POJOKSATU.id - Lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengembangkan rompi khusus bagi penyandang disabilitas netra yang diberi nama Netravest.

Rompi tersebut dirancang untuk membantu pengguna mengenali rintangan yang berada di sekitar jalur berjalan.

Sistem Netravest dapat memberikan peringatan ketika terdapat objek penghalang dalam jarak sekitar satu meter.

Peringatan diberikan melalui suara yang diteruskan ke telinga serta getaran pada bagian punggung rompi.

Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan penyandang disabilitas netra ketika beraktivitas, baik di dalam maupun luar ruangan.

Baca Juga: Universitas Teknokrat Indonesia Masuk Top 22 Kampus Juara Terbanyak PEKSIMINAS XVIII 2026

Tim mahasiswa UPI Bandung yang mengembangkan Netravest terdiri atas Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan.

Mereka mengembangkan purwarupa tersebut dengan pendampingan dosen pembimbing Muhammad Taufik Dwi Putra.

Selama sekitar dua bulan, tim yang dipimpin Raden Farhan Rizki Septrian mengerjakan purwarupa Netravest.

Mereka mendapatkan pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2–7 November 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang.

Baca Juga: Kemensos Siapkan Agen Perlinsos untuk Bantu Akses Bansos, Bukan Penentu Penerima

"Netravest sudah jadi dan diuji coba oleh delapan orang disabilitas netra seperti di koridor dan sisi jalan," kata Raden, Kamis, 10 September 2026.

Tiga Bagian Utama Netravest
Netravest memiliki tiga bagian utama yang bekerja secara terintegrasi.

Bagian pertama berupa kotak hitam yang ditempatkan di bagian depan rompi, sekitar dada pengguna.

Di dalamnya terdapat kamera dan sensor pendeteksi objek serta jarak berbasis cahaya atau LiDAR.

Bagian kedua adalah sensor fusi. Komponen ini berfungsi menggabungkan berbagai data yang diperoleh dari sistem pendeteksi sehingga informasi mengenai objek dan jaraknya dapat diproses.

Baca Juga: Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026 Dibuka, Cek 246 Kampus dan Ma’had Aly Mitra

Sementara itu, kotak hitam kedua berada di bagian belakang atau punggung rompi.

Ukurannya sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan kotak di bagian depan karena digunakan untuk menempatkan sistem komputer mini.

Kamera yang berada di bagian depan bekerja seperti mata. Kamera menangkap kondisi lingkungan sekaligus mengenali objek yang berpotensi mengganggu mobilitas pengguna.

Tim mengembangkan sistem computer vision menggunakan algoritma pendeteksi objek YOLOv8n.

Mereka juga mengembangkan lebih dari 30 ribu set data agar sistem dapat mengenali sekitar 20 kelas objek rintangan yang berada di depan, atas, dan bawah bidang pandang pengguna.

Baca Juga: Dosen UNJA Juara 1 Jambi Spark 2026, Gabungkan Energi Surya, IoT dan Platform Digital

Objek yang dapat dikenali antara lain orang, tiang, kendaraan yang diparkir, lubang, spanduk, baliho, hingga papan reklame yang dipasang rendah.

Jarak rintangan kemudian diukur menggunakan sensor LiDAR melalui pantulan sinar laser.

Data mengenai jenis objek dan jaraknya selanjutnya digabungkan melalui sensor fusi sebelum sistem memberikan peringatan kepada pengguna.

Peringatan Berbasis Suara dan Getaran
Hasil pengenalan objek disampaikan kepada pengguna melalui dua bentuk peringatan, yakni audio dan getaran.

Baca Juga: Bukan Cuma Obligasi, Yield Tinggi Mulai Mengancam Ekonomi Global dan Pasar Saham

Dalam pengujian, sistem berhasil memberikan peringatan ketika objek penghalang berada pada jarak sekitar 1,1–1,5 meter dari pengguna.

Ketika mendapati rintangan, pengguna dapat berhenti melangkah dan bergeser untuk mencari jalur yang lebih aman.

Apabila setelah bergeser masih terdapat objek penghalang, tanda peringatan akan terus berbunyi.

Meski begitu, Netravest saat ini belum dapat memberikan petunjuk apakah pengguna sebaiknya bergerak ke arah kiri atau kanan.

Fitur tersebut menjadi salah satu bagian yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut oleh tim.

Baca Juga: Purbaya Ungkap Alasan Dicopot dari Menkeu, Perombakan Ratusan Pejabat Ikut Disorot

Bobot Sekitar Dua Kilogram
Dari sisi perangkat, Netravest memiliki bobot sekitar dua kilogram. Bobot tersebut sudah termasuk baterai 5 volt 4 ampere yang dapat digunakan selama sekitar delapan jam secara terus-menerus.

Rompi dirancang agar lebih mudah dikenakan dengan mekanisme buka-tutup pada bagian kanan.

Tim juga memasang garis pemantul cahaya untuk meningkatkan keamanan ketika pengguna berada di luar ruangan pada malam hari.

"Sistemnya memiliki dukungan night vision sehingga dapat membantu proses pengenalan obyek ketika kondisi lingkungan minim cahaya," ujar Raden.

Meski memiliki sejumlah teknologi tambahan, Netravest tidak dirancang untuk menggantikan tongkat putih.

Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan PKL Tak Boleh Hentikan Pembelajaran Murid SMK, Ini Solusinya

Raden menjelaskan, rompi tersebut justru ditujukan sebagai alat pelengkap bagi penyandang disabilitas netra yang selama ini menggunakan tongkat putih untuk membantu mobilitas.

Tak Hanya Mendeteksi Rintangan
Kemampuan Netravest tidak berhenti pada pendeteksian rintangan. Rompi tersebut juga dilengkapi fitur untuk mengenali angka nominal uang kertas rupiah.

Ketika uang kertas ditempatkan di depan kamera pada jarak sekitar 30 sentimeter, sistem dapat mengenali nominalnya.

Hasil pengenalan kemudian disampaikan kepada pengguna melalui suara.

Netravest juga memiliki tombol darurat. Tombol serupa tersedia pada aplikasi yang terhubung dengan perangkat.

Aplikasi tersebut memungkinkan pendamping memantau informasi pengguna dari jarak jauh.

Informasi yang dapat dipantau mencakup lokasi terakhir pengguna serta kondisi sejumlah perangkat, seperti status baterai, kamera, global positioning system (GPS), dan sensor.

Baca Juga: FLAK 2026 Digelar, 56 Tim SSB se-Karawang Adu Talenta Muda

Masih Ada yang Perlu Disempurnakan
Meski telah melalui pengujian, Netravest masih membutuhkan sejumlah pengembangan sebelum dapat digunakan secara lebih luas.

Salah satu perhatian tim adalah bobot perangkat, termasuk baterai yang digunakan.

Bahan rompi juga masih perlu dioptimalkan agar lebih nyaman dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.

Tim turut berupaya mengurangi suara gesekan yang muncul dari material rompi sehingga tidak mengganggu pengguna.

Baca Juga: Purbaya DJuamputh

Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Siti Nurbayani Kusumaningsih, berharap inovasi mahasiswa tidak berhenti pada pencapaian dalam kompetisi atau penghargaan.

Menurut dia, karya tersebut akan memiliki nilai lebih ketika benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Tapi bisa bermanfaat untuk masyarakat khususnya kalangan disabilitas netra," ujar Siti.

Netravest menunjukkan bagaimana teknologi yang dikembangkan mahasiswa dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. ***