POJOKSATU.ID - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan bantuan berupa tunjangan khusus bagi para pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang menjadi korban bencana alam.

Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian negara terhadap para guru yang tetap harus menghadapi masa sulit di penghujung tahun, di saat masyarakat lain umumnya merayakan momen kebersamaan bersama keluarga.

Sesjen Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa pemberian insentif ini diharapkan dapat mengurangi beban ekonomi para guru selama masa pemulihan.

Pemerintah ingin memastikan bahwa tenaga pendidik tidak merasa berjuang sendirian dan tetap memiliki optimisme untuk bangkit kembali setelah tertimpa musibah.

Baca Juga: Sedang Berlangsung, Penyaluran Dana Bantuan Rp32,9 Miliar untuk Guru Hingga Bulan Depan!

Bantuan tersebut didistribusikan kepada belasan ribu tenaga pengajar dengan total nominal yang disesuaikan dengan jumlah terdampak di tiap tingkatan:

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Sebanyak 915 guru menerima total bantuan senilai Rp1,8 miliar.

Pendidikan Dasar: Menjadi kelompok terbesar dengan 10.274 guru yang menerima kucuran dana sebesar Rp20,5 miliar.

Pendidikan Menengah: Terdapat 5.258 guru yang mendapatkan total alokasi sebesar Rp10,5 miliar.

Tenaga Kependidikan: Sebanyak 20 orang staf kependidikan di Aceh dan Sumatra Barat masing-masing memperoleh santunan sebesar Rp2 juta.

Baca Juga: Beda Daerah Beda Nasib, Gaji PPPK Paruh Waktu Bervariasi dari Mulai Rp2-5 Jutaan Tergantung Wilayah Penempatan

Pihak Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) menyatakan bahwa proses verifikasi tetap dilakukan namun dengan skema yang lebih longgar guna mempercepat distribusi.

Syarat utamanya adalah tenaga pendidik tersebut harus terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan terverifikasi mengajar di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang dilanda bencana.

Penyaluran dana ini dilakukan dalam satu kali pembayaran (setara satu bulan tunjangan) yang proses tahap pertamanya telah dimulai sejak 24 Desember 2025.

Proses ini akan terus berjalan secara bertahap hingga menjangkau seluruh penerima yang sah.

Data per pertengahan Desember 2025 menunjukkan kerusakan masif pada infrastruktur dan sumber daya manusia di dunia pendidikan.

Selain rusaknya lebih dari 6.000 ruang kelas dan ribuan sekolah, bencana ini juga memakan korban jiwa dari kalangan guru dan siswa.

Hingga saat ini, ribuan warga sekolah lainnya masih terpaksa menetap di lokasi pengungsian karena fasilitas sekolah dan tempat tinggal yang tidak lagi memadai.***

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala