POJOKSATU.id — Di tengah arus perubahan zaman yang cepat, pendidik bukan sekadar pengajar materi pelajaran.
Lebih dari itu, mereka adalah pemandu yang menuntun anak menuju perkembangan optimal, sebagaimana ditekankan oleh Ki Hadjar Dewantara — Bapak Pendidikan Nasional kita.
Filosofi Ki Hadjar Dewantara diangkat dalam materi Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai (FPPN) pada Post Test PPG 2025.
Pandangan ini mengajak kita melihat pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya — fisik, mental, dan moral.
Soal dan Kunci Jawaban
Soal:
Apa peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara?
A. Melakukan transfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik.
B. Memberikan arahan kepada peserta didik agar tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.
C. Menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak.
D. Mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak agar sukses di masa depan.
E. Membantu anak menemukan potensi dirinya sendiri.
Kunci Jawaban:
C. Menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak.
Penjelasan Filosofi Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara menegaskan, pendidik bukanlah "pengisi botol kosong" atau sekadar pemberi instruksi.
Tugas utama mereka adalah menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang sudah ada pada anak sejak lahir.
Anak dalam pandangan Ki Hadjar Dewantar adalah subjek pendidikan yang memiliki potensi unik.
Pendidik berperan menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang kondusif, agar kekuatan itu berkembang secara alami — menyentuh aspek fisik, intelektual, hingga moral.
Penuntunan ini layaknya dilakukan dengan kesabaran, kasih sayang, dan pemahaman mendalam terhadap kodrat anak.
Pendidik bukan "pemaksa", melainkan pembimbing yang berjalan di sisi anak, mengarahkan tanpa membelenggu kebebasan tumbuhnya potensi.
Pendidikan yang Memerdekakan
Konsep ini pada akhirnya membawa kita pada esensi pendidikan sejati: memerdekakan anak untuk menjadi dirinya sendiri.
Bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan bebas dalam koridor nilai kemanusiaan dan kebudayaan.
Dalam prosesnya, pendidik membekali anak dengan keterampilan hidup, kepekaan sosial, dan kesadaran moral, sehingga kelak mereka bisa hidup harmonis di masyarakat dan memberi kontribusi positif.
Seperti kata Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bukanlah membuat anak menjadi "orang lain", tapi menumbuhkan dirinya yang paling sejati.
Dengan begitu, pendidikan bukan lagi sekadar ruang kelas, melainkan perjalanan hidup yang membentuk karakter bangsa.
Bagaimana menurut bapak ibu?
Adakah tanggapan atau pengalaman di lapangan yang bisa dibagi? Tulis di kolom komentar ya.
Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Rifki Setiadi




