POJOKSATU.id – Kabar membanggakan datang dari dunia riset Indonesia. Seorang peneliti Universitas Indonesia (UI) berhasil mengembangkan formula aspal modifikasi berbahan dasar aspal alam Pulau Buton dan oli mesin bekas yang diklaim lebih kuat, ramah lingkungan, sekaligus berpotensi mengurangi biaya pemeliharaan jalan.

Inovasi tersebut juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap aspal impor dengan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri yang selama ini belum tergarap secara optimal.

Penelitian ini dikembangkan oleh Andi Muhammad Ifrad yang berhasil meraih gelar doktor dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).

Baca Juga: Tecno Pova 8 5G Resmi Buka Preorder di Indonesia, Baterai 8.000 mAh dan Layar 144Hz Jadi Andalan

Andi mengatakan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa aspal alam Pulau Buton memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi material konstruksi yang mampu bersaing secara nasional.

"Saya ingin menunjukkan bahwa aspal alam Buton memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi material konstruksi yang kompetitif secara nasional," ujarnya di Kampus UI Depok, Kamis (9/7/2026).

Menurut Andi, formula aspal modifikasi tersebut dirancang untuk meningkatkan ketahanan jalan terhadap karakteristik iklim tropis Indonesia sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Sempat Tenang Sebelum Jumat, Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur Sabtu Dinihari

Ia menjelaskan perpaduan antara aspal alam Buton dan oli mesin bekas mampu meningkatkan performa perkerasan jalan, memperpanjang umur layanan jalan, serta menekan biaya perawatan melalui pemanfaatan material lokal dengan pendekatan ekonomi sirkular.

Indonesia sendiri diketahui memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia yang berada di Pulau Buton.

Sayangnya, potensi tersebut hingga kini masih belum dimanfaatkan secara maksimal meski memiliki nilai komersial maupun rekayasa yang sangat besar.

Baca Juga: Beasiswa PMDSU Angkatan X 2026 Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis 4 Tahun dengan Dana Riset hingga Rp60 Juta per Tahun

Dekan Fakultas Teknik UI, Kemas Ridwan Kurniawan, menilai penelitian tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia mampu diolah menjadi solusi rekayasa yang inovatif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, Fakultas Teknik UI terus mendorong lahirnya berbagai penelitian yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat industri konstruksi nasional, meningkatkan daya saing bangsa, serta mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Baca Juga: Perang Bintang

Dalam sidang promosi doktor, Andi mempertahankan disertasinya yang berjudul Response Surface Methodology for Modeling the Rheological Characteristics of Modified Buton Natural Asphalt Based on Rutting and Resilient Modulus Analysis.

Penelitian tersebut mengantarkannya meraih gelar doktor dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dan predikat summa cum laude.

Prestasi itu sekaligus menjadikan Andi sebagai lulusan doktor ke-92 dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan serta doktor ke-661 dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Baca Juga: Prediksi Skor Argentina vs Swiss, Nilai Pasaran Agak Mengejutkan

Kemas menambahkan bahwa inovasi tersebut mengombinasikan aspal alam Buton, bahan aditif elastomer, dan oli mesin bekas untuk meningkatkan fleksibilitas, stabilitas, serta ketahanan terhadap deformasi akibat beban lalu lintas yang berat.

Tak hanya itu, penelitian ini juga memanfaatkan pengujian laboratorium yang dipadukan dengan simulasi komputer menggunakan metode Finite Element Method (FEM).

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti memprediksi kinerja jalan dalam jangka panjang sehingga dapat membantu proses desain jalan, penyusunan strategi pemeliharaan, hingga pengelolaan infrastruktur yang lebih efektif.

Baca Juga: Beasiswa Grab Scholar 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa Baru S1 Bisa Dapat Biaya Kuliah, Uang Saku hingga Kesempatan Magang

Pengembangan teknologi ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal tidak hanya mampu menjawab tantangan pembangunan infrastruktur nasional, tetapi juga membuka peluang lahirnya material konstruksi yang lebih berkelanjutan, bernilai ekonomi tinggi, dan mampu meningkatkan kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan aspal di masa depan. ***