POJOKSATU.ID - Program Sekolah Rakyat menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah berjalan selama satu semester.
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, memberikan apresiasi mendalam terhadap perubahan positif para siswa yang kini tampil lebih percaya diri.
Keberhasilan ini dinilai sebagai buah kerja keras kolektif dari jajaran kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan dalam mengawal proses pembinaan.
Salah satu bukti nyata keberanian para siswa terlihat saat peluncuran program di Banjarbaru beberapa waktu lalu, di mana sejumlah murid mampu tampil dengan penuh keyakinan di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: TKA Menjadi Dasar Baru Seleksi Jalur Prestasi SMP dan SMA 2026!
Berbeda dengan institusi pendidikan reguler, Sekolah Rakyat dirancang dengan misi khusus untuk menghentikan transmisi kemiskinan antar-generasi.
Pemerintah menargetkan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem agar mendapatkan akses pendidikan gratis yang berkualitas.
Fokus utamanya adalah membekali lulusan jenjang SMA agar memiliki kemampuan untuk mengangkat derajat ekonomi keluarga mereka secara mandiri atau mencapai status graduasi.
Memasuki tahun ajaran baru, pemerintah berencana memperluas jangkauan program ini dengan menambah kuota sekitar 30 ribu siswa baru.
Baca Juga: Pendaftaran TKA 2026 Resmi Dibuka: Simak Jadwal Lengkap dan Persyaratannya!
Meski penambahan kapasitas ini membawa tantangan dan dinamika tersendiri, pengalaman pengelolaan selama satu semester terakhir menjadi modal kuat untuk menyukseskan target tersebut.
Pihak Kementerian Sosial menekankan pentingnya beberapa poin krusial dalam pengelolaan lingkungan sekolah:
Sinergi Antar-Lembaga: Kolaborasi yang kuat antara pihak sekolah, Kementerian Sosial, dan pemangku kepentingan terkait sangat diperlukan.
Lingkungan Aman: Mitigasi ketat terhadap tindakan perundungan (bullying), kekerasan, dan intoleransi menjadi prioritas utama mengingat latar belakang siswa yang sangat beragam.
Perkembangan karakter siswa juga mulai terlihat di berbagai daerah.
Sebagai contoh, di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, nilai-nilai toleransi beragama tumbuh secara alami.
Keharmonisan tetap terjaga di tengah perbedaan keyakinan, di mana para siswa saling menghargai aktivitas ibadah satu sama lain tanpa merasa adanya sekat sosial.
Keberhasilan di tingkat akar rumput ini diharapkan terus konsisten agar cita-cita besar Presiden dalam menghapuskan kemiskinan melalui jalur pendidikan dapat terwujud secara maksimal.***
Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala




