POJOKSATU.id - STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo (STIKVINC) Surabaya merupakan salah satu perguruan tinggi kesehatan yang memiliki sejarah panjang dalam mencetak tenaga kesehatan di Indonesia.
Perjalanan institusi ini dimulai sejak 1954 dan terus berkembang mengikuti kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat hingga menjadi sekolah tinggi yang telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Berangkat dari kepedulian terhadap pelayanan kesehatan, STIKVINC kini telah meluluskan ribuan tenaga kesehatan yang mengabdi di berbagai daerah di Indonesia maupun di luar negeri.
Baca Juga: Mensesneg Ungkap Mundurnya Febrie Adriansyah Tak Menggunakan Keppres, Ini Alasannya
Berawal dari Kebutuhan Pelayanan Rumah Sakit
Cikal bakal STIKVINC bermula dari kebutuhan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya.
Melihat meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan, Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) mendirikan Sekolah Pembantu Perawat pada Januari 1954 sebagai langkah awal menyiapkan tenaga keperawatan yang terampil.
Delapan bulan kemudian, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Pengatur Perawat sebagai bentuk pengembangan sistem pendidikan yang lebih terstruktur.
Baca Juga: Novel Baswedan Apresiasi Polri Ungkap Kasus Febrie Adriansyah, Jangan Buat Publik Kecewa
Pada periode 1956 hingga 1961, institusi ini juga membuka Pendidikan Pengamat Kesehatan Berijazah C.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Seiring meningkatnya tuntutan kualitas layanan kesehatan, kurikulum pendidikan pun terus mengalami penyempurnaan.
Pada akhir 1950-an, sistem pendidikan bagi tenaga kesehatan disesuaikan sehingga menghasilkan lulusan dengan bekal dasar keperawatan yang lebih kuat.
Baca Juga: Festival Adu Layangan Bupati Cup Purwakarta Diserbu Peserta dari Jatim, DKI Jakarta hingga Banten
Berkembang Hingga Menjadi STIKES
Perjalanan institusi terus berlanjut. Pada periode 1961 hingga 1981 dibuka Pendidikan Bidan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan akses layanan kesehatan.
Memasuki dekade 1980-an, Sekolah Pengatur Perawat dikonversi menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).
Perubahan tersebut mengikuti kebijakan pemerintah yang mengarahkan profesi perawat agar tidak hanya berfokus pada pelayanan rumah sakit, tetapi juga pelayanan kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Temuan LHP BPK di DPUTR Purwakarta Capai Milyaran, Ada Potensi Korupsi APH Harus Bergerak Cepat
Saat itu metode pembelajaran learning by doing mulai diterapkan agar mahasiswa memperoleh pengalaman praktik secara langsung.
Pada 1987, institusi ini kembali berkembang menjadi Akademi Keperawatan (AKPER) berdasarkan kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tenaga perawat di Indonesia.
Program Pendidikan Bidan juga kembali dibuka pada periode 1989 hingga 1997 untuk mendukung kebutuhan tenaga kesehatan di bidang ibu dan anak.
Baca Juga: Profil Universitas YPIB Majalengka, Kampus Swasta dengan Tiga Fakultas dan Fasilitas Modern
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 2006 ketika AKPER resmi berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Katolik St. Vincentius a Paulo berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Sejak 2012, STIKVINC berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kesehatan Arnoldus sebagai bagian dari pengembangan institusi pendidikan kesehatan yang lebih modern.
Program Studi dan Akreditasi
Hingga kini STIKVINC memiliki sejumlah program studi di bidang kesehatan yang telah memperoleh akreditasi dari BAN-PT.
Baca Juga: Evaluasi Kinerja Triwulan I, Komisi III DPRD Jabar Dorong Bank BJB Perkuat Kontribusi Ekonomi Daerah
Program tersebut meliputi:
- Program Sarjana (S1) Keperawatan.
- Program Diploma III (D3) Keperawatan.
- Program Diploma III (D3) Fisioterapi.
- Program Profesi Ners sebagai lanjutan pendidikan Sarjana Keperawatan.
Secara institusi, STIKVINC Surabaya juga telah memperoleh akreditasi "Baik" dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Dipimpin Tenaga Akademik Berpengalaman
Saat ini STIKVINC dipimpin oleh Arief Widya Prasetya, M.Kep., Ners sebagai Ketua STIKVINC.
Jajaran pimpinan lainnya terdiri dari Yustina Kristianingsih, M.Kep., Ners sebagai Wakil Ketua I, Cicilia Wahju Djajanti, S.Kep., Ns., M.Kes. sebagai Wakil Ketua II, serta Theresia Etik Lusiani, S.Kep., M.Ked. Trop., Ners. sebagai Wakil Ketua III.
Baca Juga: Buka MPLS 2026, Bupati Bandung KDS Tegaskan Sekolah Harus Bebas Perundungan dan Pungli
Komitmen Mencetak Tenaga Kesehatan Profesional
Selama lebih dari tujuh dekade perjalanan pendidikannya, STIKVINC telah meluluskan sekitar 2.686 tenaga kesehatan yang kini berkiprah di berbagai rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan, maupun institusi lain, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Komitmen tersebut terus diwujudkan melalui peningkatan mutu pendidikan, penguatan kompetensi mahasiswa, serta penyesuaian kurikulum dengan perkembangan dunia kesehatan.
Perjalanan panjang STIKVINC menunjukkan bahwa dedikasi dalam dunia pendidikan kesehatan tidak dibangun dalam waktu singkat.
Berawal dari kepedulian terhadap pelayanan bagi masyarakat, kampus ini terus melahirkan tenaga kesehatan yang diharapkan mampu mengabdikan ilmu, kepedulian, dan kemanusiaan di mana pun mereka berkarya.***




