POJOKSATU.id — Pemerintah berencana meneruskan program magang bagi lulusan baru atau fresh graduate dengan masa pelaksanaan selama enam bulan pada tahun ini.
Program ini sebelumnya telah dijalankan sebagai bagian dari stimulus ekonomi yang menyasar sekitar 20.000 lulusan baru sejak awal Oktober 2025.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan salah satu langkah pemerintah dalam merespons kondisi pasar tenaga kerja yang sedang mengalami disrupsi.
Baca Juga: Sosok Ipda Joker Supriadi Disebut Meninggal Karena Serangan Jantung saat Bertugas di Jakarta
Susi mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya untuk membuka kesempatan kerja, meskipun tantangan di sektor ketenagakerjaan tidak mudah diatasi.
“Pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan banyak hal untuk lapangan pekerjaan. Memang tidak mudah ya, trennya ada disrupsi lapangan pekerjaan dan sebagainya,” ujar Susi.
Selain program magang, pemerintah juga menyiapkan beragam skema insentif khusus, terutama bagi sektor industri padat karya yang dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Di samping itu, kebijakan pemerintah juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan industri yang dapat memanfaatkan potensi kelas menengah sebagai penggerak ekonomi nasional.
Baca Juga: Jangan Sampai Ketinggalan! Magang IFG 2026 Tutup 19 April, Ini Syaratnya
Susi menyebutkan bahwa berbagai kebijakan tersebut telah masuk dalam rencana strategis pemerintah.
“Kita sudah memberikan berbagai skema insentif khusus untuk industri-industri padat karya, industri yang bisa mengoptimalkan potensi kelas menengah, dan sebagainya. Jadi sebenarnya itu sudah dalam pipeline yang disiapkan pemerintah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa program magang untuk fresh graduate menjadi salah satu langkah nyata yang dinilai cukup signifikan dalam menjawab persoalan ketenagakerjaan.
“Makanya kalau lihat kemarin untuk fresh graduate kita buat program magang enam bulan dan akan kita lanjut lagi di tahun ini. Itu sesuatu yang luar biasa sebenarnya,” tambahnya.
Baca Juga: Ketua Ditangkap, Wakil Ketua Ombudsman Bersuara, Minta Pernghormatan Azas Praduga Tak Bersalah
Sebelumnya, kalangan pengusaha menilai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia saat ini memerlukan perhatian serius.
Masih banyak tenaga kerja yang belum terserap oleh lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga situasinya dinilai telah memasuki fase “lampu kuning”.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menyebut bahwa setiap kenaikan 1 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu menyerap sekitar 200.000 hingga 400.000 tenaga kerja.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen, jumlah tenaga kerja yang terserap diperkirakan hanya mencapai sekira 2 juta orang.
Baca Juga: Penguatan Produksi Pertanian Berbasis Bio Fermentor dalam Mendukung Swasembada Pangan
Sementara itu, sekitar 1,5 juta lainnya masih belum memperoleh pekerjaan.
Bob menjelaskan, kalau melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap antara 200.000 sampai 400.000 orang jika investasinya padat karya.
"Tapi kalau lebih banyak padat modal, mungkin hanya 200.000 orang bahkan bisa 100.000 orang. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi 5% dan semuanya padat karya, yang terserap hanya 2 juta orang, sisanya 1,5 juta orang tidak terserap,” pungkasnya. ***




