POJOKSATU.id - Pada Pemilu 2024, pemilih muda dan pemilih pemula diperkirakan mendominasi jumlah pemilih secara keseluruhan dengan persentase 52% dari total 204.807.222 jiwa Daftar Pemilih Tetap Nasional.

Pemilih muda dan pemilih pemula adalah pemilih yang rata-rata berusia 17–39 tahun, disebut sebagai generasi milenial dan generasi Z yang saat ini turut menentukan nasib bangsa dengan mengikuti Pemilu 2024.

Suara pemilih pemula dan pemilih muda turut menentukan keterpilihan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden serta calon anggota legislatif dalam Pemilu 2024.

Secara definisi, pemilih pemula adalah warga negara Indonesia yang pada hari pemungutan suara Pemilu 2024 yaitu pada tanggal 14 Februari 2024 sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah/pernah menikah.

Baca Juga: Jadi Daya Tarik, TPS 006 Kelurahan Cemara Deli Serdang Usung Konsep Valentine

Pemilih pemula ini biasanya adalah mahasiswa dan pelajar, juga para pekerja muda atau fresh graduate.

Rata-rata dari pemilih muda memiliki akses yang lebih luas ke media massa dan media sosial dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Menyadari pentingnya memiliki hak untuk memilih, siswi SMA Negeri 2 Cibinong Dira Deliana berusaha mengetahui calon pemimpin negara dan wakil rakyat dengan melalukan cara yang menurutnya seru dan menyenangkan.

"Yang pertama, saya melalukan penelitian sendiri dengan mencari biodata, rekam jejak, bagaimana kinerja para kandidat," ungkap pelajar jurusan IPS ini.

Selain itu ia juga seru-seruan melakukan debat dengan teman kelas, bahkan guru dan keluarga.

Baca Juga: Pelajar Ini TIDAK PUAS, Menilai Belum Ada Terobosan Pendidikan dalam Debat Capres, Programnya TIDAK MASUK AKAL

"Jadi debatnya merupakan hasil penelitian sendiri atau pengamatan orang lain, sehingga informasi yang didapatkan untuk diri sendiri, bisa bertambah," ujar pemilih muda di Kp.Warnasari, Kecamatan Sukaraja, Kelurahan Cilebut Timur, Kabupaten Bogor ini.

Ia juga mengamati dan menonton debat di TV, atau di media sosial seperti YouTube tentang politik yang dilakukan oleh mahasiswa, pengamat politik, timses dan lain-lain sehingga informasi mempertajam informasi yang diterimanya.

"Saya berharap banyak kepada calon presiden siapapun itu, semoga bisa bertanggung jawab atas janjinya, dan bisa memajukan Indonesia," pungkasnya.

Serupa, Aditya Pratama seorang pemilih pemula di Jl.Tanjung, Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor juga berusaha memahami terlebih dahulu latar belakang calon yang ia pilih.

Baca Juga: Uniknya TPS Jatipamor Majalengka, Mengusung Filosofi Candi dan Tema Terakota, Warga Jadi Semangat Nyoblos, Maknanya Dalem Banget!

"Saya berusaha memahami latar belakang, rekam jejak, dan visi dari setiap calon. Informasi ini bisa diperoleh melalui debat dan berita yang beredar," ungkap pelajar SMK Borcess Bogor ini.

Ia juga berharap agar para pemimpin bangsa dan wakil rakyat dapat mengurangi kesenjangan sosial dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Tapi, kita juga harus realistis dan memahami bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna. Kita perlu memberikan dukungan dan kritik konstruktif agar mereka dapat bekerja lebih baik," ujarnya memberikan pandangan.

Dari Jawa Timur, warga Surabaya Zafira Zahrani Wally yang kini kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNV) Jawa Timur juga mengukur pilihannya berdasarkan debat capres-cawapres yang ada di tv.

Baca Juga: TPS Unik di Cianjur, Petugas KPPS Pakai Baju SMA

"Saya memilih capres dan cawapres bukan hanya bermodal ikut-ikitan saja atau yang penting nyoblos, melainkan mencari bagaimana visi misi dari capres dan cawapres tersebut," ujar Zafira.

Ia pun kerap melihat rekam jejak, penghargaan dan pengalaman yang sudah dimiliki para calon.

"Jadi saya mempertimbangkan personal branding mereka harus baik, atitude yang baik, tulusnya mengabdi kepada rakyat, juga pengalamannya," tegasnya.

Tak jauh beda, mahasiswa IPB University Khallysa Arya Salsabilla juga melakukan penelitian dan mencari berbagai informasi melalui media sosial terkait para calon.

"Puncaknya adalah program mereka, apakah bisa dinilai mampu menyejahterakan rakyat atau tidak," ujar perempuan warga Gang Bendera, Bogor ini. ***

Reportase: Chalista Nabila, Lulu Maulida