POJOKSATU.ID - Pendistribusian bantuan dana KIP Kuliah 2026 di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia menunjukkan pola sebaran wilayah yang sangat menarik untuk dicermati.

Beberapa universitas negeri di luar Pulau Jawa tercatat berhasil mengungguli persentase kuota penerimaan mahasiswa kurang mampu yang berprestasi.

Pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Universitas Negeri Padang sukses menempati urutan pertama secara nasional.

Kampus yang terletak di Sumatera Barat tersebut tercatat menerima sebanyak 1.567 orang penerima manfaat beasiswa ini.

Baca Juga: Perbandingan Kuota KIP Kuliah 2026: Jalur SNBT Lebih Mendominasi Ketimbang SNBP

Menyusul di posisi kedua, Universitas Negeri Surabaya menjadi satu-satunya perwakilan Jawa di jajaran teratas dengan total 1.293 orang.

Posisi berikutnya diduduki secara berturut-turut oleh Universitas Malikussaleh dengan 1.252 orang dan Universitas Negeri Medan dengan 1.023 orang.

Daftar lima besar pada jalur prestasi ini kemudian ditutup oleh Universitas Syiah Kuala dengan total kelulusan sebanyak 905 orang pendaftar.

Di sisi lain, peta kekuatan sebaran kampus untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menunjukkan perubahan komposisi yang dinamis.

Baca Juga: Lukai Hati Masyarakat Sumbar Usai Melontarkan Ujaran Kebencian, Abu Janda Diminta Klarifikasi dan Minta Maaf

Pada jalur tes tertulis ini, Universitas Negeri Medan menduduki puncak tertinggi dengan menampung sebanyak 1.754 orang penerima.

Universitas Negeri Padang kembali memperlihatkan dominasinya dengan menempati peringkat kedua melalui raihan 1.418 orang mahasiswa.

Selanjutnya, Universitas Nusa Cendana di Nusa Tenggara Timur muncul di posisi ketiga dengan meloloskan 1.289 orang pendaftar.

Universitas Negeri Surabaya menyusul ketat di bawahnya dengan mencatatkan angka kelulusan sebesar 1.278 orang mahasiswa eligible.

Sebagai penutup di urutan kelima jalur ujian ini, Universitas Tadulako di Sulawesi berhasil menyerap kuota sebanyak 1.095 orang.

Data persebaran geografis ini membuktikan bahwa PTN di wilayah Sumatera dan Indonesia Timur sangat ramah dalam memberikan akses pendidikan bagi kalangan ekonomi lemah.

Kehadiran universitas-universitas inklusif ini tentunya menjadi angin segar sekaligus pilar utama dalam memutus mata rantai kemiskinan lewat jalur edukasi formal.***