POJOKSATU.id - Momen istimewa terjadi di lingkungan Universitas Gadjah Mada.
Sepasang suami istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM dikukuhkan bersama sebagai Guru Besar dalam satu upacara yang digelar di Balai Senat UGM, Kamis (9/4/2026).
Keduanya adalah Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan, serta istrinya, Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kimia.
Baca Juga: Alumni Arsitektur Unismuh Tembus Beasiswa Taiwan, Nabilah Arbia Lolos Program INTENSE 2026
Dalam suasana penuh haru, keduanya saling menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang menguatkan perjalanan akademik masing-masing.
“Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya,” kata Edi.
Tutik pun menyampaikan hal serupa kepada sang suami. “Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini.
Baca Juga: Dosen UMM Tembus 100 Akademisi Terbaik Dunia, Kalahkan Sekat Kampus Elit Global
Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya,” ujarnya.
Soroti Peran Data dalam Kecerdasan Buatan
Dalam pidato pengukuhannya, Edi mengangkat topik “Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan Kecerdasan Buatan di Dunia Nyata”.
Ia menyoroti pergeseran paradigma dari model-centric menuju data-centric AI. Selama ini, perkembangan kecerdasan buatan banyak bertumpu pada inovasi algoritma dan arsitektur model.
“Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model,” paparnya.
Baca Juga: 8 Cara Kreatif Manfaatkan Kantong Plastik Bekas Jadi Barang Berguna di Rumah
Pendekatan tersebut melahirkan berbagai terobosan penting seperti Convolutional Neural Network (CNN), Long Short-Term Memory (LSTM), hingga transformer.
Namun, menurutnya, fokus berlebihan pada model justru menyisakan persoalan mendasar, yakni kualitas data. Banyak kegagalan sistem AI terjadi bukan karena model yang lemah, melainkan data yang kurang memadai.
“Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda,” jelasnya.
Baca Juga: 30 Hari Kasus Andrie Yunus Disiram Air Keras Oknum TNI, Bakal Jalani Cangkok Usai Bola Mata Meleleh
Ia juga menyinggung kesenjangan performa antara uji coba dan kondisi nyata akibat distribution shift dan domain drift, yang menjadi tantangan serius dalam implementasi AI.
Sebagai solusi, pendekatan data-centric AI hadir untuk menempatkan data sebagai fondasi utama pengembangan sistem kecerdasan buatan.
“Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel,” ujarnya.
Riset Kimia untuk Masa Depan Kesehatan
Sementara itu, Tutik dalam pidatonya mengangkat tema “Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif”.
Baca Juga: Bukan Hanya Ijazah Asli, Ini 5 Skill Wajib Biar Nggak Tergeser AI di Dunia Kerja
Ia menegaskan pentingnya sintesis organik sebagai fondasi dalam pengembangan molekul modern.
“Sintesis organik merupakan proses pembentukan molekul organik berbasis karbon secara bertahap dan terencana melalui reaksi kimia yang terkontrol,” ujarnya.
Menurutnya, bidang ini menuntut kreativitas tinggi, bahkan kerap dianalogikan sebagai “arsitektur dunia molekul”.
“Sintesis organik sering dianalogikan sebagai architecture of the molecular world karena menuntut kreativitas dalam perancangan molekul,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan Rokok Ilegal Hilang Mei 2026, Ini Dampaknya ke Ekonomi
Dalam risetnya, Tutik menyoroti potensi senyawa pirazolina yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, hingga antioksidan.
Ia juga mengungkap bahwa pengembangan obat kanker masih menghadapi tantangan besar, seperti resistensi obat dan rendahnya selektivitas terapi.
Melalui pendekatan sintesis organik, ia menunjukkan bahwa modifikasi struktur molekul dapat meningkatkan efektivitas sekaligus menekan efek samping.
Selain itu, pirazolina juga berpotensi sebagai kemofluorosensor berkat sifat fluoresensinya, yang memungkinkan deteksi zat secara sensitif dan selektif.
“Sifat fluoresensi alami dari pirazolina menjadikannya kandidat yang menarik sebagai fluorofor dalam sistem kemofluorosensor,” jelasnya.
Penelitian ini membuka peluang luas, mulai dari pengembangan obat hingga teknologi diagnosis dan pemantauan lingkungan. ***




