POJOKSATU.ID - Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Amien Suyitno mengatakan jika Pendidikan Profesi Guru (PPG) tidak boleh berhenti pada tataran administratif dan formalitas.
Amien menambahkan PPG seharusnya menjadi ruang transformasi menyeluruh, baik dalam hal kompetensi, karakter, hingga panggilan jiwa seorang calon guru.
“Guru itu bukan hanya profesi, tapi panggilan. PPG jangan hanya berorientasi pada kelulusan ujian. Harus ada pembentukan jiwa pendidik yang sejati,” tegas Suyitno, saat memberikan arahan pada kegiatan Pengolahan Hasil Uji Kompetensi Mahasiswa PPG Periode 2 Tahun 2025 di Jakarta, dikutip Selasa (15/7/2025).
Menurut Dirjen, banyak sistem evaluasi yang saat ini masih menekankan aspek kognitif semata nilai ujian, soal pilihan ganda, dan pemenuhan format-formal tertentu.
Lebih lanjut Suyitno menilai pendekatan seperti itu sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman.
“PPG bukan hanya tentang siapa yang bisa menjawab soal, tapi siapa yang benar-benar siap mengajar, mendidik, dan membentuk masa depan bangsa,” ujarnya.
Baca Juga: Belum Ada Informasi Resmi BSU Batch 4 Kapan Cair, Namun Pekerja Bisa Cek Info Terbaru di Kanal Ini
Suyitno menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap proses uji kompetensi, agar tidak lagi menjadi penentu tunggal kelayakan seseorang menjadi guru.
Ia bahkan menyarankan agar penilaian lebih menitikberatkan pada kemampuan praktis dan studi kasus, bukan sekadar hafalan konsep.
Salah satu isu yang disorot tajam adalah minimnya perhatian pada pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai kejiwaan calon guru.
Baca Juga: Masuk 06.30 WIB, Begini Jadwal Jam Masuk Sekolah di Jawa Barat: Lengkap Dari PAUD Sampai SMA
Menurut Suyitno, seorang guru ideal harus memiliki passion yang kuat, bukan sekadar menjalani tugas sebagai kewajiban administratif.
“Kalau tidak punya passion, jangan dipaksa jadi guru. Kita tidak sedang mencetak pegawai, tapi pendidik,” katanya.
Ia menyarankan agar PPG dilengkapi dengan sistem karantina karakter atau pelatihan berbasis pembinaan intensif seperti di dunia militer.
Tujuannya, agar calon guru benar-benar mengalami proses pembentukan jati diri sebelum dilepas ke dunia pendidikan.
Ia juga mendorong agar dilakukan profiling DNA talent terhadap mahasiswa PPG untuk mengenali potensi dan kesesuaian mereka dengan dunia pendidikan.
Dengan begitu, pendidikan guru bisa diarahkan lebih personal dan relevan.
Baca Juga: Pemkot Bandung Resmi Punya BPBD, Farhan: Ini Bukan Sekadar Infrastruktur, Tapi Soal Kesiapsiagaan
“Ada orang pintar, tapi tidak cocok jadi guru. Ada yang karismatik, tapi tidak sabar di kelas. Ini harus dikenali sejak awal,” ujarnya.
Profiling ini, menurutnya, bukan untuk menghakimi, tetapi agar setiap individu ditempatkan pada jalur yang paling sesuai dengan potensinya.
Dalam penutupnya, Dirjen Pendidikan Islam menekankan bahwa masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada kualitas gurunya. Dan kualitas guru tidak bisa dibentuk hanya lewat formalitas.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
“PPG harus menjadi ruang pembentukan pendidik, bukan sekadar pengumpul skor. Di tangan guru yang benar, pendidikan akan membentuk peradaban,” pungkasnya. ***




