POJOKSATU.ID – Istana menegaskan, pembentukan Ditjen Pesantren di Kemenag menjadi bukti perhatian Presiden terhadap pesantren dan santri Indonesia.
Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut, rencana pembentukan Ditjen Pesantren muncul sebagai respons atas insiden ambruknya gedung Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang menelan korban jiwa.
“Terkait pembentukan Ditjen Pesantren, hal itu berawal dari insiden yang menimpa Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan.
Baca Juga: Menjelajah Dunia Jamur Liar IPB University, Sang Penyelamat Lingkungan dan Pangan Masa Depan
Dari fakta tersebut, pemerintah menyadari perlunya perhatian yang lebih besar terhadap sekitar 42.000 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.
Prasetyo menyebut, Presiden Prabowo menyoroti dua hal utama di sektor pesantren: keamanan bangunan dan peningkatan kualitas pendidikan santri.
Dari sisi keamanan, ia menginstruksikan asesmen teknis untuk memastikan bangunan pesantren dan lembaga keagamaan lain memenuhi standar sipil minimal.
Sementara dari sisi pendidikan, Presiden berharap santri tidak hanya dibekali ilmu agama saja, tetapi juga ilmu teknologi dan ekonomi agar siap menghadapi masa depan.
Pemerintah juga menyiapkan pelatihan bagi santri di bidang konstruksi dan teknik sipil agar dapat berperan langsung dalam pembangunan pesantrennya.
Pembentukan Ditjen Pesantren diharapkan membuat Kemenag lebih fokus menangani pendidikan, pendanaan, keamanan, dan ekonomi santri.
Langkah ini disebut sebagai “kado istimewa” untuk Hari Santri 2025.***




