POJOKSATU.id — Tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan pengabdian masyarakat di Desa Medalsari, Kabupaten Karawang, Sabtu (26/7/2025).

Kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali kelompok seni wayang golek yang telah lama vakum melalui program pemberdayaan pemuda desa.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Sigit Widiatmoko, M.Hum., bersama Ely Rusliawati, M.A., Ahmad M. Ghufar, M.A., dan Dr. Ahmad Rifqy A., M.Pd.

Mereka menggandeng para pemuda setempat untuk membentuk kembali komunitas seni yang pernah berjaya namun kemudian mati suri sepeninggal dalangnya.

Dalam pelaksanaannya, para peserta tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi juga difasilitasi oleh para pelatih dalang serta penabuh gamelan untuk latihan rutin.

Baca Juga: DIPERPANJANG! Pendaftaran Beasiswa JAPFA untuk Anak Negeri 2025, Peluang Emas bagi Pelajar SMA, SMK dan Mahasiswa Berprestasi

Program ini merupakan hasil kesepakatan antara tim dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNJ, dengan pemerintah Desa Medalsari sejak awal tahun 2025.

Warisan Budaya yang Terlupakan

Salah satu aparatur desa, Hendar Permana, mengungkapkan bahwa Desa Medalsari dulunya memiliki kelompok wayang golek aktif.

Namun setelah sang dalang wafat, kegiatan kesenian tersebut perlahan hilang karena tidak adanya regenerasi.

Beruntung, cucu sang dalang masih memiliki ketertarikan pada seni wayang golek.

Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya program revitalisasi kelompok seni wayang golek "Paksi Buana" sebagai upaya menghidupkan kembali warisan budaya leluhur.

Fokus pada Regenerasi dan Digitalisasi

Program ini diformulasikan ke dalam beberapa kegiatan utama, antara lain:

  1. Membentuk ulang komunitas seni Wayang Golek Paksi Buana;

  2. Mendampingi latihan rutin dengan pelatih dalang dan nayaga (penabuh gamelan);

    Baca Juga: Contoh Studi Kasus PPG 2025 SEMUA JENJANG dan SUDAH TERVALIDASI, dari PAUD sampai SMA dan SMK, Format MS WORD BISA DOWNLOAD via GOOGLE DOCS GRATIS
  3. Melatih pemuda dalam pembuatan konten digital dan promosi seni tradisional;

  4. Menyediakan fasilitas perawatan alat gamelan sebagai penunjang pertunjukan.

Pelibatan mahasiswa dalam kegiatan ini turut memperkuat semangat regenerasi.

Beberapa di antaranya adalah Iqo F.R., Reizka K.N., Mana D., Indra A., dan Abrar B., yang akan mendampingi hingga akhir 2025.

Melalui pelatihan dan pendampingan ini, tim berharap Desa Medalsari dapat menjadi pusat kebudayaan wayang golek sekaligus atraksi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Baca Juga: Mengulik Alasan Pemda Lamban Usulkan honorer Jadi PPPK Paruh Waktu, Butuh Juknis Detail Bukan Verbal

Bagaimana menurut bapak ibu?

Adakah tanggapan atau pengalaman di lapangan yang bisa dibagi? Tulis di kolom komentar ya.

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami: