POJOKSATU.id - Banyak guru dikejutkan dengan kondisi riwayat pendidikan SD, SMP, hingga SMA yang tiba-tiba tidak muncul di Info GTK.
Padahal, data tersebut sebelumnya lengkap dan tidak pernah diubah.
Situasi ini memicu kekhawatiran serius, mulai dari takut data tidak valid, terganggunya proses administrasi, hingga dampak terhadap tunjangan.
Baca Juga: Guru Besar Dikerdilkan, Prof Dita UPI Soroti Kebijakan Attached di Kampus
Namun, sebelum panik dan melakukan perubahan data secara terburu-buru, penting bagi guru memahami bahwa masalah ini bukan kasus individual, melainkan fenomena sistemik yang berkaitan dengan alur sinkronisasi data nasional.
Fenomena Massal Guru Kehilangan Riwayat Pendidikan
Hilangnya riwayat pendidikan dasar dan menengah di Info GTK terjadi secara luas dan dialami banyak guru di berbagai daerah.
Baca Juga: BPDP Awasi 40 Riset Mahasiswa, Dorong Inovasi Sawit Tepat Guna
Bahkan, guru yang datanya selama ini aman dan tidak pernah diedit tetap mengalami hal serupa.
Pola ini menunjukkan bahwa permasalahan tidak bersumber dari kesalahan input guru, melainkan dari proses penarikan data di tingkat pusat.
Info GTK sendiri hanya menampilkan data, bukan menyimpan data utama, sehingga ketika terjadi gangguan penarikan, tampilan bisa kosong meskipun data sebenarnya masih ada.
Penjelasan Alur Data Dapodik–PTK Datadik–Info GTK
Secara sistem, riwayat pendidikan SD sampai SMA diinput melalui Dapodik menggunakan akun GTK oleh operator sekolah.
Baca Juga: TPG 2025 Tak Cair Bukan Hangus! Dirjen GTK Buka Skema Pembayaran 2026, Guru Diminta Tenang
Data tersebut kemudian dikirim ke pusat dan tersimpan di PTK Datadik.
Info GTK berada di tahap akhir sebagai media visualisasi data.
Jika proses sinkronisasi atau penarikan data mengalami keterlambatan, Info GTK bisa tidak menampilkan riwayat pendidikan meskipun data di Dapodik dan PTK Datadik masih lengkap dan aman.
Penyebab Umum dari Sisi Sistem, Bukan Kesalahan Guru
Beberapa faktor sistemik yang sering memicu kondisi ini antara lain pembaruan versi Dapodik, migrasi data nasional, serta beban server yang tinggi.
Baca Juga: 8 Olahraga yang Lagi Viral untuk Gen Z dan Milenial di 2026
Pada periode tertentu, terutama awal tahun atau setelah update besar, sistem membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dan menarik ulang data lama.
Akibatnya, riwayat pendidikan terlihat hilang sementara, bukan terhapus permanen.
Inilah yang sering disalahartikan sebagai kesalahan guru.
Langkah Verifikasi yang Benar dan Aman
Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah memastikan data riwayat pendidikan SD, SMP, dan SMA masih tercatat di Dapodik dengan bidang studi “umum” dan status “non gelar”.
Baca Juga: Komisi X DPR RI Apresiasi Kinerja BRIN, Beri Semangat Baru
Setelah itu, lakukan pengecekan di PTK Datadik untuk memastikan data tersebut sudah tersimpan di pusat.
Jika kedua sumber ini aman, guru tidak perlu melakukan input ulang atau perubahan apa pun. Sinkronisasi cukup dilakukan sesuai prosedur, lalu menunggu proses penarikan data berjalan.
Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Guru
Guru diperbolehkan melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan operator sekolah jika menemukan kejanggalan.
Namun, guru tidak disarankan mengedit data secara berulang, menghapus lalu menambahkan riwayat pendidikan tanpa alasan jelas, atau mencoba menginput data di sistem yang tidak sesuai.
Tindakan reaktif justru berpotensi menimbulkan error baru dan memperpanjang masalah.
Validasi Tetap Aman Jika Data Inti Benar
Riwayat pendidikan SD–SMA yang tidak tampil di Info GTK tidak otomatis membuat data guru tidak valid.
Selama data utama, terutama S1, tercatat benar di PTK Datadik dan riwayat pendidikan dasar–menengah masih ada di Dapodik, proses validasi tetap aman.
Kunci utama bagi guru adalah memahami alur sistem, menjaga data inti tetap benar, dan bersabar menunggu penarikan data oleh Info GTK.***




