POJOKSATU.id - Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 mencatat peningkatan partisipasi peserta yang cukup signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Sebanyak 230.123 siswa tercatat mendaftar OMI 2026. Jumlah tersebut meningkat 12,7 persen dibandingkan OMI 2025 yang mencatat 204.222 pendaftar.

Dari total pendaftar OMI 2026, sebanyak 229.593 peserta atau sekitar 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi.

Jumlah peserta yang lolos verifikasi tersebut juga mengalami peningkatan dibandingkan OMI 2025 yang mencatat 202.117 peserta lolos verifikasi. 

Baca Juga: Daftar Kampus yang Terapkan PJJ akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, Mulai dari UI hingga ITERA

Artinya, jumlah peserta terverifikasi pada OMI 2026 meningkat sekitar 13,6 persen.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan, peningkatan jumlah peserta menunjukkan semakin kuatnya minat peserta didik terhadap ruang pengembangan bakat, kompetensi, dan prestasi yang disediakan melalui OMI.

“Peningkatan partisipasi ini tentu menjadi kabar baik bagi pendidikan madrasah dan pendidikan Indonesia secara keseluruhan. 

Bertambahnya peserta berarti semakin banyak potensi dan talenta anak bangsa yang berhasil kita identifikasi dan berikan ruang untuk berkembang,” ujar Amien Suyitno di Jakarta, dilansir dari laman resmi Kemenag, Senin, 7 September 2026.

Baca Juga: Tampilkan Karya Terbaikmu! WJJC 2026 Hadir sebagai Ajang Apresiasi Wartawan Jawa Barat

Menurut Amien, OMI tidak semata-mata dipandang sebagai kompetisi untuk menentukan pemenang. 

Lebih dari itu, OMI menjadi bagian dari ekosistem pembinaan prestasi peserta didik yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

“Kompetisi adalah salah satu pintu masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menemukan anak-anak yang memiliki potensi, kemudian memberikan pembinaan yang tepat agar potensi tersebut berkembang menjadi prestasi,” jelas Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang tersebut.

Peserta Sekolah Umum Naik 38,1 Persen

Salah satu perkembangan yang menonjol pada OMI 2026 adalah meningkatnya partisipasi peserta dari sekolah umum.

Baca Juga: PKB Jember Apresiasi Tambahan Dana Pusat Rp223 Miliar di P-APBD 2026, Desak Prioritas Infrastruktur dan Pesantren

Laporan pendaftar OMI 2026 mencatat sebanyak 13.271 murid sekolah umum dari jenjang SD, SMP, dan SMA ikut berpartisipasi.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan OMI 2025 yang mencatat 9.612 peserta sekolah umum. 

Dengan demikian, terdapat tambahan 3.659 peserta atau meningkat sekitar 38,1 persen.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan, peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa OMI semakin dikenal sebagai ajang kompetisi yang terbuka dan inklusif.

“OMI terus berkembang menjadi ruang kompetisi yang inklusif. Peserta tidak hanya berasal dari madrasah, tetapi juga dari sekolah umum. 

Baca Juga: Cegah Pemalsuan Identitas, Peran Daktiloskopi Memastikan Dokumen Akurat, Ditjen AHU: Sidik Jari Tak Bisa Dipalsukan

Ini menunjukkan bahwa semangat untuk berprestasi dan mengembangkan potensi tidak mengenal batas satuan pendidikan,” ujar Nyayu Khodijah.

Ia menambahkan, keterlibatan peserta sekolah umum menjadi bagian penting dalam memperluas ekosistem kompetisi dan pembinaan prestasi peserta didik.

“Kami ingin OMI menjadi ruang bersama untuk menemukan talenta-talenta terbaik. 

Karena itu, semakin luas partisipasinya, semakin besar pula peluang kita menemukan potensi peserta didik dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan,” jelas mantan Rektor UIN Raden Fatah tersebut.

Baca Juga: Isu Kelangkaan BBM Bikin Antrean SPBU Jember Mengular, Bupati Gus Fawait Desak Pertamina Evaluasi Jalur Distribusi

230 Ribu Peserta dari 34 Provinsi

OMI 2026 juga mencatat jangkauan partisipasi yang luas. Sebanyak 34 provinsi ikut berpartisipasi dengan total peserta mencapai 230.123 orang.

Data laporan juga menunjukkan keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan dalam penyelenggaraan OMI 2026.

Tiga provinsi dengan jumlah peserta terbanyak adalah Jawa Timur dengan 41.685 peserta, Jawa Barat sebanyak 32.446 peserta, dan Jawa Tengah sebanyak 30.518 peserta.

Ketiga provinsi tersebut menyumbang total 104.649 peserta atau sekitar 45,5 persen dari keseluruhan peserta OMI 2026.

Baca Juga: Masya Allah, Satelit BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Menjauhi Pulau Jawa dan Sumatera

Meski demikian, partisipasi OMI tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sejumlah provinsi di luar Jawa juga mencatat jumlah peserta yang cukup besar.

Sulawesi Selatan tercatat memiliki 12.850 peserta, disusul Sumatera Utara dengan 12.348 peserta dan Riau sebanyak 8.113 peserta.

Peserta Tersebar di Tiga Jenjang

Dari sisi jenjang pendidikan, peserta OMI 2026 juga tersebar di tingkat pendidikan dasar hingga menengah.

Sebanyak 69.351 peserta berasal dari jenjang MI/SD, kemudian 75.987 peserta dari MTs/SMP, dan 72.776 peserta dari MA/SMA.

Baca Juga: Fokus Berkendara Jadi Kunci Keselamatan, Hindari Aktivitas yang Mengalihkan Perhatian

Menurut Nyayu Khodijah, distribusi peserta tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan prestasi dilakukan secara berjenjang sejak pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

“Komposisi peserta di tiga jenjang yang relatif seimbang menunjukkan bahwa minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi tumbuh sejak pendidikan dasar. 

Ini menjadi modal penting untuk membangun pembinaan talenta yang berkelanjutan,” kata Direktur KSKK Madrasah.

OMI 2026 Jadi Ekosistem Pengembangan Talenta

Amien Suyitno menegaskan, peningkatan jumlah peserta OMI 2026 harus diikuti dengan peningkatan kualitas pembinaan.

Baca Juga: Kuliah Tatap Muka Bisa Dialihkan ke PJJ Imbas Abu Gunung Anak Krakatau, Ini Ketentuannya

Menurutnya, semakin banyak peserta yang mengikuti OMI berarti semakin besar pula potensi talenta yang dapat diidentifikasi dan dikembangkan.

“Pertumbuhan peserta harus kita maknai sebagai bertambahnya potensi talenta yang harus kita layani. 

Karena itu, tantangan kita ke depan bukan hanya menyelenggarakan kompetisi yang semakin baik, tetapi memastikan hasil kompetisi menjadi bagian dari proses pembinaan talenta secara berkelanjutan,” tutur Amien.

Ia berharap OMI dapat terus menjadi salah satu instrumen strategis Kementerian Agama dalam menemukan, mengembangkan, dan mengantarkan peserta didik madrasah maupun sekolah umum menuju prestasi yang lebih tinggi.

“Kita ingin OMI menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi madrasah dan peserta didik Indonesia yang memiliki karakter, kompetensi dan prestasi. 

Baca Juga: Rangkuman Materi TKA Matematika SMA, Pahami Peluang, Ruang Sampel hingga Penerapannya, Tantangan Banget!

Dari kompetisi ini kita berharap muncul talenta-talenta yang kelak mampu membawa nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

OMI Bidang Riset Diikuti Ribuan Peserta

Selain bidang Sains, OMI 2026 juga membuka kompetisi bidang Riset. Pada tahun ini, tercatat sebanyak 9.130 pendaftar untuk bidang tersebut.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.100 peserta telah mengajukan pendaftaran, sedangkan 1.030 lainnya masih berstatus draft.

Kasubdit Kesiswaan Solla Taufiq mengatakan, angka tersebut menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui kompetisi tingkat nasional.

“Angka ini menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui ajang kompetisi tingkat nasional,” imbuh Solla.

Baca Juga: JK Soroti Jutaan Sarjana Sulit Masuk Dunia Kerja, Singgung Kampus yang Terlalu Fokus Hafalan

Berdasarkan jenjang pendidikan, Madrasah Aliyah (MA) menyumbang 4.862 pendaftar, sedangkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebanyak 4.268 pendaftar.

Sementara itu, berdasarkan bidang riset, Integrasi Keislaman dan Keilmuan atau Ekoteologi menjadi bidang yang paling diminati dengan 3.553 pendaftar.

Bidang Sustainable Development Goals (SDGs) berada di posisi berikutnya dengan 3.384 pendaftar, sedangkan Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional mencatat 2.193 pendaftar.

“Komposisi tersebut memperlihatkan kecenderungan peserta mengangkat riset yang bersinggungan dengan persoalan lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab tantangan masa kini,” pungkas Solla. ***