POJOKSATU.id - Jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) semakin diminati siswa SMA, SMK, dan MA di Indonesia.

Namun di balik lonjakan jumlah pendaftar setiap tahun, tersimpan satu fakta penting yang tak bisa diabaikan, yaitu peluang lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) justru kian menyempit.

SNBP menjadi jalur favorit karena menilai prestasi akademik dan nonakademik tanpa ujian tertulis.

Baca Juga: Dinsos Kota Bandung Perketat Penanganan Tunawisma, Warga Lokal Direhabilitasi, Pendatang Dipulangkan

Sistem ini dianggap lebih ramah bagi siswa berprestasi sejak bangku sekolah. Tak heran, jumlah pendaftar terus mencetak rekor baru dari tahun ke tahun.

Data menunjukkan, pada 2021 jumlah pendaftar jalur prestasi, yang saat itu masih bernama SNMPTN, tercatat lebih dari 593 ribu siswa.

Angka ini meningkat menjadi 663.181 pendaftar pada 2023 dan kembali naik menjadi 702.312 pendaftar pada 2024.

Baca Juga: Uang Haji Berputar Rp18 Triliun, Gus Irfan Mengingatkan Jajarannya, Jangan Tergoda Ini Urusan Dunia dan Akhirat

Lonjakan terbesar terjadi pada tahun 2025, dimana jumlah pendaftar SNBP mencapai 776.515 siswa.

Hal ini menjadikannya sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan jalur seleksi berbasis prestasi ini.

Daya Tampung Tak Ikut Naik
Sayangnya, peningkatan minat tersebut tidak diiringi penambahan daya tampung yang signifikan.

Baca Juga: Dari GratisPol 2026 ke Dunia Kerja, Apakah Lulusannya Benar-Benar Pulang Bangun Daerah?

Pada SNBP 2025, total kursi yang disediakan oleh 146 PTN hanya mencapai 181.425 kursi.

Rinciannya terdiri atas 16.150 kursi untuk program diploma tiga (D3), 22.603 kursi untuk diploma empat atau sarjana terapan (D4), serta 142.672 kursi untuk program sarjana.

Dengan perbandingan tersebut, persaingan SNBP semakin ketat. Secara kasar, satu kursi diperebutkan hampir lima pendaftar, dengan tingkat keketatan sekitar 22 persen.

Baca Juga: Jumlah Tunawisma di Kota Bandung Naik Tajam Jelang Ramadan, Tembus 2.003 Orang

Artinya, sebagian besar pendaftar harus siap menghadapi kenyataan tidak lolos di jalur ini.

Persaingan Menggila di Kampus Favorit
Kondisi persaingan semakin terasa di tingkat perguruan tinggi. Sejumlah kampus favorit mencatat lonjakan pendaftar yang jauh melampaui daya tampung.

Universitas Sumatera Utara (USU), misalnya, mencatat 31.900 pendaftar SNBP pada 2025, sementara kursi yang tersedia hanya 2.606. Artinya, peluang masuk di kampus ini semakin kompetitif, bahkan untuk siswa dengan prestasi baik.

Baca Juga: Hari Desa Nasional 2026, Apakah Dana Desa dan Pemberdayaan Jadi Fokus Utama?

Situasi serupa terjadi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ). Kampus ini menerima hampir 19.437 pendaftar, padahal daya tampungnya hanya 914 kursi.

Data tersebut menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga semakin tajam di level institusi dan program studi.

Strategi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Nilai
Tren ini menjadi sinyal kuat bahwa mengandalkan prestasi saja tidak lagi cukup.

Baca Juga: Bukan Karena Benar, Berikut Penjelasan Psikologi, Mengapa Isu Panik 7 Hari Cepat Viral

Calon mahasiswa dituntut lebih cermat dalam menyusun strategi, mulai dari pemilihan jurusan yang realistis, membaca daya tampung, hingga memaksimalkan rekam jejak prestasi nonakademik.

Dengan jumlah pendaftar yang terus meningkat dan daya tampung yang relatif stagnan, SNBP diperkirakan akan semakin selektif pada tahun-tahun mendatang. Kesalahan strategi kecil saja bisa berakibat fatal.

Bagi siswa kelas akhir, memahami tren SNBP bukan sekadar informasi tambahan, melainkan bagian penting dari perencanaan masa depan pendidikan.

Baca Juga: Strategi Jitu Memilih Prodi SNBP 2026 Sesuai Kampus Tujuan, Jangan Asal Pilih!

Jalur prestasi memang menjanjikan, tetapi persaingannya kini menuntut kesiapan yang jauh lebih matang. ***