POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan kembali Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026.
Sayembara ini dilakukan dalam rangka pengayaan buku bacaan bermutu untuk literasi Indonesia.
Penyediaan buku bacaan literasi ini sendiri telah dilaksanakan oleh Badan Bahasa sejak tahun 2016. Program ini dilakukan dengan metode sayembara agar diperoleh buku-buku yang benar-benar bermutu.
Selain itu, melalui sayembara ini, kompetensi penulis dapat digali secara maksimal untuk menuangkan ide dan menulis buku bacaan sesuai dengan tema yang disajikan.
Baca Juga: Mundurnya Ade Armando Tak Terlepas dari Pelaporan ke Polisi oleh 40 ormas Islam
Dari hasil sayembara ini, Badan Bahasa dapat kembali menyediakan bahan bacaan literasi untuk jenjang C (pembaca semenjana/10–13 tahun) dan jenjang D (pembaca madya/13–15 tahun) dengan tema-tema yang dekat dan diperlukan dalam keseharian anak Indonesia.
Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut aktif menggiatkan Gerakan Literasi Nasional sejak tahun 2016.
Salah satu yang dibutuhkan dalam gerakan literasi ini adalah tersedianya bahan bacaan.
Gerakan literasi menjadi bagian penting dalam upaya penumbuhan budi pekerti, seperti yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penanaman Budi Pekerti.
Baca Juga: Kasus Pesantren Ndolo Kusumo Pati Makin Melebar, Santri Dipulangkan, Izin Terancam Dicabut
Pengembangan budaya literasi dilakukan melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari pendidikan nonformal dalam ranah keluarga, pendidikan formal di sekolah, sampai pada pendidikan secara sosial di masyarakat.
Pengembangan ini sejalan dengan prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015.
Dalam prasyarat ini, literasi diklasifikasikan menjadi enam literasi dasar yang mencakup literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya serta kewargaan.
Penguasaan enam literasi dasar ini menjadi sangat penting, tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua serta masyarakat pada umumnya.
Salah satu upaya menumbuhkan budi pekerti pada anak adalah melalui aktivitas membaca. Minat baca pada anak perlu dipupuk sejak usia dini, dimulai dari lingkungan keluarga.
Baca Juga: Kasus Terpendam Setahun, Tersangka AS Akhirnya Dijemput Paksa, Korban Didoktrin Keturunan Nabi
Ketersediaan pilihan buku yang sesuai dengan jenjang pembacanya akan membantu meningkatkan minat baca pada anak.
Selain itu, buku yang bermutu dan berkualitas juga akan mendorong aktivitas membaca dan menulis, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.
Dengan kemampuan membaca yang baik, lima literasi dasar berikutnya (numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan) dapat ditumbuhkembangkan.
Untuk mendukung upaya tersebut, Badan Bahasa sebagai salah satu unit utama Kemendikdasmen mengambil ikhtiar penyediaan bahan bacaan literasi yang bermutu dan dapat dijangkau ketersediaannya oleh masyarakat Indonesia.
Selain itu, bahan bacaan tersebut diharapkan mampu mendorong praktik baik literasi baca-tulis di sekolah, di komunitas literasi, serta pada kegiatan lain yang berkaitan erat dengan penumbuhan budaya literasi.
Baca Juga: Kasus Pesantren Ndolo Kusumo Pati Makin Melebar, Santri Dipulangkan, Izin Terancam Dicabut
Hal ini juga dimaksudkan untuk mendukung program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu peningkatan mutu kualitas pendidikan yang terangkum dalam visi kementerian “Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah sembilan tahun (2016—2025) melaksanakan program penyediaan bahan bacaan literasi untuk mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN).
Penyediaan bahan ini mencakup jenjang pendidikan usia dini sampai pendidikan menengah. Badan Bahasa sudah menerbitkan lebih dari 1.000 buku yang diperoleh melalui sayembara penulisan bahan bacaan literasi dan sudah lolos penilaian Pusat Perbukuan (Pusbuk).
Pada tahun 2026 penyediaan bahan bacaan literasi dilakukan dengan menyasar dua jenjang pembaca, yaitu pembaca semenjana (10—13 tahun) dan pembaca madya (13—15 tahun).
Baca Juga: Inovasi Skin Care, Setting Spray 3 in 1 Anti Nyamuk, Tiga Mahasiswi Ini Langsung Juara Nasional
Pola penyediaan akan dilakukan dengan metode sayembara agar kompetensi penulis dapat diarahkan secara maksimal untuk menggali dan menuangkan ide dalam menulis buku bacaan sesuai dengan tema yang diinginkan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan penulis dan buku bacaan literasi terbaik sebanyak 50 buku bacaan anak dengan kategori 25 buku chapter book untuk jenjang C dan 25 buku novelet untuk jenjang D.
Kategori ini berdasarkan pedoman perjenjangan buku nonteks yang dikeluarkan oleh Pusat Perbukuan, BSKAP Kemendikdasmen dan berdasarkan perbedaan tingkat kemampuan membaca anak atau murid.
Baca Juga: Ketersediaan BBM Aman, Pertamina Regional JBB Jamin Layanan SPBUN Karangsong Tetap Normal
Tema dan Fokus Karakter
Tema bahan bacaan literasi tahun 2026 lebih difokuskan untuk mengeksplorasi pengetahuan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian, serta mengetahui hak dan kewajiban, serta peran anak dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Untuk jenjang C (10–13 tahun):
-
Matematika dan Kehidupan di Sekitar Kita
-
Anak, Budaya, dan Dunia yang Berkembang
-
Menjadi Anak Indonesia Hebat
Untuk jenjang D (13–15 tahun):
-
Suara tentang Rasa Aman
-
Dunia dalam Genggamanmu: Cara Pandangmu Menentukan Langkah
-
Keberanian Membangun Harapan
Baca Juga: Komisaris PLN Nusantara Power Ade Armando Ungkap Alasannya Mundur dari PSI
Ketentuan Umum Buku
-
Buku chapter book (jenjang C) dan novelet (jenjang D)
-
Karya asli, belum pernah dipublikasikan
-
Tidak mengandung kekerasan, pornografi, SARA, atau ujaran kebencian
-
Memiliki pesan kehidupan sebagai individu dan anggota masyarakat
Syarat Penulis
-
Warga Negara Indonesia
-
Minimal usia 19 tahun
-
Mengirimkan ide cerita sesuai format
-
Maksimal 2 ide cerita dan hanya memilih 1 jenjang
Baca Juga: Tak Pangkas PPPK, Halmahera Selatan Pilih Dongkrak Pendapatan Daerah Hadapi Tekanan Fiskal
Jadwal Lengkap Sayembara Literasi 2026
Agar tidak terlewat, berikut jadwal rinci dari awal hingga akhir program:
Tahap Seleksi Calon Penulis
-
Pengumuman seleksi administrasi dan penjaringan ide cerita: 4 Mei 2026
-
Masa pendaftaran seleksi administrasi dan penjaringan ide cerita: 4–18 Mei 2026 (ditutup jika kuota 300 peserta per jenjang terpenuhi lebih cepat)
-
Seleksi administrasi dan penilaian berkas ide cerita: 19 Mei–2 Juni 2026
-
Moderasi penjurian ide cerita: 3–4 Juni 2026
-
Pengumuman 75 calon penulis jenjang C dan 75 calon penulis jenjang D: 5 Juni 2026
Tahap Seleksi Substansi
6. Pengiriman berkas seleksi substansi: 5–26 Juni 2026
7. Batas akhir pengiriman berkas seleksi substansi: 26 Juni 2026 pukul 10.00 WIB (tidak ada perpanjangan)
8. Penyeleksian berkas substansi: 5 Juni–5 Juli 2026 (berjalan paralel dengan masa pengumpulan)
9. Moderasi penjurian substansi: 6–9 Juli 2026
10. Pengumuman penetapan 25 penulis jenjang C dan 25 penulis jenjang D: 10 Juli 2026
Baca Juga: Kemdiktisaintek Buka Talent Scouting 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya untuk Dosen dan Tendik
Tahap Penyusunan Buku
11. Lokakarya Pertemuan Penulis: 26–30 Juli 2026 (wajib diikuti penulis terpilih)
12. Masa penulisan dan pembuatan buku: 31 Juli–31 Agustus 2026
13. Penyelarasan dan editing buku: September 2026
14. Penilaian oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk): Oktober 2026
15. Perbaikan buku berdasarkan hasil penilaian: November 2026
Penulis terpilih akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp16 juta per judul, sekaligus terlibat langsung dalam proses penerbitan buku nasional. ***




