POJOKSATU.Id- Mencari Cara Agar Kampung Tak Hilang menjadi tujuan besar Lea Sebagai Wisudawan Terbaik ITB setelah melihat perubahan kota.

Dimakan Zaman, banyak permukiman tradisional kehilangan identitas aslinya. Hal inilah yang mendorongnya kembali ke bangku kuliah. Di ITB, ia mengeksplorasi ide-ide baru untuk pelestarian.

Tesisnya fokus pada Kampung Sewu di Solo sebagai contoh. Lea berusaha merumuskan pendekatan yang bisa direplikasi. Upayanya ini membawanya menjadi salah satu wisudawan terbaik Oktober 2025.

Pad Bandung, 27 Oktober 2025, Aprilea Sofiastuti Ariadi, yang akrab disapa Lea, tercatat sebagai salah satu wisudawan terbaik dalam Wisuda Oktober ITB 2025. Acara yang berlangsung pada 23-24 Oktober di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB ini mengukuhkan perjalanan akademik Lea dari latar belakang profesional menuju eksplorasi mendalam tentang permukiman tradisional.

Baca Juga: Belum Cair? Ini Tahapan Resmi THR TPG 100 Persen dan Gaji ke-13 Guru ASN

Alumnus S1 Universitas Diponegoro ini sebelumnya telah mengawali karier di sebuah biro arsitektur di Bandung, dengan pengalaman menangani beragam proyek publik seperti alun-alun dan perpustakaan. Setelah lima tahun berkarier, ia merasa perlu mendalami ilmu lebih lanjut.

“Secara pribadi, saya ingin belajar lebih banyak agar dapat memberi lebih banyak,” ungkap Lea. Dorongan untuk memenuhi syarat pendidikan lanjutan guna memperoleh legitimasi profesi arsitek juga membawanya memilih Program Magister Arsitektur di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.

Kembali ke dunia kampus memberikan pengalaman berbeda baginya. Lea menyoroti kebebasan bereksplorasi dalam bimbingan akademik, yang kontras dengan dunia profesional yang dibatasi oleh anggaran dan keinginan klien.

Selama studi, ia mengaku banyak mendapat inspirasi dari interaksi dengan mahasiswa lintas angkatan dan mahasiswa pertukaran pelajar, yang memperkaya perspektifnya melalui kolaborasi lintas budaya.

Baca Juga: Miris! Pencairan JHT Hanya Diterima 50 Persen karena Pakai Calo, Ini Kerugian Besar yang Dialami Pekerja

Awal ketertarikan Lea pada topik tesisnya berawal dari pengalaman mengikuti kompetisi desain besar di Singapura, yang menantangnya merancang sebuah pulau dengan pendekatan humanisme dalam arsitektur. Pengalaman itu menyadarkannya akan pentingnya pendekatan multidisiplin, yang kemudian mendorongnya mengikuti workshop bersama dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITB dan turun langsung melakukan pemetaan di Kampung Lebak Siliwangi, Bandung.

“Permukiman manusia berawal dari kampung. Bahkan di kota, kampung tetap ada sebagai entitas yang unik,” jelas perempuan asal Semarang tersebut. Penelusurannya mengarah pada kampung-kampung di Jawa yang berkembang dari daerah aliran sungai, hingga akhirnya memilih Kampung Sewu di Solo sebagai fokus penelitian tesisnya. Kampung ini dahulu merupakan bandar penting yang menghubungkan Kota Solo dengan jalur sungai, namun fungsinya memudar seiring perubahan transportasi.

Melalui penelitiannya, Lea berupaya merumuskan pendekatan yang dapat diterapkan untuk menjaga nilai sejarah, budaya, dan identitas lokal kampung-kampung serupa di Indonesia. “Setiap kampung memiliki kekayaan dan keunikan nilainya sendiri,” tegasnya.

Baca Juga: Rezeki Awal Tahun! KKS BPNT Subang Cair Rp600 Ribu Mulai 10 Januari 2026, Begini Cara Cek dan Ambil Dana Kamu!

Setelah menyelesaikan studi magisternya, Lea berencana kembali ke dunia profesional. Ia percaya bahwa pengalaman praktik akan membuka peluang bagi panggilan akademiknya di masa depan, dalam upaya terus berkontribusi pada masyarakat melalui arsitektur dan perencanaan yang berkelanjutan***Siti