POJOKSATU.id - Seleksi kompetensi untuk posisi Manajer Koperasi Desa Merah Putih 2026 masih berlangsung dan menjadi perhatian banyak pencari kerja di berbagai daerah.
Program rekrutmen yang membuka puluhan ribu formasi tersebut ternyata tidak mudah ditaklukkan oleh para peserta.
Sejak tahapan Computer Assisted Test (CAT) dimulai pada 3 Mei 2026, hasil nilai peserta yang beredar melalui pantauan live score menunjukkan cukup banyak peserta belum mampu menembus passing grade yang telah ditentukan panitia.
Baca Juga: Guru Wajib Teliti! Ini 7 Faktor Penentu Pencairan TPG Mei 2026
Padahal, posisi yang diperebutkan menawarkan status kerja bergengsi dengan skema pegawai BUMN melalui perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
Antusiasme tinggi pun tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan peserta saat menghadapi ujian.
Dari berbagai evaluasi pelaksanaan tes di sejumlah titik lokasi, terdapat beberapa faktor yang disebut paling sering membuat peserta gagal memperoleh nilai aman.
Salah satu penyebab utama ialah persoalan manajemen waktu.
Banyak peserta mengaku kewalahan membagi fokus antara jumlah soal dan durasi pengerjaan yang cukup ketat.
Akibatnya, tidak sedikit peserta yang belum menyelesaikan seluruh soal ketika waktu habis.
Situasi semakin sulit karena sistem CAT membagi ujian ke dalam beberapa subtes dengan waktu yang sudah ditentukan otomatis.
Ketika waktu pada satu bagian selesai, sistem langsung berpindah ke sesi berikutnya tanpa bisa kembali ke soal sebelumnya.
Baca Juga: Tiba-tiba Zidan Batal Naik Bus ALS 346 Jurusan Semarang-Medan yang Terbakar di Muratara Sumsel
Kondisi ini membuat sebagian peserta panik, terutama mereka yang belum terbiasa dengan pola ujian berbasis komputer.
Selain itu, peserta juga dinilai terlalu lama berkutat pada soal hitungan.
Beberapa soal numerik dan analisis dianggap menyita waktu cukup besar sehingga peserta kehilangan kesempatan mengerjakan soal lain yang sebenarnya lebih mudah dan memiliki peluang nilai lebih tinggi.
Pengamat seleksi ASN dan CAT menyebut banyak peserta masih menggunakan pola pengerjaan “sempurna”, yakni berusaha menuntaskan satu soal hingga benar sebelum berpindah.
Strategi tersebut justru berisiko ketika diterapkan dalam ujian dengan batas waktu singkat.
Baca Juga: Catat! Ini Passing Grade Seleksi Manajer Koperasi dan Kampung Nelayan 2026
Faktor mental juga menjadi tantangan tersendiri. Tampilan hitung mundur di layar komputer disebut memengaruhi konsentrasi peserta.
Ketika waktu terus berjalan cepat, sebagian peserta menjadi gugup dan kehilangan fokus sehingga jawaban yang dipilih justru keliru.
Tak hanya persoalan teknis pengerjaan, sejumlah peserta di beberapa lokasi juga melaporkan gangguan sistem selama ujian berlangsung.
Keluhan yang muncul antara lain jaringan lambat, perpindahan soal yang tersendat, hingga jawaban yang disebut berubah sendiri saat proses pengerjaan.
Baca Juga: Sisi Gelap Ponpes Ndholo Kusumo Pati, Jika Santriwati Hamil, Maka Santri Laki-laki yang Menutup Aib
Meski demikian, panitia seleksi tetap melanjutkan pelaksanaan tes sesuai jadwal yang berlangsung hingga 12 Mei 2026.
Sejumlah peserta tetap mampu mencatatkan skor tinggi dan melampaui ambang batas yang ditetapkan.
***



