POJOKSATU.ID - Pemerintah resmi menetapkan program wajib belajar 13 tahun, dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sejak tahun ajaran baru 2025/2026.

Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Men dikdasmen) Abdul Mu'ti, kebijakan tersebut bertujuan untuk membentuk kebiasaan belajar anak secara berkelanjutan sejak usia dini.

Dijelaskan Abdul Mu'ti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi awal pendidikan.

Baca Juga: Catat! 10 Film Indonesia Siap Tayang Agustus 2025, Dari Drama Keluarga hingga Horor Mencekam

Menurutnya, anak yang memiliki pengalaman di PAUD memiliki keberlanjutan belajar atau learning sustainability.

Dikatakan Abdul Mu'ti bahwa banyak penelitian menunjukkan bahwa mereka yang punya pengalaman pendidikan di tingkat PAUD.

"Bajyak penelitian menunjukkan anak yang belajar di PAUD itu memiliki learning sustainability yang lebih baik dibanding mereka yang tidak punya pengalaman di pendidikan TK," ujar Abdul Mu'ti, dikutip Selasa (29/7/2025).

Baca Juga: FAKTA BAHASA: Kosakata Indonesia yang Berasal dari Bahasa Sunda, Jarang Disadari Banyak Orang

Maka dari itu, Abdul Mu'ti menyebut wajib belajar 13 tahun akan dimulai dari TK.

Anak-anak akan diajarkan bermain-bernyanyi dan bergembira, termasuk mengenalkan dasar-dasar STEM (Science, Technology, Engineering, dan Math).

"Namun semua pelajaran itu dilakukan dengan permainan. Pada hakikatnya belajar di TK adalah bermain. Kita sekarang sedang ada gerakan namanya 'science yang murah, mudah dan menyenangkan'," imbuhnya.

Baca Juga: Semester I 2025, JTrust Bukukan Laba Bersih Rp112 Miliar

10 tahun lagi, kata Mu'ti, ketika Indonesia merayakan Indonesia Emas, generasi emas adalah mereka yang sekarang ini belajar di bangku TK, SD, SMP dan SMA.

"Karena itu, kalau kita ingin membangun Indonesia Emas 2045, kita perkuat pendidikan dasar dan kami sesuai dengan amanah Bapak Presiden, sesuai dengan Asta Cita yang keempat, berusaha untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, generasi Indonesia yang kuat untuk Indonesia yang bermartabat," jelas dia.

Menurut Mu'ti, Kemendikdasmen yang dipimpinnya memperkuat pendidikan karakter melalui berbagai program untuk penguatan pendidikan karakter mulai dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, kemudian Jeda Ceria dan berbagai program untuk penguatan karakter.

Baca Juga: GARUDA MUDA DIUNGGULKAN di Final AFF U23 2025 Indonesia vs Vietnam, Malam Ini Dendam, Harapan, dan Sejarah RAKSASA ASIA Tenggara DIBUKTIKAN di GBK

Serta melalui penguatan guru bimbingan dan konseling (BK) dan juga berbagai program lain dilakukan untuk memperkuat pendidikan karakter dari sejak dini, terutama pendidikan anak-anak TK.

"Ini yang coba kami bangun sehingga karena itu kalau ini sudah terjadi mudah-mudahan kita bisa punya Generasi Emas Indonesia 2045. Selain kami perbaiki pembelajaran dan program menurut Pak Presiden memperbaiki sarana-prasarana karena itu kunci untuk bisa belajar dengan baik, digitalisasi pendidikan juga program Pak Presiden yang kita usahakan semaksimal mungkin agar dapat berjalan sebaik-baiknya," tandas Mu'ti.

Baca Juga: Maksimalkan Pekarangan Rumah Jadi Kebun Sayur Produktif demi Ketahanan Pangan Keluarga

Sebelumnya, Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Ir Harris Iskandar PhD memaparkan tantangan implementasi Wajib Belajar 13 Tahun ini, hampir setengah dari anak usia 1-6 tahun yakni 4 juta orang tidak ikut PAUD.

Selain itu, masih banyak daerah di Indonesia khususnya kabupaten belum punya layanan PAUD. Sehingga partisipasi anak Indonesia terhadap pendidikan PAUD hanya 10,89%.

Baca Juga: CPNS 2025 Dibuka Akhir Agustus Seperti Tahun Lalu? CEK Sistem Terbaru yang Bakal Diterapkan!

"Masih ada 23 ribu lebih desa yang tidak punya layanan PAUD. Selain itu, masih ada 44 kabupaten/kota yang proporsi satu desa satu PAUD-nya kurang dari 40%," ungkap Harris. ***