POJOKSATU.id - Ada sosok yang menarik saat Talkshow ke 2 Temu Pendidik Nusantara Daerah (TPND) XI Kota Bandung yang berlangsung pada Sabtu (6/7/2024) lalu di Sekolah Mutiara Bunda, Arcamanik, Kota Bandung.

Dalam talkshow terakhir bertema "Kolaborasi Orangtua dan Guru untuk Mengoptimalkan Bakat Murid", panitia menghadirkan murid SMP Mutiara Bunda Kota Bandung, Sang Hawa (13) yang hadir bersama Kinkin Karimah Nursya'bani, Wakil Kepala Sekolah di SD Mutiara Bunda Kota Bandung.

Sang Hawa saat ini dikenal sebagai seorang penyanyi yang memiliki suara lembut dan sangat merdu. Penampilan bersama ayahnya, Panji Sakti, membuat performing di setiap panggung terasa berbeda dan lebih interaktif.

"Sebenarnya orang melihat aku tuh bakatnya menyanyi. Aku ngerasa menyanyi itu cuma kesenangan, hobi aja, karena dari kecil sudah dengar ayah nyanyi, melihat banyak perform, juga ke pameran seni," tutur Sang Hawa bercerita.

Baca Juga: Temu Pendidik Nusantara Daerah XI Kota Bandung Sukses Digelar, Jawab Tantangan Pendidikan, Tawarkan Kolaborasi Orangtua, Anak dan Sekolah

Hawa masih kelas 1 SMP, sebentar lagi mulai beranjak ke kelas 2 SMP. Ia merasa sangat beruntung karena sekolahnya, SMP Mutiara Bunda Kota Bandung selalu mendukungnya mengembangkan bakat dan kesukaannya.

Dukungan itu membuat Hawa tidak merasa kesulitan jika harus tampil berkolaborasi dengan ayahnya, Panji Sakti yang sudah sangat dikenal luas di dunia musik sebagai penulis lagu dan penyanyi dengan lirik-lirik khas yang puitis.

Sedikit informasi tentang Panji Sakti, pelantun single "Jiwaku Sekuntum Bunga Kamboja" yang pernah menempuh pendidikan di jurusan Seni Rupa IKIP Bandung (UPI Bandung) itu, awalnya sempat mengaku tidak percaya diri untuk menyanyi.

Kedekatan Panji dengan dunia seni rupa, seni musik dan teater turut mengasahnya dalam membuat lagu dan kerap membawakan musikalisasi puisi dari karya-karya puisi kawan-kawannya di kampus.

Hingga akhirnya, Panji mulai membuat lagu dan bernyanyi dari karya-karya puisinya sendiri.

Baca Juga: Temu Pendidik Nusantara Daerah XI Kota Bandung Catat Antusias Jumlah Peserta Terbanyak, Cek Agenda Kegiatan TPND XI, Penting untuk Para Guru

Karir Panji terus menanjak saat ia diminta untuk menulis dan menciptakan lagu-lagu bagi banyak label di Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya. Panji menjadi hits-maker bagi para artis muda di Sony Music Entertainment.

Meski begitu, pria bernama lengkap Panji Siswanto bin Suparlan ini justru malah pernah bercita-cita ingin menjadi guru seperti ibunya.

Darah seni itu mengalir pada Sang Hawa. Sejak kecil, Hawa sudah suka menyanyi.

Sang Hawa adalah putri bungsu dari empat anak Panji lainnya. Anak pertama Panji yaitu Sang Padi, kemudian anak lelaki satu-satunya bernama Maspati, lalu Cahaya dan terakhir adalah Sang Hawa.

Baca Juga: Banyak Teman Putus Sekolah dan Menikah Muda, Murid SMP Prawira Lembang Hadirkan Karya Ini di Temu Pendidik Nusantara, Begini Dampaknya!

"Rekaman pertamanya saat dia masih usia 3 tahun, masuk studio dan ikut nyanyi di lagu Aku Ada. Lagu-lagu berikutnya direkam saat Sang Hawa kelas 3 dan 4 SD," ungkap Panji kepada pojoksatu.id.

Panji bertutur, keinginan anaknya untuk menyanyi tak pernah ia minta. Senada ayahnya, Sang Hawa pun bercerita saat pertama kali naik panggung.

"Jadi saat aku sering melihat ayah perform, aku juga pengen juga nyanyi, pengen juga dilihat orang-orang. Jadinya aku tiba-tiba naik panggung saat usia 3 tahun," aku Sang Hawa.

Panji menuturkan, ia mengajak anaknya untuk manggung karena ada beberapa lagu yang ia bawakan bersama Sang Hawa. "Saya sering mengajak manggung Hawa, karena kami ada lagu duet yang berisi dialog antar anak dan ayah," lanjut Panji.

Lagu yang dimaksud Panji bersama Sang Hawa itu diantaranya berjudul "Lagu Cinta", sebuah lagu hits yang menawarkan alunan indah, yang menggambarkan ungkapan kedekatan cinta seorang anak dan ayah, saling mengungkapkan rasa yang tak ada habisnya.

"Kaulah udara, kaulah energi, kaulah belahan jiwa..", begitu potongan lirik yang menyentuh itu.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Temu Pendidik Nusantara XI di 50 Lokasi Seluruh Indonesia, Kapan Hadir di Kotamu?

Lekatnya kasih sayang yang hangat dari keduanya dalam judul Lagu Cinta (Panji Sakti feat. Sang Hawa) yang memiliki pesan mendalam ini, sudah bisa didengarkan di spotify. Nikmati saja alunan indah itu disini: [Lagu Cinta - Panji Sakti feat Sang Hawa]

Kekompakan anak dan ayah ini juga dicerminkan dalam lagu "Aku Ada" dalam ritmik lagu yang lebih ceria. Tak hanya Sang Hawa, Panji juga mengajak Maspati bernyanyi bersama dalam lagu ini.

Musik yang terasa ringan dan enjoy ini juga memberikan pesan moral untuk siap menolong, meski kita hanya manusia biasa. Lagu ini bisa didengarkan disini: [Aku Ada]

Sang Hawa menemukan tempat tumbuh yang tepat di Sekolah Mutiara Bunda Kota Bandung.

"Belajar di sini tidak membosankan, misal ada moving class. Selama belajar itu kita bisa ketemu teman dulu, ngobrol dulu, diskusi, guru-gurunya juga mengajarnya sampai kita mengerti dan sabar," tambah Hawa.

Di sekolah itu, Hawa juga kerap diberikan kesempatan untuk tampil saat ada project performance. Guru-guru juga sangat memahami minat dan bakat anak.

Baca Juga: Itje Chodidjah Jadi Bintang Temu Pendidik Nusantara XI, Sebut Mendidik Bukan Proses Administrasi dan Indonesia Pelopor Platform Belajar di Dunia

Hawa tak merasa khawatir tertinggal pembelajaran, karena setiap mengajar para guru melakukan cross check ulang untuk melihat pemahaman anak atau melakukan refleksi.

Panji juga menambahkan, sekolah ini selalu melibatkan orang tua dengan berbagai profesinya.

"Beberapa lagu saya dibuat untuk kepentingan pertunjukan tematik tiap semesternya di SD Mutiara Bunda," ujar Panji.

Lagu-lagu itu misalnya "Abbas Ibnu Firnas" yang dibuat dan dipentaskan pada pertunjukan untuk mengenalkan perkembangan iptek.

Begitu juga lagu "Sayur Juara" yang dibuat dan dipersembahkan oleh anak-anak saat tema pembelajaran di semesternya berkisar tentang makanan sehat. Ada juga lagu "Simpan Sampah" untuk tema semester pembelajaran tentang lingkungan.

Sedangkan lagu "Aku Ada" dibuat Panji Sakti bersama para murid TK Mutiara Bunda ketika Maspati masih TK B di sekolah tersebut. "Jadi kata-kata dalam lagu itu berasal dari anak-anak TK B Mutiara Bunda, kelasnya Maspati," cerita Panji.

Baca Juga: TEMU PENDIDIK NUSANTARA XI, Bu Nunuk Minta Lakukan Pembelajaran BERPUSAT PADA ANAK dan Sekolah Harus Pastikan SISWA BERDAYA, Ini Maksudnya

Diberi pengalaman indah dari ayahnya, Sang Hawa semakin berkembang ketika menempuh pendidikan di sekolah Mutiara Bunda. Demikian juga dengan bakatnya, semakin terasah dan tersalurkan.

Meski sebenarnya, baik di sekolah maupun di rumahnya, keseharian Hawa mengalir seperti anak-anak lainnya.

Di rumah, juga tidak ada waktu khusus yang mengharuskan Sang Hawa berlatih nyanyi. "Saya biarkan dia nyanyi-nyanyi sesuka hati. Dan kalo saya sedang bikin lagu, Sang Hawa termasuk pendengar dan kritikus pertama saya," tutur Panji.

Gadis belia yang hobi bermain puzzle ini, kini justru tengah menyukai olahraga basket.

"Menurut aku sih memang harus banyak cari pengalaman. Jadi kita emang harus cari kegiatan sendiri atau enggak, kita kan bisa dari gadget nonton Youtube misalnya kita bisa melihat tutorial basket atau yang lainnya, terus coba hal baru juga," ucap Sang Hawa.

Hawa memang benar-benar menghabiskan waktu di sekolah. Jika sore tiba, ia memiliki kebiasaan pergi ke masjid hingga isya tiba.

Meski kerap diajak ayahnya untuk tampil dari panggung ke panggung, Hawa ternyata menemukan cita-citanya untuk menjadi penulis cerpen.

Baca Juga: Temu Pendidik Nusantara Masih Berkesan di Hati Guru, Dampak TPN X Jadi Ruh Semangat Merdeka Belajar

"Aku lihat tuh teman-teman ayah sedikit banget yang menulis cerpen, jadi aku terinspirasi untuk menjadi penulis cerpen. Beberapa cerpen sudah aku coba tulis, lumayan banyak sih, tapi ada juga yang belum selesai," tuturnya.

Hawa juga berkeinginan untuk melakukan pameran seni dan bercita-cita ingin mempunyai galeri seni. "Punya galeri bisa menyimpan karya kita," tambahnya.

Sang Hawa yang terus bertumbuh alami, menjadi sosok pelajar yang membuat nafas dan udara kita menjadi lega dan terbuka, karena pada akhirnya energi pendidikan mampu menjadikan murid sebagai belahan jiwa yang penuh cinta dan kasih. ***