POJOKSATU.id - Pemerintah terus memperluas akses pendidikan melalui berbagai program strategis yang menyasar kelompok peserta didik dengan kebutuhan berbeda.
Setelah menghadirkan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, kini pemerintah juga menyiapkan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026.
Meski sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan nasional, ketiga program tersebut memiliki sasaran, konsep, dan tujuan yang berbeda.
Sekolah Rakyat berfokus pada anak-anak dari keluarga miskin, Sekolah Garuda ditujukan bagi siswa berprestasi, sedangkan Sekolah Nasional Terintegrasi hadir untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi kelompok masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.
Baca Juga: Irjen Purn Sony Sonjaya Tak Jujur Soal Korupsi BGN, Elza Syarief Pilih Mundur dari Pengacaranya
Berikut penjelasan lengkap mengenai perbedaan ketiga program tersebut.
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) untuk Keluarga Ekonomi Pas-pasan
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa Sekolah Nasional Terintegrasi disiapkan untuk anak-anak dari keluarga ekonomi hampir miskin, pas-pasan, hingga keluarga yang tergolong cukup secara ekonomi.
Kelompok ini dinilai sering berada di posisi yang sulit karena tidak masuk kategori miskin ekstrem, tetapi juga belum memiliki kemampuan untuk mengakses pendidikan unggulan yang berkualitas dan terjangkau.
"Mereka tidak miskin ekstrem, tapi mereka juga susah. Mereka harus dapat akses kepada pendidikan," kata Prabowo.
Baca Juga: Apa Itu Uang Giral? Kenali Pengertian, Jenis, Perbedaan dengan Uang Kartal, dan Manfaatnya
Berbeda dengan Sekolah Rakyat maupun sebagian konsep Sekolah Garuda yang menggunakan sistem berasrama, SNT dirancang sebagai sekolah unggulan non-asrama.
Siswa tetap tinggal bersama keluarga dan pulang ke rumah setelah kegiatan belajar selesai.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah berencana menyediakan layanan bus antar-jemput bagi peserta didik.
Fokus pada Pemerataan Mutu Pendidikan
Lahirnya Sekolah Nasional Terintegrasi didorong oleh masih terjadinya ketimpangan mutu pendidikan antarwilayah di Indonesia.
Baca Juga: Nuri Agus Eks Kiper Timnas Ditemukan di Bantul Usai Menghilang Sejak Senin Pekan Lalu
Selama ini sekolah unggulan lebih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan fasilitas, tenaga pendidik, maupun akses terhadap pendidikan berkualitas.
Melalui SNT, pemerintah ingin menghadirkan sekolah unggulan di berbagai daerah sehingga siswa tidak harus berpindah kota hanya untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Karena itu, fokus utama SNT bukan afirmasi sosial seperti Sekolah Rakyat dan bukan pula pengembangan talenta elite seperti Sekolah Garuda, melainkan pemerataan kualitas pendidikan nasional.
Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali, mengatakan pembahasan pembentukan Sekolah Nasional Terintegrasi telah dimulai dan sejumlah daerah telah mengajukan usulan lokasi sekolah.
Baca Juga: Donald Trump Klaim Penjaga Timur Tengah, Terima Imbalan 20 Persen Pendapatan Kawasan Minyak Itu
Target 100 Sekolah Nasional Terintegrasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengungkapkan pemerintah menargetkan pembangunan 100 Sekolah Nasional Terintegrasi di berbagai daerah.
Program tersebut akan dijalankan melalui kombinasi pemanfaatan fasilitas pendidikan yang sudah ada serta pembangunan sekolah baru.
Menurut Abdul Mu'ti, pemerintah telah menerima berbagai usulan dari daerah dan melakukan proses seleksi lokasi.
Beberapa sekolah akan dibuka di fasilitas milik Kemendikdasmen, satu sekolah berada di Ibu Kota Nusantara (IKN), sementara sejumlah sekolah lainnya akan dibangun di lokasi yang telah ditetapkan pemerintah.
Baca Juga: Mati Besok
Sekolah Rakyat untuk Anak dari Keluarga Miskin
Berbeda dengan SNT, Sekolah Rakyat dirancang sebagai program afirmasi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Sekolah ini menggunakan sistem berasrama dan seluruh kebutuhan peserta didik ditanggung negara, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal, makanan, perlengkapan sekolah, hingga kebutuhan dasar lainnya.
Pemerintah menilai kemiskinan sering menjadi penghalang utama bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Karena itu, Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakan pembelajaran, tetapi juga memastikan kebutuhan hidup siswa terpenuhi selama menempuh pendidikan.
Baca Juga: 15 Rekomendasi Tumbler Anak Sekolah 2026 yang Praktis, Anti Bocor, dan Awet dengan Harga Terjangkau
Program ini tidak berorientasi pada pencarian siswa berprestasi, melainkan memberikan kesempatan kepada kelompok yang paling rentan agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Target 183 Sekolah Rakyat
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menargetkan sebanyak 183 Sekolah Rakyat dapat beroperasi hingga akhir 2026.
Jumlah tersebut terdiri atas:
-
80 Sekolah Rakyat rintisan
-
93 Sekolah Rakyat permanen
-
10 Sekolah Rakyat rintisan tambahan
Pemerintah menargetkan lebih dari 45.000 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dapat mengakses pendidikan melalui program tersebut.
Saat ini pembangunan infrastruktur Sekolah Rakyat masih terus dikebut agar seluruh lokasi siap digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.
Sekolah Garuda untuk Talenta Unggul Indonesia
Jika Sekolah Rakyat fokus pada pemerataan kesempatan pendidikan bagi kelompok rentan, maka Sekolah Garuda diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Program ini menyasar siswa-siswa berprestasi yang memiliki potensi besar di bidang sains, teknologi, matematika, riset, dan inovasi.
Pemerintah berharap lulusan Sekolah Garuda dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik dunia dan menjadi ilmuwan, peneliti, inovator, maupun pemimpin masa depan Indonesia.
Karena itu, orientasi utama Sekolah Garuda bukan pengentasan kemiskinan, melainkan pengembangan talenta unggul nasional.
Baca Juga: Aturan Baru Kemdiktisaintek 2026: Gagal Lulus Uji Kompetensi Dokter Langsung Di-DO Otomatis?
Dua Skema Pengembangan Sekolah Garuda
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa Sekolah Garuda merupakan program strategis nasional yang lahir dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan unggulan di seluruh Indonesia.
Program ini dijalankan melalui dua skema utama:
-
Pembangunan sekolah baru di daerah yang masih minim akses pendidikan berkualitas.
-
Transformasi dan penguatan sekolah unggulan yang sudah ada agar mencapai standar internasional.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap siswa dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi.
Baca Juga: Daftar 30 Kampus Kedokteran yang Kena Semprot Kemdiktisaintek, Nomor 1 Punya Puluhan Retaker Akut!
Apa Perbedaan Utama Ketiganya?
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan utama ketiga program pendidikan tersebut:
-
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT): ditujukan bagi keluarga ekonomi hampir miskin, pas-pasan, dan cukup; bersifat non-asrama; fokus pada pemerataan mutu pendidikan.
-
Sekolah Rakyat: ditujukan bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem; menggunakan sistem asrama; fokus pada pemerataan akses pendidikan dan pengentasan kemiskinan.
-
Sekolah Garuda: ditujukan bagi siswa berprestasi dan bertalenta unggul; berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia berdaya saing global.
Kehadiran ketiga program tersebut menunjukkan upaya pemerintah menjawab berbagai tantangan pendidikan dari sisi yang berbeda.
Ada yang fokus pada pemerataan akses, ada yang menargetkan pemerataan mutu, dan ada pula yang diarahkan untuk melahirkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Dengan pendekatan yang saling melengkapi, harapannya semakin banyak anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya masing-masing. ***




