POJOKSATU.id - Di tengah makin kompleksnya isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan, Science Camp GreenTrans-Edu hadir sebagai ruang kolaborasi lintas negara yang menghubungkan kampus-kampus di kawasan Uni Eropa dan ASEAN.
Program ini menjadi bagian dari Sustainable Connectivity Package - Higher Education (SCOPE-HE) yang didanai Uni Eropa (EU) untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi antar kawasan.
Kegiatan Science Camp digelar di Indonesia pada 31 Januari hingga 8 Februari 2026, dengan rangkaian agenda di Jakarta dan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Forum ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk membahas transformasi hijau sebagai salah satu kunci pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
GreenTrans-Edu sendiri merupakan konsorsium perguruan tinggi lintas kawasan yang melibatkan Technische Universität Ilmenau (Jerman), Universitas Pancasila, Université de Technologie de Compiègne (Prancis), Fachhochschule Erfurt (Jerman), Mindanao State University (Filipina), dan President University (Indonesia).
Fokus kolaborasi diarahkan pada penguatan riset serta pengembangan metode pembelajaran yang relevan dengan isu keberlanjutan.
Dalam pelaksanaannya di Indonesia, Universitas Pancasila dipercaya sebagai tuan rumah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Puasa, Ini 7 Strategi Bisnis Syariah Biar Cuan Makin Deras di Ramadhan
Kampus ini memfasilitasi diskusi riset, koordinasi observasi lapangan, sekaligus menjalin sinergi dengan mitra lokal agar agenda internasional tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Dengan begitu, riset yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi juga kontekstual dan berdampak nyata.
Ketua GreenTrans-Edu Cluster, Prof Dr Jens Wolling dari Technische Universität Ilmenau, menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Menurutnya, tantangan global seperti perubahan iklim tidak bisa diselesaikan secara parsial.
“Untuk menjawab tantangan global, kita harus bekerja sama, bukan berjalan sendiri-sendiri di bidang masing-masing,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Minggu (8/2/2026).
Selama berada di Pangandaran, peserta Science Camp juga terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat bersama SMK Bakti Karya Pangandaran. Sekolah multikultural ini menampung siswa dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua.
Baca Juga: BPJPH Tegaskan Jual Babi dan Alkohol Tak Dilarang, Negara Cuma Minta Jujur Cantumkan Label Non Halal
Kegiatannya meliputi penanaman pohon serta sesi edukatif dan interaktif bersama para siswa.
Lewat aktivitas tersebut, GreenTrans-Edu tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan lintas budaya serta menumbuhkan kesadaran generasi muda akan tanggung jawab ekologis.
SMK Bakti Karya Pangandaran sendiri telah menjadi mitra Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila selama lebih dari lima tahun dan kini menjadi model kolaborasi bagi perguruan tinggi lain dalam cluster GreenTrans-Edu.
Baca Juga: UPDATE CPNS 2026! BKN Ungkap Peluang Seleksi Bergantung Pada Ini
Prof Wolling pun mengapresiasi kolaborasi antara kampus dan komunitas lokal tersebut.
Ia menilai kerja sama semacam ini menjadi kunci dalam menghadapi krisis global, termasuk perubahan iklim, karena solusi berkelanjutan harus tumbuh bersama masyarakat. ***




