Bogor Pastikan Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Perkuliahan pertama dimulai pada 1976 untuk program Diploma tiga tahun dengan bidang studi Tool Making, Machine Maintenance, serta Drafting School.

Kurikulum pendidikan tersebut menitikberatkan pada penguasaan teknologi industri serta praktik langsung di bidang manufaktur.

Tanggal 24 Maret 1977 kemudian menjadi momen penting ketika Politeknik Mekanik Swiss–Institut Teknologi Bandung resmi diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sjarif Thajeb.

Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari Dies Natalis institusi tersebut.

Baca Juga: Libur Lebaran 2026, Dinas Kesehatan Kota Bogor Pastikan Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Seiring perkembangannya, Polman Bandung terus memperluas bidang pendidikan.

Pada 1988 misalnya, kampus ini membuka bidang Pola dan Pengecoran Logam yang menjadi satu-satunya sekolah pengecoran logam di Indonesia bahkan di kawasan Asia pada masa itu.

Perubahan besar terjadi pada 6 Juni 1991 ketika kerja sama dengan Pemerintah Swiss berakhir.

Sejak saat itu Politeknik Mekanik Swiss–ITB resmi berganti nama menjadi Politeknik Manufaktur Bandung–ITB.

Baca Juga: BREAKING! Formasi CPNS dan PPPK 2026 Dibatasi, Instansi yang Tak Ajukan Usulan Sebelum 31 Maret Bisa Gagal Rekrut ASN

Pada tahun yang sama, Polman Bandung mulai mengembangkan pendekatan pendidikan Cooperative 3-2-1 Based Education.

Pola ini menjadi ciri khas pendidikan vokasi di Polman Bandung yang menggabungkan pembelajaran kampus dan pengalaman langsung di industri.

Konsep tersebut dikenal sebagai metode 3-2-1, yaitu tiga semester belajar di kampus, dua semester menjalani magang industri, dan satu semester kembali ke kampus untuk penyempurnaan pembelajaran.

Baca Juga: BREAKING! Formasi CPNS dan PPPK 2026 Dibatasi, Instansi yang Tak Ajukan Usulan Sebelum 31 Maret Bisa Gagal Rekrut ASN

Pola ini membuat mahasiswa tidak hanya menguasai teori dan keterampilan teknis, tetapi juga memiliki budaya kerja industri.

Selain metode tersebut, Polman Bandung juga menerapkan pendekatan Production Based Education (PBE).

Melalui sistem ini mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan produksi yang berasal dari kebutuhan industri dan terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran.

Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa karena mereka belajar sekaligus menghasilkan produk yang benar-benar digunakan oleh industri.

Baca Juga: Resmi! Besaran THR PPPK Paruh Waktu Mataram Ditetapkan, Nominalnya Sebesar Rp625 Ribu

Karena itulah lulusan Polman Bandung dikenal memiliki kesiapan kerja yang tinggi.

Dalam perkembangannya, Polman Bandung kini memiliki empat jurusan utama yang menyelenggarakan pendidikan vokasi mulai dari Diploma Tiga, Sarjana Terapan, hingga Magister Terapan.

Jurusan pertama adalah Teknik Manufaktur yang memiliki kompetensi inti pada teknologi manufaktur, pembuatan dies, moulding, dies casting, jig and fixture, serta mesin khusus industri.

Jurusan kedua adalah Teknik Perancangan Manufaktur yang berfokus pada perancangan perkakas presisi, desain mesin perkakas, dan berbagai peralatan manufaktur lainnya.

Baca Juga: Cek Rekening Sekarang! THR ASN Nagan Raya Resmi Cair, Rp20,8 Miliar Sudah Dibagikan, PPPK Paruh Waktu Ikut Kebagian

Jurusan ketiga adalah Teknik Pengecoran Logam yang mengajarkan teknologi pengecoran mulai dari perancangan tuangan, pembuatan pola, proses peleburan logam hingga pengujian material.

Jurusan keempat adalah Teknik Otomasi Manufaktur dan Mekatronika yang mengintegrasikan keilmuan mekanika, elektronika, dan informatika untuk merancang sistem otomatis dalam industri.

Pada jenjang pendidikan Diploma Tiga, mahasiswa ditempa untuk menjadi tenaga profesional terampil dengan komposisi pembelajaran sekitar 60 persen praktik dan 40 persen teori.

Baca Juga: Situasi Timur Tengah Makin Panas, Komandan Yaman Buka Opsi Tutup Selat Bab el-Mandeb Jika Bantu Iran Lawan AS dan Israel

Program ini dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun dengan total 112 SKS dan lulusan memperoleh gelar Ahli Madya.

Sementara itu pada jenjang Sarjana Terapan, mahasiswa menempuh pendidikan selama empat tahun atau delapan semester dengan total 144 SKS.

Lulusan program ini memperoleh gelar Sarjana Terapan Teknik dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks berbasis teknologi.

Polman Bandung juga telah mengembangkan program Magister Terapan, salah satunya pada bidang Sistem Siber-Fisik yang berfokus pada integrasi teknologi digital dan sistem industri modern.

Baca Juga: Perhatian! THR PPPK Paruh Waktu 2026 Bisa Cair Meski Belum Setahun Kerja, Ini Cara Hitung dan Syaratnya

Dalam menghadapi perkembangan teknologi dan revolusi industri 4.0, Polman Bandung terus melakukan pengembangan institusi.

Salah satu langkah strategisnya adalah pembangunan Kampus 2 di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Kampus baru tersebut dirancang untuk menampung hingga 40 program studi baru dengan kapasitas mahasiswa sekitar 16 ribu orang.

Pengembangan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap kawasan industri baru Rebana Metropolitan.

Baca Juga: Polemik Gaji PPPK Paruh Waktu Kian Mengkhawatirkan! Rata-Rata Hanya Digaji Ratusan Ribu dan Jauh Dari UMP, Ini Daerahnya

Selain itu, Polman Bandung juga terus memperkuat kerja sama internasional, menerapkan sistem manajemen mutu ISO, serta mengembangkan inkubator bisnis guna mendorong inovasi teknologi dan kewirausahaan mahasiswa.

Seiring waktu, Polman Bandung tidak hanya menjadi pusat pendidikan vokasi, tetapi juga menjadi institusi penting dalam mencetak tenaga ahli manufaktur yang dibutuhkan oleh industri nasional maupun global.

Perjalanan panjang Polman Bandung menunjukkan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran besar dalam membangun kekuatan industri sebuah bangsa.

Dari kerja sama internasional hingga lahirnya ribuan tenaga ahli, kampus ini terus menjadi tempat lahirnya generasi yang tak hanya belajar teori, tetapi juga benar-benar berkarya bagi kemajuan teknologi Indonesia.***