POJOKSATU.id - Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan cerita yang panjang, penuh putaran, sekaligus inspiratif.
Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu masih terkendala syarat tahun kelulusan yang belum terpenuhi.
Nah, justru rangkaian pengalamannya—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024, membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Ekonomi Lemot, Warga Kabur Cari Nafkah! Purbaya: Itu Kegagalan Kita!
Austria menjadi pilihannya bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studi yang aman, inklusif, dan ramah bagi peneliti internasional.
“Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Seleksi Ketat dan Tantangan Supervisor
Proses seleksi beasiswa berlangsung cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia.
Baca Juga: Demi TPP 13 dan 14 ASN Tetap Cair, Pemprov Kepri Tancap Gas Kejar Pendapatan PAD di 2026
Wawancara pun langsung masuk ke inti riset yang ia ajukan, tanpa basa-basi.
“Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya.
Riset: AI untuk Tingkatkan Kesadaran Kebahasaan
Penelitian doktoral Fida mengusung topik AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language.
Baca Juga: Heboh TPP PNS Dipangkas untuk Menutup Tunjangan PPPK! Segini Besaran Pemangkasan dan Dampaknya
Fokusnya pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA.
Menurutnya, tata bahasa sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar.
Dengan pendekatan mixed method, ia akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam.
Tantangan terbesar justru ada pada penyusunan desain intervensi yang harus merangkum fonologi, morfologi, sintaksis, sampai semantik dalam satu alur penelitian yang solid.
“Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna.
Bahkan saya disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya.
Baca Juga: Jadwal PPG Guru Tertentu Tahap 5 Bikin Kaget Skema Cepat 15 Hari, Belajar Mandiri Cuma Seminggu
Adaptasi Budaya: Dari Ruhetag hingga Perpustakaan yang Tenang
Di luar kesibukan akademik, Fida mengaku banyak mendapatkan pengalaman budaya di Austria.
Mulai rutinitas Ruhetag yang membuat hampir semua toko tutup pada hari Minggu, budaya ramah bagi pejalan kaki, hingga banyaknya diskusi dan workshop lintas budaya, agama, dan disiplin ilmu.
Perpustakaan menjadi tempat favoritnya. Suasana tenang ditambah pemandangan para lansia yang tetap tekun belajar membuatnya merasa sangat terinspirasi.
Baca Juga: Heboh Jalan DI Panjaitan Diduga Disulap Jadi Parkir Mobil Dinas, Kemenag DKI Akhirnya Buka Suara
“Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” pesannya. ***




