POJOKSATU.id - Hari terakhir pelaksanaan Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026 berubah menjadi hari yang penuh ketegangan. 

Sejak Senin, 8 Juni 2026 siang, puluhan hingga ratusan orang tua calon peserta didik berdatangan ke Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat di Jalan Radjiman, Kota Bandung.

Mereka datang dengan satu tujuan yang sama, yakni mencari kepastian atas berbagai persoalan yang muncul selama proses penerimaan siswa baru, khususnya yang berkaitan dengan seleksi Sekolah Maung dan tahapan PCMB yang berlangsung bersamaan.

Suasana di lingkungan kantor Disdik Jabar tampak ramai sejak pagi. 

Baca Juga: Hati-hati Tawaran Pembelian 500 Rumah Ready Stock, Developer Properti Diminta Jangan Mudah Tergiur

Sejumlah orang tua terlihat membawa dokumen pendaftaran, tangkapan layar hasil seleksi, hingga bukti perhitungan nilai yang mereka yakini tidak sesuai dengan hasil yang muncul di sistem. 

Sebagian lainnya tampak mengantre untuk berkonsultasi langsung dengan petugas terkait kendala akun dan verifikasi data.

Persoalan yang dihadapi masyarakat pun beragam. Mulai dari akun calon murid yang belum terverifikasi, kesulitan login ke sistem PCMB, perubahan nilai yang dinilai tidak masuk akal.

Selain itu, ada dugaan data peserta yang ter-reset menjadi nol, data peserta yang hilang dari sistem, hingga kebingungan peserta yang tidak lolos Sekolah Maung dan harus segera mencari sekolah alternatif melalui jalur reguler.

Situasi semakin memicu kepanikan karena pengumuman hasil seleksi Sekolah Maung baru dirilis pada Senin pukul 10.00 WIB.

Baca Juga: Telur Rebus Sering Lengket Saat Dikupas? Coba 7 Trik Mudah Ini agar Kulitnya Lepas Sempurna 

Di sisi lain, proses PCMB dijadwalkan berakhir pada hari yang sama tepat pukul 00.00 WIB.

Artinya, ribuan peserta yang dinyatakan tidak lolos hanya memiliki waktu kurang dari satu hari untuk menentukan langkah selanjutnya, melakukan pemetaan sekolah baru, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan administrasi yang muncul di sistem.

Akun PCMB Tak Bisa Diakses Setelah Gagal di Sekolah Maung

Salah satu orang tua yang mendatangi Kantor Disdik Jabar adalah Suheli Syarif, warga Coblong, Kota Bandung.

Ia mengaku kebingungan setelah putranya yang mendaftar ke SMAN 5 Bandung melalui jalur Sekolah Maung dinyatakan tidak lolos. 

Baca Juga: ITS Masih Buka Pendaftaran IUP 2026 hingga 8 Juli, Cek Syarat, Jurusan, dan Biaya Kuliahnya

Setelah menerima hasil tersebut, keluarganya berusaha melanjutkan proses pendaftaran melalui jalur reguler PCMB.

Namun hingga siang hari, akun yang dibutuhkan untuk masuk ke sistem PCMB belum dapat digunakan.

Dari video yang beredar di media sosial, bahkan disebutkan dan terlihat kondisi para petugas hanya terdiri dari 2-3 orang, sehingga pelayanan macet. 

Bahkan disebutkan petugas belum tiba hingga pukul 15.00 WIB, akibatnya orang tua calon siswa tidak segera mendapat kepastian informasi.

"Sebelumnya anak saya daftar Sekolah Maung di SMAN 5. Setelah tidak lolos, kami harus masuk ke PCMB. Tapi sampai sekarang kami tidak bisa login," katanya saat ditemui di Kantor Disdik Jabar.

Baca Juga: BNI Buka Rekrutmen ODP Retail Banking Regional Timur 2026, Fresh Graduate Bisa Daftar hingga 17 Juni

Setelah mencari informasi lebih lanjut, Suheli baru mengetahui bahwa calon murid yang bersekolah di luar Jawa Barat harus membuat akun secara mandiri sebelum dapat mengakses sistem PCMB.

Putranya memang lahir di Bandung, tetapi menempuh pendidikan SMP di Jawa Tengah. 

Kondisi tersebut membuat proses administrasi menjadi berbeda dibandingkan siswa yang bersekolah di Jawa Barat.

"Barusan saya mendapat penjelasan bahwa harus membuat akun terlebih dahulu. Untuk masuk ke PCMB itu harus punya akun, sementara akun itu biasanya diberikan oleh SMP masing-masing," ujarnya.

Baca Juga: Perkuat Semangat Persaudaraan, Paguyuban Honda Kuningan Gelar Kopdar Gabungan

Lebih dari 20 Ribu Peserta Sekolah Maung Tidak Lolos

Keresahan masyarakat tidak lepas dari besarnya jumlah peserta yang gagal lolos dalam seleksi Sekolah Maung.

Berdasarkan data yang beredar, sedikitnya 20.206 pendaftar Sekolah Maung tidak berhasil masuk dalam kuota penerimaan dan harus mencari alternatif melalui jalur lain.

Jumlah tersebut membuat perpindahan peserta ke jalur reguler terjadi secara masif dalam waktu yang sangat singkat.

Sayangnya, proses tersebut tidak berjalan mulus karena banyak orang tua mengaku mengalami gangguan sistem saat mencoba melakukan pemetaan sekolah baru melalui PCMB.

Baca Juga: Trump Peringatkan Netanyahu Berhenti Saling Serang dengan Iran, Kalau Tidak Anda Sendirian

Beberapa peserta bahkan menyebut data mereka terkunci sehingga tidak dapat melakukan perubahan pilihan sekolah sebelum batas waktu berakhir.

Kondisi inilah yang kemudian memicu gelombang kedatangan orang tua ke Kantor Disdik Jabar untuk meminta penjelasan langsung dari pemerintah provinsi.

Nilai Anak Turun 72 Poin, Orang Tua Pertanyakan Sistem

Persoalan lain yang banyak dikeluhkan adalah perubahan nilai peserta yang muncul di sistem.

Hendri Hidayat (42), warga Kopo, Kota Bandung, menjadi salah satu orang tua yang mempertanyakan hasil perhitungan nilai pada jalur prestasi non-akademik Sekolah Maung di SMAN 3 Bandung.

Menurut Hendri, anaknya semula memiliki nilai 369 poin. Nilai tersebut bahkan berada di atas batas nilai terendah yang diumumkan sekolah, yakni 333 poin.

Baca Juga: 5 HP Baru Rilis Juni 2026, Ada yang Sudah Masuk Indonesia, Baterai Jumbo 7.500 mAh

Karena itu, ia meyakini anaknya memiliki peluang untuk lolos seleksi.

Namun kenyataannya berbeda. Anaknya justru dinyatakan tidak lolos.

"Memang gugur dari awal, tetapi kalau dilihat, dari informasi itu poin terendahnya 333, sedangkan anak saya 369, itu seharusnya masuk kategori kan? Ternyata gugur," ujarnya.

Kebingungan semakin bertambah ketika nilai anaknya berubah saat masuk ke sistem PCMB.

Menurut Hendri, nilai yang sebelumnya tercatat 369 poin mendadak turun menjadi 297 poin.

"Jadi, kendalanya itu, penurunan poin perhitungan sendiri sama pas daftar Maung kan hasilnya sudah ada 369 (poin), perhitungan sendiri pun sama 369, nah pas di PCMB jadi 297, gitu penurunan poinnya," kata Hendri.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Terapkan Aturan Baru Kontrol Pasien Mulai Juni 2026, Datang Lebih Awal Tak Akan Dilayani

Selisih sekira 72 poin tersebut membuat dirinya datang langsung ke Kantor Disdik Jabar setelah mendapat rekomendasi dari pihak sekolah.

"Saya datang ke sini atas rekomendasi dari sekolah juga karena ada selisih nilai," ujarnya.

Meski telah mengikuti mediasi bersama petugas dan orang tua lainnya, Hendri mengaku belum memperoleh jawaban yang benar-benar menjelaskan penyebab perubahan nilai tersebut.

"Katanya dari sistem itu saja, nanti kita menunggu sampai malam, nanti diverifikasi ulang katanya begitu," sambungnya.

Hendri menambahkan bahwa anaknya merupakan atlet gulat yang pernah berprestasi pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) serta kompetisi tingkat nasional.

Karena itu, ia memilih terus memperjuangkan hak anaknya.

"Kalau tidak berubah, disuruh datang lagi ke sini, jelas masih berharap karena kan saya memperjuangkan hak anak," tegasnya. 

Baca Juga: Coretax Sempat Down, DJP Tetap Layani Refund Pajak Turis Asing Lewat Mekanisme Khusus

Dugaan Data Peserta Ter-Reset Jadi Nol, Orang Tua Minta Penjelasan

Keluhan yang tak kalah serius datang dari Nurcholis Hakim (46), warga Kota Cimahi.

Ia mempertanyakan mekanisme seleksi jalur Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sekolah Maung yang menurutnya menyisakan banyak kejanggalan.

Nurcholis mengungkapkan bahwa kedua anak kembarnya sempat masuk dalam kuota penerimaan. 

Data mereka bahkan telah diverifikasi dan tercantum dalam daftar peserta yang berpeluang diterima.

Namun menjelang akhir proses seleksi, data tersebut mendadak hilang dari sistem.

Menurutnya, bukan hanya anaknya yang mengalami hal itu. 

Baca Juga: Mahasiswa Polteknaker Borong 10 Penghargaan Nasional, Bersinar di Ajang Bahasa Inggris dan Pencak Silat

Sedikitnya 65 peserta yang sebelumnya telah lolos proses verifikasi disebut mengalami kondisi serupa.

"Sudah masuk ke kuota peringkat, anak saya kembar. Kemudian pada hari terakhir tanggal tiba-tiba hilang data 65 orang yang diverifikasi, jadi semua data 65 orang yang telah diverifikasi nol. 

Termasuk anak saya yang sudah masuk kuota itu," ungkapnya.

Pernyataan tersebut memunculkan dugaan di kalangan orang tua bahwa data peserta yang sebelumnya telah diverifikasi seolah ter-reset menjadi nol di sistem.

Akibat perubahan itu, peserta yang semula berada dalam posisi aman justru kehilangan statusnya dan harus menjalani proses verifikasi ulang.

Setelah diminta melakukan verifikasi kembali, anak-anak Nurcholis justru dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Baca Juga: 5 HP Baru Rilis Juni 2026, Ada yang Sudah Masuk Indonesia, Baterai Jumbo 7.500 mAh

Menurutnya, alasan yang diberikan berkaitan dengan indikator IQ, kreativitas tinggi, dan komitmen tinggi yang menjadi bagian dari persyaratan seleksi.

"Ternyata persyaratannya itu soal ada IQ yang kayak gitu, IQ, kreativitas tinggi, komitmen tinggi, dan yang jadi masalahnya itu pertama masuk verifikasi bertahan beberapa hari tiba-tiba nol jadi banyak yang hilang," tuturnya.

Hingga laporan ini disusun, belum ada penjelasan resmi dari Disdik Jawa Barat yang secara khusus mengonfirmasi adanya reset data pada sistem. 

Namun keluhan mengenai data yang berubah menjadi nol dan hilang dari sistem menjadi salah satu persoalan yang paling banyak dipertanyakan oleh para orang tua.

Baca Juga: 10 Kampus dengan Skor SINTA Tertinggi di Indonesia 2026, UGM Kokoh di Puncak

Dugaan Maladministrasi Dilaporkan ke Ombudsman

Rangkaian persoalan yang terjadi selama pelaksanaan SPMB Sekolah Maung akhirnya mendorong sejumlah orang tua melaporkan dugaan maladministrasi ke Ombudsman RI Perwakilan Jawa Barat.

Laporan tersebut muncul karena para orang tua menilai terdapat berbagai persoalan yang belum terjelaskan secara memadai, mulai dari gangguan sistem berulang, perubahan nilai peserta, data yang hilang dari aplikasi, hingga minimnya transparansi informasi selama proses seleksi berlangsung.

Salah satu pelapor adalah Encep Iik Muzakir, orang tua calon peserta didik yang mendaftar ke SMAN 1 Tasikmalaya melalui jalur prestasi akademik Pramuka Garuda.

Menurut Encep, perubahan penilaian terhadap prestasi anaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Lahan Terbatas Jadi Kendala Besar, Rencana Pembangunan Sekolah Rakyat Kemensos Beberapa Daerah Terancam Gagal?

Ia mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2024 yang menurutnya mengatur bahwa penghargaan Pramuka Garuda memiliki bobot setara dengan juara pertama tingkat nasional.

"Perubahan ini tidak sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 9 Tahun 2024, yang mengatur bahwa Pramuka Garuda setara dengan peringkat satu tingkat nasional," katanya.

Ia juga menilai bahwa perubahan yang didasarkan pada Keputusan Gubernur tidak dapat mengesampingkan aturan yang kedudukannya lebih tinggi dalam hierarki peraturan perundang-undangan.

"Oleh karena itu, perubahan yang didasarkan pada Keputusan Gubernur tersebut tidak dapat dijadikan rujukan karena masih ada aturan yang lebih tinggi, yaitu Peraturan Gubernur Nomor 9 Tahun 2024," ujarnya.

Baca Juga: Perjudian Besar

Atas dasar itu, Encep memutuskan membawa persoalan tersebut ke Ombudsman Jawa Barat.

"Walaupun mungkin SPMB Maung besok tutup, tapi setidaknya saya sudah ikhtiar untuk memperjuangkan hak anak saya," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menjadi sasaran protes.

"Kami tidak menyalahkan sekolah, karena yang kami persoalkan itu kebijakan dan sistem yang menjadi dasar pelaksanaan di dinas provinsi," tegasnya.

Orang Tua Soroti Penambahan Kuota yang Dinilai Tidak Adil

Selain masalah sistem dan perubahan nilai, sejumlah orang tua juga mempertanyakan kebijakan penambahan kuota penerimaan yang hanya diberlakukan pada jalur nilai rapor.

Baca Juga: STT NF, Perjalanan Kampus Teknologi Berkarakter Islami yang Menyiapkan Generasi Profesional dan Inovatif

Menurut mereka, kebijakan tersebut berpotensi menciptakan ketimpangan karena peserta jalur non-akademik tetap harus bersaing dengan kuota yang sama, sementara daya tampung jalur lain bertambah.

Mereka menilai kebijakan itu menimbulkan pertanyaan mengenai prinsip keadilan dalam penerimaan peserta didik.

"Yang menjadi pertanyaan kami, mengapa penambahan kuota hanya diberikan pada jalur nilai rapor? 

Mengapa kuota untuk jalur prestasi nonakademik tidak ikut ditambah? 

Padahal banyak calon peserta didik di jalur nonakademik yang merasa dirugikan oleh kebijakan tersebut," ujar salah seorang wali murid.

Baca Juga: Satuan Pendidikan Wajib Catat! Ini Jadwal Ijazah 2026

Penjelasan Panitia Sekolah Maung

Menanggapi berbagai keluhan yang muncul, Panitia SPMB Sekolah Maung SMAN 1 Tasikmalaya, Elis Nurjanah, menjelaskan bahwa sebagian besar pertanyaan yang diterima berkaitan dengan perubahan nilai peserta di sistem.

Menurut Elis, perubahan tersebut muncul setelah adanya proses maintenance sistem yang dilakukan di tingkat provinsi.

"Ketika ada maintenance pada sistem di tingkat provinsi, terjadi sejumlah penyesuaian. 

Dalam arti, nilai yang sebelumnya terlihat besar kemudian berubah menjadi turun," ujarnya.

Meski memahami kekecewaan para orang tua, Elis menegaskan bahwa berdasarkan pengecekan manual yang dilakukan pihak sekolah, nilai yang tercantum di aplikasi telah sesuai dengan perhitungan yang berlaku.

Baca Juga: DPRD Karawang Siapkan Inisiasi Perda Larangan LGBT

"Kalau dihitung secara manual dan dicocokkan dengan yang ada di aplikasi, memang sudah sesuai dengan nilai yang tercantum di sistem," katanya.

Elis juga mengakui banyak orang tua datang dalam kondisi emosional karena khawatir anak mereka gagal memperoleh sekolah tujuan.

"Memang ada kekecewaan dari para orang tua. Bahkan ada yang datang dengan menggebu-gebu. Tapi itu wajar, karena sebagai orang tua mereka tentu khawatir anaknya tidak masuk," tuturnya.

Namun terkait penyebab teknis perubahan nilai maupun dugaan data yang berubah menjadi nol, Elis menegaskan bahwa penjelasan lebih rinci merupakan kewenangan pemerintah provinsi.

"Soal perubahan nilai itu, yang lebih mengetahui jawabannya tentu pihak provinsi. Kita hanya bertugas memberikan pelayanan dan melihat saja. Sudah tahap verifikasi tugas kita selesai," katanya.

Baca Juga: Dikriminalisasi, Irfan Suryanegara Pertanyakan Penahanan dalam Kasus Sertifikat

Hari terakhir PCMB yang semestinya menjadi penutup tahapan pemetaan calon murid justru menyisakan berbagai pertanyaan bagi banyak keluarga di Jawa Barat. 

Di tengah batas waktu yang terus berjalan, para orang tua masih menunggu kepastian atas nilai, data, dan hak pendidikan anak-anak mereka yang kini berada di persimpangan proses seleksi. 

Bagi banyak keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal angka di layar komputer, melainkan tentang harapan dan masa depan anak yang mereka perjuangkan hingga detik terakhir proses SPMB berlangsung. ***