POJOKSATU.id - Isu penutupan program studi (prodi) sempat bikin banyak pihak waswas.
Tapi pernyataan terbaru dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi justru memberi arah yang sedikit berbeda.
Brian Yuliarto menegaskan, prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan tidak serta-merta ditutup.
Baca Juga: Dua Pelaku Pembunuhan Wanita Lansia di Rumbai Ditembak, Muka Bonyok, Diperiksa di Rumah Sakit
Justru sebaliknya, akan dikembangkan dan diperbarui.
"Sudah saya sampaikan bahwa untuk program studi, alih-alih ditutup, program studi itu kita kembangkan dalam artian kita lakukan evaluasi," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, inti dari perubahan ini ada pada substansi pembelajaran.
Prodi harus terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak cepat.
Baca Juga: Penjaga Perlintasan KA di Ampera Bekasi Bisa Raup Rp30.000-Rp50.000 per Jam
Bukan Ditutup, Tapi Di-update
Brian menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil pemerintah adalah melakukan pembaruan berkelanjutan atau continuous improvement terhadap isi kurikulum.
"Kita lakukan update ya sehingga substansi dari prodi-prodi itu terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terus mengikuti perkembangan, temuan-temuan terbarunya," tuturnya.
Salah satu contoh konkret ada di bidang teknik elektro. Dulu, kata Brian, belum ada pembahasan soal internet of things (IoT) maupun komputasi kuantum dalam kurikulum.
Baca Juga: 4 Pelaku Pembunuhan Ibu Lansia di Rumbai Ditangkap di Binjai dan Aceh Tengah, Termasuk Eks Menantu
Kini, dua hal tersebut justru menjadi kebutuhan penting dalam dunia industri dan teknologi.
"Jadi saya kemarin sampaikan juga misalnya Teknik Elektro dulu belum ada IoT, belum dulu belum ada quantum komputasi, maka itu kita sesuaikan gitu," katanya.
Perkembangan teknologi ini juga melahirkan industri-industri baru yang menuntut kesiapan lulusan perguruan tinggi.
Baca Juga: Ketum Partai Ummat Tanggapi Rencana Relawan Prabowo Polisikan Amien Rais
Di sinilah peran kampus menjadi krusial untuk menyesuaikan arah pendidikan.
Sempat Muncul Wacana Penutupan
Sebelumnya, pernyataan berbeda sempat muncul dari Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, yang membuka kemungkinan adanya penutupan prodi yang dianggap tidak relevan.
"Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini," ujarnya dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026.
Baca Juga: Ikut Prihatin, Kepala Bakom RI Sebut Amien Rais Termakan Hoaks Berbasis Video AI
Ia juga menyebut bahwa pemerintah tengah menyusun peta kebutuhan program studi di masa depan, berdasarkan berbagai kajian, termasuk dari program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Namun dengan penegasan terbaru dari Mendikti, arah kebijakan terlihat lebih condong pada pembenahan daripada penghapusan. ***




