POJOKSATU.id — Kemampuan berbahasa Inggris kini menjadi salah satu aspek penting yang sering dijadikan persyaratan untuk melanjutkan pendidikan, mendaftar program beasiswa, hingga menunjang kebutuhan karier profesional.

Salah satu bentuk pengukuran kemampuan bahasa Inggris yang paling umum digunakan adalah TOEFL atau Test of English as a Foreign Language.

Namun, tidak sedikit peserta yang merasa kesulitan saat menghadapi tes ini.

Baca Juga: Mau Donor Darah? Ini Syarat Lengkap yang Harus Dipenuhi Sebelum Datang

Kendala yang sering muncul biasanya berkaitan dengan keterbatasan penguasaan kosakata, pemahaman tata bahasa, hingga kemampuan menyimak atau listening yang masih kurang optimal.

Meski demikian, mempersiapkan diri menghadapi TOEFL sebenarnya tidak selalu membutuhkan biaya besar maupun metode belajar yang rumit.

Dengan strategi belajar yang tepat dan dilakukan secara konsisten, peluang untuk meningkatkan skor TOEFL akan semakin besar.

Baca Juga: Kemnaker Fokuskan Empat Pilar Strategis Ketenagakerjaan 2026 Hadapi Transformasi Dunia Kerja

Hal terpenting dalam proses persiapan ini adalah rutin berlatih, memahami karakteristik soal, serta membiasakan penggunaan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.

Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami format dan jenis soal TOEFL yang akan dihadapi.

Peserta perlu mengenali apakah tes yang diikuti berupa TOEFL ITP atau TOEFL iBT karena keduanya memiliki karakteristik berbeda.

Baca Juga: Sering Emosian dan Sulit Paham Perasaan Orang? Ini 10 Tanda EQ Rendah

Secara umum, tes TOEFL terdiri atas beberapa bagian utama, seperti listening, structure and written expression, reading, serta writing atau speaking pada jenis tes tertentu.

Pemahaman mengenai pola soal sejak awal akan membantu peserta menentukan strategi belajar yang lebih terarah.

Selain memahami format tes, memperkaya penguasaan kosakata bahasa Inggris juga menjadi hal yang sangat penting.

Vocabulary merupakan salah satu modal utama dalam menjawab soal TOEFL dengan baik.

Baca Juga: Apa Bedanya IQ dan EQ? Jangan Salah Paham, Ternyata Pengaruhnya Besar untuk Kesuksesan

Peserta dapat mulai membiasakan diri mempelajari kata-kata baru setiap hari, misalnya sekitar 10 hingga 20 kosakata lengkap dengan arti serta contoh penggunaannya dalam kalimat.

Fokus belajar sebaiknya diarahkan pada kosakata akademik yang kerap muncul dalam soal TOEFL, seperti topik pendidikan, lingkungan, kesehatan, teknologi, hingga ilmu pengetahuan.

Kemampuan mendengar bahasa Inggris juga perlu diasah secara rutin karena bagian listening sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak peserta.

Baca Juga: Kemensos Usulkan Pengadaan Sekolah Rakyat Diserahkan Lembaga Lain Setelah Bertemu KPK?

Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri mendengarkan percakapan atau materi berbahasa Inggris setiap hari.

Podcast, video edukasi, berita internasional, hingga film berbahasa Inggris tanpa subtitle Indonesia dapat menjadi sarana latihan yang efektif untuk membantu telinga lebih terbiasa memahami pelafalan, intonasi, serta kecepatan berbicara penutur asli.

Tidak hanya itu, kemampuan membaca cepat dan memahami isi teks juga perlu ditingkatkan.

Pada bagian reading, peserta biasanya dihadapkan pada bacaan yang cukup panjang dengan batas waktu tertentu.

Baca Juga: Farhan Klaim Pengamanan Persib vs Persija Berjalan Sukses, 10 Insiden Tertangani

Oleh sebab itu, membiasakan diri membaca artikel berbahasa Inggris dapat menjadi latihan yang efektif.

Saat membaca, cobalah memahami ide pokok, informasi penting, hingga arti kata berdasarkan konteks kalimat tanpa harus selalu menerjemahkan setiap kata satu per satu.

Penguasaan tata bahasa atau grammar juga memegang peranan penting dalam tes TOEFL, khususnya pada bagian structure and written expression.

Materi dasar seperti tenses, subject-verb agreement, passive voice, conjunction, hingga pola kalimat kompleks perlu dipelajari kembali secara bertahap.

Tidak perlu terburu-buru menguasai semuanya sekaligus, karena belajar sedikit demi sedikit tetapi dilakukan secara konsisten cenderung lebih efektif.

Baca Juga: Pemotor Viral Intimidasi Sopir Ambulans Ditetapkan Tersangka oleh Polresta Depok

Agar semakin terbiasa dengan pola soal, peserta juga disarankan rutin mengerjakan simulasi TOEFL.

Melalui latihan soal secara berkala, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang masih menjadi kelemahan sekaligus melatih kecepatan dalam menjawab pertanyaan.

Mengikuti simulasi dengan durasi waktu seperti tes asli juga dapat membantu meningkatkan kesiapan mental saat menghadapi ujian sebenarnya.

Dalam proses belajar, penting untuk menerapkan kebiasaan belajar yang konsisten dibandingkan belajar terlalu lama dalam satu waktu.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Soroti Kebocoran Parkir hingga BUMD Merugi, Erick: Harus Ada Gebraka

Belajar bahasa Inggris selama 30 hingga 60 menit setiap hari umumnya lebih efektif dibandingkan belajar berjam-jam tetapi tidak rutin.

Membuat jadwal belajar yang terstruktur, misalnya satu hari fokus pada listening, hari berikutnya mempelajari grammar, lalu dilanjutkan dengan latihan membaca, bisa membantu proses belajar menjadi lebih teratur.

Di samping itu, peserta juga perlu menghilangkan rasa takut melakukan kesalahan saat berlatih.

Baca Juga: Beasiswa MOFA Taiwan Fellowship 2027 Dibuka, Tunjangan hingga Rp30 Juta per Bulan dan Riset di Taiwan

Banyak orang kesulitan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karena terlalu khawatir salah saat berbicara atau menulis.

Padahal, kesalahan merupakan bagian alami dari proses belajar.

Semakin sering berlatih dan mencoba, kemampuan memahami pola bahasa Inggris akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu.***