POJOKSATU.id — Program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial Republik Indonesia kini tengah menjadi perhatian.

Sebagai solusi pendidikan menyeluruh untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, Sekolah Rakyat dirancang tak hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan masa depan.

Salah satu aspek paling menonjol dari program ini adalah kurikulumnya yang dirancang berbasis “plus‑plus” dan sistem kelas yang fleksibel dengan pendekatan asrama.

Lantas, seperti apa isi kurikulum tersebut? Bagaimana siswa dibagi dalam rombongan belajar? Inilah pembahasannya.

Kurikulum Plus plus

Sekolah Rakyat tidak menggunakan kurikulum standar biasa. Menteri Sosial menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan adalah “kurikulum plus‑plus”.

Artinya, materi pendidikan di sekolah ini bukan hanya mencakup pelajaran akademik sebagaimana kurikulum nasional, tetapi juga diperkuat dengan pembentukan karakter, penanaman nilai nasionalisme, serta pelatihan keterampilan digital.

Baca Juga: GAJI dan TUNJANGAN Bisa Capai Rp 10 Juta, Mau Jadi Guru Sekolah Rakyat atau Sekolah Formal? Ini BEDANYA

Di jenjang SMP dan SMA, peserta didik akan diperkenalkan dengan keterampilan berbasis teknologi, seperti:

  • Coding (pemrograman komputer)

  • Cybersecurity (keamanan siber)

  • Data Science (ilmu data)

Kementerian Sosial bekerja sama dengan lembaga teknologi dan pendidikan tinggi untuk mengembangkan materi ini agar lebih aplikatif.

Pembelajaran dilakukan secara praktis berbasis proyek (project-based learning), bahkan disertai dengan sertifikasi kompetensi digital resmi.

Sertifikat ini nantinya bisa digunakan oleh siswa baik untuk melanjutkan pendidikan tinggi maupun memasuki dunia kerja langsung.

Baca Juga: Pengumuman Hasil Seleksi Kompetensi PPPK Jabatan Fungsional Guru Sekolah Rakyat Tahun Anggaran 2025, Cek Nama-nama yang Lolos di Link Berikut

Sistem Kelas yang Adaptif dan Fleksibel

Sekolah Rakyat menggunakan sistem pembelajaran berbasis asrama penuh (boarding school).

Artinya, siswa tinggal di lingkungan sekolah selama masa pendidikan.

Ini memungkinkan pembinaan karakter dan pembelajaran dilakukan secara menyeluruh—tidak hanya saat jam pelajaran formal.

Dalam hal pembagian kelas, setiap sekolah menerapkan:

  • Rombongan belajar (rombel) yang diisi sekitar 25 siswa

  • Satu lokasi sekolah dapat menampung 4–5 rombel untuk jenjang tertentu (seperti SMA)

  • Sistem penempatan kelas berdasarkan hasil asesmen awal siswa, bukan semata umur atau jenjang ijazah terakhir

Sebelum memasuki pembelajaran formal, siswa mengikuti masa orientasi atau matrikulasi selama 6 bulan.

Di masa ini, mereka menjalani asesmen psikologis, sosial, akademik, serta tes kemampuan dasar.

Tujuannya adalah mengetahui kesiapan dan minat siswa, sehingga penempatan rombel bisa lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing.

Model ini disebut sebagai sistem Multi Entry‑Multi Exit, artinya siswa bisa masuk dan menyelesaikan pendidikan sesuai jalur dan kemampuan mereka.

Jika siswa menunjukkan kesiapan lebih cepat, mereka bisa maju ke tahapan selanjutnya tanpa harus mengikuti jenjang tradisional.

Guru Sekolah Rakyat

Program ini juga memperhatikan kesiapan tenaga pengajarnya. Sekitar 60.000 guru lulusan PPG (Pendidikan Profesi Guru) direkrut untuk mendampingi para siswa.

Para guru ini akan menjalani pelatihan intensif selama satu bulan yang dirancang bukan hanya untuk mengasah kompetensi mengajar, tapi juga membentuk empati sosial serta pemahaman terhadap psikologi anak-anak dari keluarga rentan.

Baca Juga: Masuk Sekolah Rakyat Kemensos Tanpa Tes Akademik, Namun Pakai Tes Kesehatan dan AI

Pelatihan tersebut akan dilaksanakan mulai Mei 2025, melibatkan materi akademik, penguatan karakter, serta pelatihan metode pengajaran digital.

Guru juga akan tinggal di lingkungan asrama, menciptakan interaksi harian yang erat dengan peserta didik.

Pendekatan ini ditujukan untuk menciptakan figur pendidik yang sekaligus menjadi pembina, panutan, dan motivator bagi siswa.

Pendidikan Digital

Melalui kurikulum yang memperkenalkan teknologi digital, sistem kelas yang fleksibel, dan lingkungan belajar yang mendukung, Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi konkret untuk memutus rantai kemiskinan antar-generasi.

Program ini tak sekadar menyekolahkan anak-anak miskin, tapi juga membekali mereka dengan kompetensi masa depan—baik dari sisi akademik, sosial, maupun keahlian kerja.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Kemensos Dimulai 14 Juli di 100 Titik, Total Siswa 9.755, Mensos Sampaikan Kabar Baru

Jika sukses, Sekolah Rakyat bukan hanya akan menjadi model pendidikan untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera, tapi juga bisa menjadi rujukan bagi transformasi sistem pendidikan nasional. ***

Baca dan tulis komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

versid iOS

Channel Whatsapp

Fanpage edugov

Ikuti artikel menarik lainnya dari penulis: Rizq Azzahra