POJOKSATU.id - Budidaya pepaya Calina di Desa Cidolog, Ciamis, mulai berkembang dari sekadar aktivitas pertanian menjadi ekosistem bisnis yang menghubungkan petani dengan pasar modern.

Desa Cidolog merupakan salah satu desa binaan IPB University yang mengembangkan pepaya Calina.

Selama sekitar tiga tahun, komoditas tersebut telah mampu menjangkau pasar modern sekaligus mendorong munculnya petani-petani pepaya baru di wilayah sekitar, termasuk Banjar dan Pangandaran.

Perkembangan akses pasar turut berdampak pada harga yang diterima petani. Sebelumnya, pepaya Calina berada di kisaran Rp1.800–Rp2.200 per kilogram.

Baca Juga: Heboh, Indonesia Ekspor Monyet untuk Riset, Begini Penjelasan Pakar IPB

Melalui peningkatan kualitas produksi dan penguatan akses pasar, harga pepaya Calina dari petani kini dapat mencapai sekitar Rp7.000–Rp9.000 per kilogram.

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh petani. Asep, Ketua Kelompok Tani Mekar Mulya, mengatakan pendampingan IPB membantu masyarakat mengembangkan lahan sendiri sekaligus membuka akses pasar yang lebih menguntungkan.

“Berkat pendampingan IPB, masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai buruh kini sudah bisa mengelola lahan sendiri.

Pepaya yang sebelumnya dijual ke pasar dengan harga rendah juga sudah bisa masuk supermarket dengan harga yang lebih menguntungkan,” ujar Asep.

Pepaya Calina sendiri merupakan varietas yang dikembangkan almarhumah Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, M.S. Pengembangannya dilakukan melalui penelitian selama sekitar 10 tahun dengan memanfaatkan berbagai plasma nutfah pepaya.

Baca Juga: Mahasiswa IPB Dorong Desa Babakan Sadeng Perkuat Keamanan Pangan dari Rumah hingga UMKM

Dari penelitian tersebut dihasilkan pepaya dengan ukuran buah sedang, daging buah berwarna oranye kemerah-merahan, serta tingkat kemanisan sekitar 10–13 °Brix.

Pengembangan di Cidolog kemudian diperkuat melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam).

Program ini mempertemukan petani dengan dosen dan peneliti yang mengembangkan langsung pepaya Calina.

Kegiatan Dospulkam yang berlangsung perdana pada 25 September 2026 tersebut diketuai Prof. Dr. Ir. Ketty Suketi, M.Si., dengan anggota Dr. Endang Gunawan, S.P., M.Si., dan Dr.rer.pol. Mohammad Iqbal Irfany, M.App.Ec.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Endang menjelaskan sejarah dan karakteristik pepaya Calina, umur produktif tanaman, hingga jenis bunga.

Tim juga melakukan pendampingan langsung di lahan untuk melihat kondisi tanaman yang dibudidayakan petani.

Pendampingan mencakup penerapan manajemen budidaya sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP), sehingga peningkatan produksi tetap diikuti dengan upaya menjaga kualitas hasil panen.

Baca Juga: Mahasiswa KKN-T IPB Kenalkan Kandang Sirkular Maggot BSF, Solusi Hemat Pakan bagi Peternak Desa Gumul

Sementara itu, Dr. Iqbal Irfany turut mengarahkan penguatan ekosistem bisnis melalui peningkatan kualitas produk, pengelolaan pascapanen, hingga pemasaran bersama mitra offtaker.

Produk pepaya yang dihasilkan petani perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar melalui proses sortir dan grading.

Langkah tersebut menjadi bagian penting agar hasil produksi dapat memenuhi standar pasar yang dituju.

Baca Juga: PGA IPB Scholarship 2026 Resmi Dibuka, Cek Benefit, Syarat dan Link Pendaftaran

Bagi petani Cidolog, pendampingan bersama para peneliti pepaya Calina tidak hanya menambah pengetahuan tentang budidaya, tetapi juga membuka pemahaman mengenai pentingnya kualitas produk dan akses pasar.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pepaya Calina Cidolog agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus memperluas manfaatnya bagi petani di wilayah sekitar. ***