POJOKSATU.ID - Pemerintah bergerak cepat menangani krisis layanan pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur pascabencana gempa bumi.

Langkah darurat yang diambil mencakup penyaluran bantuan revitalisasi secara bertahap serta penyediaan sarana belajar sementara bagi sekolah yang terdampak.

Pada tahap pertama, anggaran mencapai Rp50 miliar disalurkan khusus untuk merevitalisasi sekitar 187 satuan pendidikan di berbagai jenjang.

Pembagian dana tersebut menyasar sektor PAUD sebesar Rp500 juta, SLB sebesar Rp6,45 miliar, serta PKBM dan SKB senilai Rp1 miliar.

Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan, Dedi Mulyadi Siapkan Uang Tunggu untuk 12 Korban Selamat

Bagian alokasi terbesar dialirkan ke jenjang SMK dengan total mencapai Rp42,2 miliar.

Sementara itu, fasilitas untuk jenjang SD, SMP, dan SMA masih terus diverifikasi agar kebutuhan perbaikannya bisa terhitung secara akurat.

Selain perbaikan fisik bangunan, pemerintah juga membagikan 672 unit Ruang Kelas Sementara atau RKS bernilai Rp3,5 miliar.

Bantuan RKS ini dibagikan ke ratusan PAUD, SLB, dan SMK dengan besaran senilai Rp4 juta untuk tiap unitnya.

Baca Juga: Setahun Jadi Menteri Keuangan, Segini Estimasi Pensiun Purbaya Yudhi Sadewa

Khusus jenjang SMP dan SMA, nilai RKS disesuaikan menjadi Rp15 juta per unit untuk mengakomodasi kebutuhan ruang belajar.

Upaya pemulihan fisik ini melengkapi distribusi tenda kelas darurat senilai Rp5,5 miliar yang disebar ke tujuh kabupaten terdampak.

Wilayah penerima fasilitas tenda darurat meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, hingga Ende.

Hingga kini, tercatat ada 2.447 satuan pendidikan yang berhasil membangkitkan kembali aktivitas pembelajaran para siswanya.

Meski demikian, baru 487 sekolah yang sudah mampu menggelar kegiatan belajar secara normal di dalam ruang kelas permanen.

Sebanyak 1.960 sekolah sisanya masih terpaksa melangsungkan proses mengajar memakai moda darurat seperti tenda, ruang terbuka, maupun kelas sementara.

Seluruh capaian ini menjadi bukti nyata dari kerja keras gotong royong demi memulihkan dunia pendidikan di bumi Flobamora.***