POJOKSATU.ID - Pada pelaksanaan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025 juga membahas topik tentnag pemanfaatan media video dalam pembelajaran.

Pemanfaatan media video dalam pembelajaran kerap dianggap solusi inovatif, namun tidak selalu berjalan efektif tanpa penyesuaian dengan kebutuhan siswa, khususnya dalam mata pelajaran Matematika.

Berikut pembahasan tentang studi kasus kurangnya efektivitas media video dalam pembelajaran Matematika.

Baca Juga: Hendra Wijaya Resmi Pimpin LPM Plawad, Siap Sinergi Bangun Wilayah Demi Karawang Maju dan Asta Cita Presiden

Masalah yang dihadapi
Di sebuah kelas IV sekolah dasar, seorang guru menghadapi tantangan dalam penggunaan media video pembelajaran untuk menjelaskan konsep pecahan.

Awalnya, guru memanfaatkan video dari platform YouTube dengan harapan mampu menarik minat dan mempermudah pemahaman siswa. Namun, hasilnya justru di luar harapan.

Permasalahan utama yang muncul adalah kurangnya fokus siswa saat menonton video.

Baca Juga: Proses Seleksi Komisi Informasi Kota Cirebon Jangan Ada Cawe - cawe

Beberapa siswa mengeluh bahwa video yang digunakan terlalu cepat, memuat informasi yang berlebihan, dan tidak sesuai dengan gaya belajar mereka.

Guru pun menyadari bahwa meskipun konten visual menarik, tidak semua media video cocok untuk semua kelompok belajar, terutama jika tidak disesuaikan dengan kesiapan kognitif siswa.

Upaya yang Dilakukan
Menanggapi permasalahan tersebut, guru melakukan evaluasi mendalam terhadap video yang digunakan.

Baca Juga: Ini Harapan Menag untuk WMSJ 2025 di Cibubur, Pesannya soal Masa Depan Islam

Langkah pertama adalah mengganti media dengan video pembelajaran yang berdurasi lebih pendek dan menggunakan bahasa yang lebih sederhana.

Langkah berikutnya, guru mulai memproduksi media video sendiri agar bisa menyesuaikan konten dengan karakteristik siswa di kelasnya.

Dalam video yang dibuat, guru menyisipkan contoh soal yang relevan, menambahkan jeda untuk memberi ruang diskusi, dan memberikan lembar aktivitas untuk memastikan siswa tetap aktif selama proses menonton berlangsung.

Baca Juga: Gedung Hotel di Asrama Haji Medan Terbakar Siang Bolong, Petugas Masih Melakukan Pendinginan, Penyebab Masih Diselidiki

Dengan cara ini, siswa tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi terlibat langsung dalam pembelajaran.

Hasil Positif Setelah Perubahan
Upaya ini membuahkan hasil yang signifikan. Siswa menunjukkan peningkatan partisipasi, antusiasme, serta pemahaman terhadap materi pecahan.

Mereka lebih aktif dalam sesi tanya jawab, dan evaluasi harian menunjukkan 90% siswa memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Baca Juga: Kenapa 30 Juli Diperingati Sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka? Begini Sejarahnya

Bahkan, siswa yang sebelumnya kesulitan mulai menunjukkan rasa percaya diri dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

Pembelajaran Berharga dari kasus
Dari pengalaman ini, guru mendapatkan pelajaran penting bahwa efektivitas media pembelajaran tidak cukup hanya bergantung pada visualisasi atau teknologi yang digunakan.

Pemilihan media harus melalui proses seleksi dan uji coba, serta mempertimbangkan karakteristik dan kesiapan belajar siswa.

Baca Juga: 7.569 Siswa Madrasah Ikuti Porseni Jateng 2025 di Purwokerto, Apa Saja Cabang yang Dilombakan?

Membuat media sendiri juga memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan isi materi dengan kebutuhan nyata di kelas.

Pengalaman ini mendorong guru untuk lebih reflektif, kreatif, dan adaptif terhadap dinamika pembelajaran.

Baca Juga: Contoh Studi Kasus PPG 2025: Penerapan Strategi Pembelajaran Mengatasi Hambatan Siswa Dalam Belajar

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Ini menjadi bukti bahwa media pembelajaran yang baik bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu membangun pemahaman dan keterlibatan siswa secara aktif. ***