POJOKSATU.ID – Konsep pendekatan deep learning yang tengah digencarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendapat respons positif dan penguatan dari berbagai kalangan akademisi.
Salah satunya adalah Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang, Fihris, yang dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Deep Learning: Pendekatan Inovatif dan Transformatif dalam Pendidikan Islam” mengupas tuntas potensi dan implementasi pendekatan ini.
Fihris secara khusus menyoroti salah satu inovasi utama yang ditawarkan oleh deep learning, yaitu personalisasi pembelajaran.
Baca Juga: SIMAK! Kemensos dan PANRB bahas Tata Kelola Kelembagaan UPT dan Prioritas PNS di Sekolah Rakyat!
Menurutnya, karakteristik unik setiap peserta didik dalam menyerap dan memahami materi pembelajaran menjadi dasar pentingnya fleksibilitas dalam penyampaian konten.
“Setiap peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda, sehingga memungkinkan adanya fleksibilitas dalam penyampaian materi yang disesuaikan konten dan minat individu,” ujar Fihris dalam orasi ilmiahnya.
Pendekatan ini mengakui keberagaman gaya belajar dan kebutuhan individual siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan efektif.
Baca Juga: Masuk Kapan Saja, Lulus Sesuai Kemampuan Jadi Konsep Fleksibilitas Sekolah Rakyat
Lebih lanjut, Fihris menekankan peran krusial pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung implementasi deep learning.
Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), analitik pembelajaran (learning analytics), dan platform interaktif dinilai mampu menciptakan pengalaman belajar yang adaptif dan kaya.
AI dapat membantu mengidentifikasi pola belajar siswa dan merekomendasikan materi yang sesuai, sementara analitik pembelajaran memberikan insight berharga bagi pendidik untuk menyesuaikan strategi pengajaran.
Baca Juga: Masuk DTKS Berpeluang Menjadi Siswa Sekolah Rakyat! GRATIS dan BERASRAMA
Platform interaktif pun membuka ruang kolaborasi dan eksplorasi materi yang lebih menarik.
Sebagai contoh konkret implementasi teknologi dalam deep learning, Fihris menunjuk keberhasilan MTs Negeri Yogyakarta dalam mengintegrasikan augmented reality (AR) dalam pembelajaran sejarah Islam.
Melalui teknologi ini, siswa dapat mempelajari kota-kota kuno secara virtual, memberikan pengalaman belajar yang imersif dan meningkatkan pemahaman konsep sejarah secara visual.
“Hasil survei menunjukkan bahwa 87 persen peserta didik merasa lebih memahami materi dibandingkan metode konvensional,” pungkas Fihris, menggarisbawahi efektivitas integrasi teknologi dalam meningkatkan kualitas pemahaman siswa.
Orasi ilmiah Fihris ini semakin memperkuat argumentasi bahwa pendekatan deep learning, dengan penekanan pada personalisasi dan pemanfaatan teknologi, memiliki potensi besar untuk mentransformasi dunia pendidikan.
Dukungan dari kalangan akademisi seperti Fihris menjadi modal penting dalam mewujudkan visi Kemendikdasmen untuk menciptakan pendidikan yang bermutu dan relevan bagi seluruh peserta didik.***




