POJOKSATU.id - Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang dikenal sebagai perguruan tinggi pertama di Banten yang punya sejarah panjang dan penuh perjuangan.
Nama Syekh Yusuf Almakassari diabadikan sebagai identitas kampus ini, bukan tanpa alasan.
Ia merupakan ulama, pejuang, sekaligus pahlawan nasional asal Makassar yang kiprahnya begitu besar dalam melawan penjajahan.
Baca Juga: Kelapa Gading
Kisah Syekh Yusuf bermula saat kemasyhurannya terdengar oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada tahun 1664, ia diminta mengajar putra-putri sultan di Banten, hingga akhirnya menikah dengan Syarifah, putri Sultan.
Sosoknya dikenal gigih dan berani, bahkan ditakuti oleh penjajah Belanda.
Baca Juga: Persija vs Persib Digelar di GBK 10 Mei, PSSI Pastikan Tak Ganggu Agenda Timnas
Salah satu peristiwa bersejarah terjadi di Muara Sungai Citanduy saat ia berhadapan dengan pasukan Belanda, hingga putrinya, Asma, sempat dijadikan sandera.
Pada tahun 1683, Syekh Yusuf akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Seylon, Sri Lanka. Meski dalam pembuangan, semangatnya tak padam.
Ia tetap menyebarkan syiar Islam dan melawan penjajahan hingga wafat di Afrika Selatan pada 1699. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Gowa, Sulawesi Selatan.
Berabad-abad kemudian, semangat perjuangan itu seolah hidup kembali dalam berdirinya UNIS Tangerang pada tahun 1966.
Saat itu, situasi politik Indonesia tengah mencekam pasca peristiwa Gerakan 30 September. Akses pendidikan tinggi bagi pemuda Tangerang pun terbatas dan mahal.
Dari situlah muncul inisiatif para pemuda yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa untuk mendirikan perguruan tinggi di daerahnya sendiri.
Baca Juga: Daftar 20 Kampus Terpopuler di Jakarta 2026 Versi uniRank, Ada Kejutan di Posisi 5 Besar
Gagasan ini digerakkan oleh mahasiswa yang kuliah di Jakarta seperti Muhammad Astary, M. Thamrin HR, dan M. Sanny Iskandar.
Perkuliahan pertama dimulai pada 10 November 1966 dengan satu fakultas gabungan Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik. Saat itu, jumlah mahasiswa mencapai 219 orang.
Seiring waktu, UNIS Tangerang terus berkembang. Fakultas baru dibuka, gedung diperluas, hingga akhirnya memiliki berbagai program studi dan fasilitas yang menunjang proses belajar.
Baca Juga: UGM Resmi Jadi Kampus 'Super Sehat' di ASEAN, Raih 5-Star Plus Berturut-turut
Dukungan pemerintah daerah, masyarakat, hingga para pengusaha turut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang kampus ini.
Pada era 2000-an, UNIS mulai membuka program pascasarjana dan terus meningkatkan kualitas pendidikan.
Pembangunan gedung-gedung baru juga dilakukan, termasuk Gedung A yang kini dikenal sebagai Gedung Muhamad Astary, serta Gedung Hasan Djakaria.
Baca Juga: Militer Iran Siap Perang Lagi dengan AS, Tolak Rencana Trump Memandu Kapal di Selat Hormuz
Kini, UNIS Tangerang telah memiliki reputasi yang baik dengan akreditasi yang diakui secara nasional.
Kampus ini juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat posisi sebagai institusi pendidikan yang kompetitif.
Tak hanya itu, UNIS juga terus mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga: Militer Iran Siap Perang Lagi dengan AS, Tolak Rencana Trump Memandu Kapal di Selat Hormuz
Didukung dosen yang berpengalaman dan mahasiswa yang aktif, kampus ini berupaya menciptakan lulusan yang siap bersaing di era global.
Ke depan, UNIS Tangerang menargetkan diri sebagai kampus berbasis teknologi digital.
“Kita dapat mengembangkan berbagai hal yang berkaitan dengan Iptek. Terutama teknologi digital semakin hari semakin berkembang. Sampai tahun 2036 kita arahkan Unis sebagai kampus yang berbasis pada teknologi digital,” ujar Prof.Dr.H. Mustofa Kamil, Dip.,RSL.,M.Pd.
Baca Juga: Bukan Cuma Sawit, Dana Riset 2026 Buka Jalan Besar untuk Kakao dan Kelapa
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembaruan kurikulum, serta adaptasi terhadap perubahan budaya masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan masa depan. “Kemudian layanan kepada mahasiswa harus diperbaiki bukan hanya layanan pembelajaran konvensional tapi juga layanan pembelajaran digital,” tutupnya.
Sebagai kampus yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, UNIS Tangerang juga memiliki filosofi mendalam dalam logonya, yang mencerminkan Pancasila, keilmuan, serta keimanan.
Visi besarnya adalah menjadi universitas Islam entrepreneurial yang kompetitif dan inovatif di era digitalisasi pada tahun 2036.
Baca Juga: 1.000 Pengungsi di Medan Jadi Sorotan, Risiko Sosial Mulai Terlihat
Perjalanan panjang UNIS Tangerang bukan sekadar cerita sejarah, tapi juga cerminan semangat untuk terus tumbuh dan beradaptasi.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, kampus ini seperti mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tapi juga tentang membangun harapan dan masa depan yang lebih baik.***




