POJOKSATU.id - Membicarakan kesejahteraan petani dan nelayan, persoalannya tidak berhenti pada seberapa banyak hasil panen atau tangkapan yang diperoleh.

Ada persoalan modal, biaya produksi, teknologi, akses pasar, pengolahan hasil, fluktuasi harga, perubahan iklim hingga lemahnya posisi tawar dalam rantai usaha.

Karena itu, meningkatkan produksi saja tidak selalu berarti meningkatkan kesejahteraan.

Baca Juga: Kisah Ironi Mohammad Natsir, Tokoh yang Dikucilkan di Negeri Sendiri Tapi Dihormati Dunia Islam

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan betapa pentingnya melihat persoalan tersebut dari sisi daya tukar.

Nilai Tukar Petani (NTP) membandingkan harga yang diterima petani dengan harga yang harus mereka bayar untuk konsumsi dan kebutuhan produksi.

BPS mencatat NTP nasional pada Mei 2026 sebesar 127,73, naik 1,99 persen dibandingkan April.

Angka itu memang menunjukkan perbaikan secara agregat, tetapi indikator tersebut juga mengingatkan bahwa pendapatan petani tidak bisa dilepaskan dari biaya yang mereka tanggung.

Baca Juga: 350 Km Menyusuri Jawa Barat, Honda Ajak Jurnalis Rasakan Sensasi Touring dengan Motor Matic Premium

Di Jawa Barat, misalnya, NTP Juni 2026 mencapai 118,97, naik 0,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan itu terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat lebih cepat daripada indeks harga yang dibayar.

Dengan kata lain, persoalan kesejahteraan petani bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak, melainkan bagaimana memastikan hasil produksi memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.

Baca Juga: Promo Kemerdekaan XLSMART Hadirkan Diskon dan Kuota Tambahan di Berbagai Layanan

Ketika Produksi Tinggi Belum Tentu Menguntungkan
Petani dapat memperoleh panen melimpah, tetapi menghadapi persoalan ketika banyak komoditas dipanen bersamaan.

Harga turun, sementara hasil pertanian tidak selalu dapat disimpan dalam waktu lama.

Jika fasilitas pengolahan, penyimpanan dan akses pasar terbatas, petani akhirnya memiliki posisi tawar yang lemah.

Situasi serupa dihadapi nelayan. Hasil tangkapan yang besar tidak otomatis meningkatkan pendapatan jika biaya bahan bakar, operasional, penyimpanan dan distribusi tinggi.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional JBB Dorong Ketahanan Energi Desa Suntenjaya, Jadikan Energi Surya Penggerak Ekonomi

Bahkan, nilai ekonomi terbesar bisa justru muncul setelah hasil tangkapan meninggalkan tangan nelayan.

BPS sendiri menempatkan Nilai Tukar Nelayan sebagai indikator yang membandingkan harga yang diterima nelayan dengan biaya produksi serta barang dan jasa yang dikonsumsi.

Ketika indikator berada di bawah 100, daya tukarnya menunjukkan tekanan dibandingkan tahun dasar.

Di sinilah persoalan petani dan nelayan seharusnya dilihat sebagai persoalan ekosistem, bukan semata-mata persoalan produksi.

Baca Juga: Bawa Pesan Rekonsiliasi, Tantan Sulthon Bukhawan Nahkodai PWI Jawa Barat 2026–2031

Kampus Tak Cukup Hanya Menghasilkan Riset
Persoalan berikutnya adalah bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi benar-benar sampai ke lapangan.

Teknologi yang berhasil di laboratorium belum tentu langsung cocok dengan kondisi lahan, kemampuan modal, kebiasaan masyarakat atau kebutuhan pasar.

Karena itu, pendekatan pemberdayaan masyarakat perlu berubah. Bukan lagi sekadar peran kampus memberikan teknologi kepada masyarakat, melainkan kampus dan masyarakat bersama-sama menemukan solusi.

Baca Juga: Beasiswa Chevening OCIS Fellowship 2027 ke Oxford, Indonesia Bisa Daftar hingga 6 Oktober 2026

Petani mengetahui karakter lahan dan komoditasnya. Nelayan memahami kondisi laut, musim dan pola tangkapan.

Pengetahuan lokal tersebut justru dapat menjadi modal penting bagi pengembangan teknologi dan inovasi.

Pertemuan antara pengetahuan lokal dengan riset akademik berpotensi menghasilkan solusi yang lebih realistis sekaligus lebih mudah diterapkan.

Perspektif tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development Equity 2026 yang digelar IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) di Grand Savero Hotel, Bogor, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Bupati Karawang Ajak Warga Jaga Pilkades Digital Tahun Ini Tetap Aman, Damai dan Demokratis

Mengusung tema “Perkuat Kolaborasi Global untuk Dampak Nyata bagi Masyarakat”, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, riset, inovasi dan peluang kolaborasi.

Kepala LPA2I IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, S.Hut., M.Si., menekankan pentingnya Community Development sebagai bagian dari pembangunan ekosistem yang menghubungkan masyarakat, pengetahuan, kewirausahaan, pemerintah, dunia usaha dan jejaring global.

Tiga Jalan Membangun Ekosistem
Gagasan tersebut tercermin dalam tiga inisiatif yang menjadi bagian penting Community Development Equity 2026 yaitu One Village One CEO (OVOC) Internasional, Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA), dan World University Network for Waqf Productive (WUNPROQ).

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Kontrak 1 Tahun, Apakah Bisa Diperpanjang dan Diangkat Jadi Penuh Waktu?

OVOC Internasional diarahkan untuk memperkuat potensi ekonomi desa melalui kewirausahaan dan pengembangan komoditas lokal.

Pengalaman kegiatan inbound di Cianjur, Ciamis dan Lampung Barat serta outbound di sejumlah negara ASEAN, Asia dan Eropa memperlihatkan bahwa desa dapat ditempatkan bukan hanya sebagai lokasi produksi, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang terhubung dengan jejaring lebih luas.

Sementara GNAA membawa pendekatan kolaborasi internasional ke sektor agromaritim.

Akademisi, petani, nelayan dan mitra dari berbagai negara dipertemukan untuk mengembangkan riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat. Yang menarik, arus pengetahuan tidak harus satu arah.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pelaku Penembakan Air Gun di Balikpapan, Ternyata Statusnya Mahasiswa

Teknologi dan pengalaman dari luar dapat dipelajari masyarakat, tetapi kearifan lokal juga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi pengembangan inovasi.

Adapun WUNPROQ menyentuh persoalan yang sering menjadi titik lemah program pemberdayaan yang memfokuskan pada keberlanjutan pembiayaan.

Melalui pengembangan wakaf produktif, inisiatif ini mencoba membuka alternatif pembiayaan yang dapat menopang pendidikan, inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Masyarakat Harus Menjadi Pelaku
Di balik tiga inisiatif tersebut terdapat satu perubahan cara pandang yang penting.

Petani dan nelayan tidak seharusnya diposisikan hanya sebagai penerima bantuan. Mereka adalah pelaku utama.

Mereka memiliki pengetahuan tentang tanah, laut, musim, komoditas, budaya dan pola ekonomi setempat yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku atau laboratorium.

Baca Juga: Jurnalis Senior asal Karawang Oland Sibarani Kembali Pimpin Dewan Kehormatan PWI Jabar

Karena itu, kolaborasi yang sehat bukan sekadar transfer teknologi, melainkan proses belajar dua arah.

Perguruan tinggi membawa ilmu dan riset. Masyarakat membawa pengalaman lapangan. Pemerintah menyediakan kebijakan. Sedangkan dunia usaha membuka akses pasar.

Selain itu, lembaga pembiayaan mendukung modal. Sementara jejaring internasional memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Jika unsur-unsur itu berjalan sendiri-sendiri, dampaknya mudah terputus.

Namun jika terhubung dalam satu ekosistem, sebuah inovasi memiliki peluang lebih besar untuk berubah menjadi usaha, usaha berkembang menjadi sumber pendapatan, dan pendapatan akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Bagi kami, Community Development bukan sekadar kegiatan pendampingan masyarakat, tetapi merupakan upaya membangun ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, hingga jejaring global,” tegas Handian Purwawangsa.

OVOC Internasional, GNAA dan WUNPROQ pada akhirnya menawarkan tiga paket lengkap dari persoalan yang sama: kewirausahaan, pengetahuan dan pembiayaan.

Kolaborasi ini menjadi jembatan untuk memastikan pengetahuan tidak berhenti di kampus, inovasi tidak berhenti di laboratorium, dan potensi desa tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

Bagi petani dan nelayan, dampak akhirnya harus terasa pada hal yang paling sederhana sekaligus paling penting yaitu bertambahnya nilai tambah yang lebih besar, usaha yang lebih kuat, posisi tawar yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih berkelanjutan.***