POJOKSATU.id – Kota Bogor memperingati Hari Purbakala ke 111 yang diinisiasi oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor bekerja sama dengan SMA KOSGORO dalam kegiatan SInergy CulTUre InSitu (SITUS) pada Selasa (25/6/2024) lalu.

Acara bertema "Culture and Creativity" ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan terhadap warisan budaya serta sejarah yang ada di Kota Bogor.

Penyelenggara kegiatan Ferry Chery sebagai perwakilan dari TACB menegaskan pentingnya pelestarian nilai-nilai sejarah sebagai bagian dari identitas kota.

"Sejarah adalah representasi dari peradaban bangsa. Kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran sejarah, sehingga kita tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depan kita," ungkapnya kepada pojoksatu.id, Kamis (27/6/2024).

Baca Juga: Pasir Eurih Goes to School, Ajak Siswa Merawat Kekayaan Budaya Lokal, Berpuncak di Acara Kaulinan Pasir Eurih 15 Juni 2024

Kegiatan ini dimulai dengan penjelajahan jejak-jejak peninggalan Kerajaan Sunda, seperti Situs Prasasti Batutulis, Situs Batu Conkrang, Situs Purwakalih, dan Bunker Mandiri. Selain itu, dilakukan pula kegiatan bersih-bersih di area situs oleh para peserta.

Para pelajar ini juga menampilkan pertunjukan untuk menumbuhkan semangat kegiatan ini. Momen penting dalam peringatan ini adalah meniup lilin ke-111 sebagai simbol peringatan Hari Purbakala, yang dilakukan oleh perwakilan siswa dari OSIS dan MPK SMA KOSGORO.

Acara dilanjutkan dengan Seminar Cagar Budaya yang diisi oleh tiga pembicara utama, Dr. Dewi Djukardi sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bogor, yang membahas pentingnya pelestarian Cagar Budaya.

Ada juga Muhammad Alnoza, akademisi yang kini tengah menempuh Doktor Arkeologi di Universitas Indonesia, yang memaparkan jejak-jejak Kerajaan Sunda.

Baca Juga: Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

Narasumber lainnya adalah Gatut Susanta yang memaparkan materi mengenai "Golok Menuju UNESCO."

Ferry menuturkan, acara ini diharapkan dapat membawa warisan budaya lebih dekat kepada generasi muda dengan cara yang menarik, komunikatif, dan mendidik.

"Kecintaan terhadap warisan budaya sebenarnya dapat membuka kreativitas dan daya imajinasi kepada anak-anak muda.

Kreativitas tersebut dapat mereka kembangkan dan membuka peluang bagi para enterpreneur muda sehingga terbentuk jiwa muda yang cinta akan budaya dan sejarah bangsa serta menjadikan mereka kreatif dan mandiri," jelasnya.

Sebagai informasi, Hari Purbakala diperingati berdasarkan pembentukan Oudheidkunde Dienst atau Jawatan Purbakala yang pertama kali dipimpin oleh N.J. Krom pada 14 Juni 1913.

Baca Juga: Dibuka untuk Umum Setiap Akhir Pekan, Gedung Pakuan: Destinasi Wisata Sejarah Baru di Jawa Barat

Sebelum menjadi lembaga resmi pemerintah, sekumpulan pemerhati ilmu dan seni, termasuk Raden Saleh, membentuk Koninklijk Bataviaasche Genootsschap van Kunsten en Wetenschappen pada 1778, yang sekarang dikenal sebagai Museum Nasional.

Dorongan ini semakin kuat karena Kritik Raffles yang sangat peduli terhadap karya leluhur budaya Jawa Kuna. Pada tahun 1822, Gubernur Jenderal G. van Cappelen membentuk sebuah komisi bernama Commisie tot het Opsporen, Verzamalen en Bewaren van Oudheidkundige Voorwerpen (Komisi untuk Penemuan, Pengumpulan, dan Perlindungan Tinggalan Purbakala).

Dengan terbentuknya komisi ini, urusan kepurbakalaan menjadi tanggung jawab pemerintah, dan perlindungan tinggalan purbakala menjadi kewajiban semua orang yang diatur oleh negara.

Selanjutnya, pada tahun 1901, komisi ini berganti nama menjadi Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkunde Onderzoek op Java en Madoera, yang berperan dalam meningkatkan upaya dan dana perlindungan benda purbakala.

Baca Juga: Siapa Apatis, Siapa Kritis di Pameran Seni Rupa 'Aku Akan Memilih', Seniman Berharap Jangan Ada Luka Demokrasi

Momen terpenting dari pembentukan Oudheidkunde Dienst adalah ditetapkannya Monument Ordonantie pada tahun 1931, yang menjadi Undang-Undang yang mengatur Cagar Budaya di Indonesia (dulu Hindia Belanda).

Sejarah panjang ini menunjukkan betapa pentingnya pelestarian dan perlindungan benda-benda purbakala sebagai bagian dari kewajiban negara dan seluruh masyarakat.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya warisan budaya di Kota Bogor dan diharapkan dapat terus berlanjut di masa mendatang. ***