POJOKSATU.id — Santi Manda Sari, guru SMP Negeri 3 Lhokseumawe terpilih sebagai satu-satunya delegasi Aceh dalam program bergengsi Indonesia-Korea Teacher Exchange 2025 (IKTE 2025).
Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Korea Selatan untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara di bidang pendidikan.
IKTE merupakan ajang pertukaran guru yang memberikan kesempatan bagi tenaga pendidik Indonesia untuk mengajar di sekolah-sekolah Korea Selatan sekaligus mempelajari metode pembelajaran mereka.
Program ini dirancang agar para guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengenalkan budaya lokal Indonesia, termasuk seni, bahasa, dan tradisi.
Melalui IKTE, guru diharapkan dapat memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, serta membawa pengalaman berharga kembali ke tanah air demi kemajuan pendidikan Indonesia.
Membawa Wajah Pendidikan Aceh ke Kancah Internasional
Baca Juga: Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu? Siapkan 7 Dokumen Ini Sekarang, Jangan Tunggu Waktu Mepet!
Keberangkatan Santi dipandang bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, melainkan juga amanah besar untuk membawa wajah pendidikan Aceh ke panggung internasional.
Melalui akun TikTok pribadinya, @santi.manda.sari8, ia menyampaikan rasa syukur dengan menulis:
“Alhamdulillah. Saya terpilih menjadi salah satu guru yang akan bertugas di Korea Selatan dalam mengajar tentang Seni Budaya Aceh di jenjang SMP pada program IKTE 2025.”
Baca Juga: Cair Otomatis ke Rekening! Guru ASN Non Sertifikasi Dapat Tambahan Rp250.000 per Bulan Mulai 2025
Mengangkat Kearifan Lokal Aceh
Dalam kesempatan ini, Santi telah menyiapkan berbagai materi ajar yang mengangkat kearifan lokal Aceh, termasuk permainan musik Rapa’i, tari Ratoeh Jaroe, dan kerajinan tangan khas Aceh.
Kehadiran budaya Aceh di kelas internasional ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dunia terhadap kekayaan seni tradisional Indonesia.
Belajar dari Pendidikan Korea Selatan
Selain berbagi budaya, Santi juga akan mempelajari metode pembelajaran Korea Selatan yang terkenal disiplin, kreatif, dan berbasis teknologi tinggi.
Hal ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan di sekolah-sekolah di Aceh, sehingga kualitas pendidikan dapat semakin meningkat.
Baca Juga: Resmi Jadi PPPK? Ini Tugas dan Kewajiban Baru yang Wajib Dilaksanakan!
Tantangan dan Persiapan
Untuk menghadapi tantangan, Santi mempersiapkan diri dengan mempelajari dasar-dasar bahasa Korea dan mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Kemendikdasmen.
Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, komitmen, dan niat tulus dalam menjalani amanah tersebut.
Kesempatan Terbuka untuk Siapa Pun
Perjalanan Santi menjadi bukti nyata bahwa kesempatan untuk berkarya di kancah internasional terbuka lebar bagi siapa pun.
Dengan semangat belajar, keberanian mencoba, dan kerja keras, setiap guru maupun generasi muda Indonesia bisa meraih pencapaian yang sama.
Kunci utamanya terletak pada kemauan dan tekad untuk terus berusaha.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat, mudah dan tanpa iklan bisa download aplikasi Pojoksatu.id melalui tautan berikut ini:
Anda juga bisa bergabung dalam saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id melalui link di bawah ini:
Demikian artikel tentang seorang guru dari Aceh yang terpilih dalam program IKTE 2025.***




