POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan pembelajaran isu lingkungan bakal diperkuat di sekolah.
Meski materi tersebut sebenarnya sudah ada dalam kurikulum nasional, pemerintah melihat perlunya langkah lebih operasional agar siswa benar-benar memahami praktik menjaga bumi.
Direktur Guru Pendidikan Dasar Kemendikdasmen, Rachmadi Widdiharto, menyebut optimalisasi ini bukan sekadar menambah materi.
Menurutnya, kesadaran lingkungan harus dibangun lewat hal konkret yang dekat dengan keseharian anak.
"Ada di kurikulum sebenarnya, tetapi nanti lebih kita optimalkan," ujar Rachmadi.
Pendekatan Praktik Sehari-hari
Rachmadi menegaskan bahwa pembelajaran lingkungan tidak akan berhenti pada teori.
Anak-anak akan dibimbing memahami cara membuang sampah yang benar, memilah, hingga mendaur ulang sampah.
Dengan begitu, perilaku peduli lingkungan bisa terbentuk sejak dini.
"Itu kita operasionalkan dalam bentuk praktik-praktik keseharian anak," kata Rachmadi.
Respons atas Arahan Presiden Prabowo
Langkah Kemendikdasmen ini sekaligus menjadi jawaban atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Presiden sebelumnya meminta agar materi lingkungan diperkuat dan masuk ke dalam pembelajaran sekolah, terutama setelah rangkaian bencana melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Mungkin perlu kita tambah dalam silabus... kesadaran akan sangat pentingnya menjaga lingkungan alam kita, menjaga hutan kita," ujar Prabowo dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat, 28 November 2025.
Baca Juga: Disambut Positif, Prabowo Dorong Guru Tambah Materi Lingkungan, Medsos Mulai Ramai Bahas Kurikulum
Sudah Masuk Kurikulum Sejak 2024
Materi lingkungan sendiri telah masuk ke kurikulum sejak 2024 melalui Panduan Pendidikan Perubahan Iklim, bagian dari Kurikulum Merdeka.
Hanya saja, penerapannya kala itu belum bersifat wajib sehingga implementasinya berbeda-beda di tiap sekolah.
Pendidikan perubahan iklim, sebagaimana disampaikan Kemendikdasmen dalam laman resminya, dapat diajarkan lewat banyak jalur.
Mulai dari masuk mata pelajaran IPA, dipilih sebagai tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), hingga menjadi bagian kegiatan ekstrakurikuler seperti latihan membuat sistem peringatan dini bencana. ***




