POJOKSATU.id – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bakal menambah jumlah program studi (prodi) dokter spesialis di Indonesia.
Penambahan ini dilakukan secara masif dengan menyasar 57 fakultas kedokteran yang tersebar di berbagai perguruan tinggi.
Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan, total prodi yang akan ditambahkan mencapai 148 program pendidikan dokter spesialis.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah untuk memperkuat sistem pendidikan kedokteran nasional.
“Rencananya kita akan menambah 148 prodi dari 57 Fakultas Kedokteran,” ujar Brian Yuliarto di Jakarta belum lama ini.
Penambahan prodi dokter spesialis tersebut tidak berjalan sendiri. Kemendiktisaintek menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam pelaksanaannya, terutama terkait pemenuhan standar pendidikan dan layanan kesehatan.
Dukungan utama datang dari Rumah Sakit Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) yang akan menjadi mitra fakultas kedokteran.
Baca Juga: Kabar Baik Lulusan PPG, Mapping PPPK Guru Berpotensi Kembali ke Daerah Asal, Ini Penjelasan Resminya
“Terima kasih Pak Menkes sudah dibantu beberapa rumah sakit menjadi mitranya,” kata Brian, merujuk pada dukungan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Kemitraan dengan Kemenkes dinilai krusial untuk memenuhi persyaratan jumlah dosen, dokter pendidik klinis, serta tenaga kesehatan yang berasal dari RSPPU.
Dengan skema ini, pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru menjadi lebih memungkinkan dan terukur.
Baca Juga: Kisah Yusril Mau Lempar Kursi di UI, Berujung Jadi Guru Besar Termuda
Tak berhenti di situ, pemerintah juga berencana membentuk Universitas Kedokteran Sains Teknologi Kesehatan.
Universitas medis khusus ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan kedokteran sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kesehatan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Brian menjelaskan, pembentukan universitas tersebut diarahkan untuk mempercepat pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Baca Juga: Pendaftaran Dibuka 19 Januari, Ini Jadwal Lengkap Tahapan TKA 2026 untuk Jenjang SD dan SMP
Model universitas ini mengacu pada praktik yang telah diterapkan di sejumlah negara dengan sistem pendidikan medis terintegrasi.
“Kami sudah lihat beberapa kasus kampus-kampus di luar negeri memang terdapat model seperti itu. Seperti First Moscow State Medical University, kemudian John Hopkins University itu juga kursus medis,” ujar Brian.
Universitas Kedokteran Sains Teknologi Kesehatan nantinya tidak hanya berfokus pada pendidikan dokter. Di dalamnya akan menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan yang saling terhubung dalam satu ekosistem akademik.
Fakultas yang direncanakan hadir mencakup Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, Farmasi, Ilmu Hayati, Teknologi Kedokteran, hingga Keperawatan.
Dengan struktur tersebut, pendidikan di bidang kesehatan diharapkan dapat berjalan lebih terpadu dan saling melengkapi.
“Sehingga tidak hanya dokter yang kita siapkan. Tetapi juga seluruh yang related dengan kesehatan dan kedokteran itu bisa diselenggarakan oleh universitas khusus medis ini,” tegas Brian.
Langkah besar ini menandai keseriusan pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang unggul, merata, dan siap menjawab tantangan layanan kesehatan nasional di masa depan.***




